PPKN

Suku Tionghoa: Sejarah – Ciri Khas dan Kebudayaannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Salah satu etnis yang ada di Indonesia, yaitu Suku Tionghoa. Berikut ini akan dijelaskan mengenai suku Tionghoa.

Pengertian Suku Tionghoa

Suku Tionghoa merupakan salah satu etnis yang terdapat di Indonesia. Kebudayaan etnis Tionghoa di Indonesia bukanlah suatu bentuk budaya tunggal dan homogen, melainkan budaya heterogen.

Dimana etnis Tionghoa di Indonesia merupakan kumpulan dari budaya-budaya yang berbeda di daerah Tiongkok yang kemudian teralkulturasi dengan kebudayaan Indonesia.

Suku Tionghoa menyebut diri mereka sebagai Tenglang (Hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongnyin (Hakka).

Sejarah dan Perkembangan Suku Tionghoa

Leluhur orang Tionghoa-Indonesia melakukan perjalanan sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perdagangan.

Kurun niaga 1450-1680 telah memngubah Asia Tenggara dan menjadikannya pemeran penting dalam perdagangan dunia.

Sebut saja cengkih, pala, lada, dan kayu cendana merupakan komoditas utama dalam perdagangan antarbenua.

Karena naiknya permintaan rempah-rempah dari Maluku di Laut Tengah, mengakibatkan armada Cina dikirim ke Asia Tenggara.

Tahun 1570-1630 adalah saat yang menguntungkan bagi perdagangan. Kemudian, aktivitas masyarakat Tionghoa di Nusantara juga berkembang.

Sebagian besar dari orang-orang Tionghoa di Indonesia menetap di pulau Jawa.

Masyarakat Tionghoa menetap dan menjadi koloni setelah mereka mampu beradaptasi dan diterima dengan masyarakat setempat. Koloni tersebut kemudian berkembang hingga menjadi pembauran.

Ciri Khas Suku Tionghoa

Sama halnya dengan kelompok etnis lainnya, masyarakat Tionghoa memiliki subgroup-subgrup yang masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri.

Tionghoa Jawa Tengah memiliki pola pikir sederhana, hemat. Mereka memiliki gaya bahasa Jawa yang masih kental.

Tionghoa Sumatra lebih suka berterus terang dan sangat percaya diri. Tionghoa Jawa Timur dikenal sangat pandai bergaul dan hangat dalam pertemanan.

Gaya bahasa jawa mereka pun masih sangat jelas. Tionghoa Medan dipandang sebagai orang-orang yang hangat, suka berbagi, suka bergaul, dan pekerja keras.

Tionghoa daratan memiliki ciri khas yaitu mereka yang lahir dan dibesarkan di Cina Daratan dan kemudian berpindah ke Indonesia ketika dewasa.

Pakaian Suku Tionghoa

Suku Tionghoa merupakan suku multi etnis. Terdapat timbal-balik di antara budaya masyarakat Tionghoa yang berbeda, sehingga memunculkan kekayaan dan peradaban baru.

Setiap dinasti mempunyai ciri khas dari wilayahnya, nilai, dan norma yang berbeda. Dinasti tersebut juga memiliki banyak jenis busana Tionghoa.

Diantaranya, yaitu hanfu, samfoo, shanghai, cheongsam, dan tangzhuang.

Hanfu

Hanfu berasal dari bahasa Cina yang memiliki makna ‘pakaian orang Han’. Han merupakan salah satu dinasti yang pernah makmur di Negara Tiongkok.

Hanfu sudah ada sejak 4000 tahun yang lalu. Sampai Dinasti Han, Hanfu terus dijaga oleh kalangan yang berkuasan saat itu hingga menjadikannya sebagai pakaian nasional suku Han.

Samfoo

Samfoo biasanya digunakan sebagai pakaian sehari-hari di kalangan orang Tionghoa Selatan, Hongkong, dan Singapura sampai pertengahan abad ke-20.

Berasal dari kata ‘Sam’ yang berarti pakaian atas yang memiliki kancing depan. Sementara ‘Fu’ yang merupakan celana longgar dengan ikat pinggang lebar yang diikat di pinggang.

Bahan pembuatan Samfoo berasal dari rami dan kapas yang diwarnai dengan warna gelap (hitam atau biru).

Shanghai

Busana Shanghai memiliki kerah yang lebih tinggi dan terpisah di bagian depan. Pembuatan busana ini menggunakan kain yang halus.

Mode gaya pakaian Shanghai dikembangkan pada pertengahan tahun 1900 dan mendapatkan pengaruh dari budaya orang barat.

Masyarakat Tionghoa biasanya memadukan warna pada Shanghai sesuai dengan musim yang berlangsung.

Misalnya, warna hijau melambangkan musim semi, merah melambangkan musim panas, putih musim gugur, dan hitam melambangkan musim dingin.

Cheongsam

Busana yang berkembang pada tahun 1920-an ini cepat menjadi tren busana untuk dunia hiburan seperti pembuatan film.

Cheongsam awalnya digunakan dari penggulingan Dinasti Qing dam pendirian Republik Cina pada tahun 1912.

Saat itu, terdapat gerakan masyarakat demokratis yang berbasis pada pendidikan dan emansipasi perempuan.

Saat awal tahun 1920 para guru dan mahasiswa perempuan mulai melepaskan tradisi lama dan mengangkat gaya berbusana baru dengan cheongsam.

Sistem Kepercayaan Suku Tionghoa

Sistem kepercayaan suku Tionghoa diwarisi oleh tradisi kuat pada empat sumber, yaitu penyembahan pada alam dan roh-roh nenek moyang, agama taoisme, confusianisme, dan buddhisme.

Bahasa yang digunakan Suku Tionghoa

 Selain kepercayaan, terdapat pula bahasa yang digunakan oleh suku Tionghoa. Mereka biasanya menggunakan salah satu bentuk bahasa Tionghoa sebagai penutur asli.

Untuk bahasa lisan, terdapat beberapa macam bahasa yang digunakan antara lain, bahasa Hokkien, bahasa Hakka, bahasa Tiochiu, bahasa Khek dan bahasa Mandarin.

Penggunaan beraneka ragam bahasa terjadi dikarenakan nenek moyang etnis Tionghoa yang berasal dari Cina terdiri atas berbagai suku yang berbeda-beda.

Mata Pencaharian Suku Tionghoa

Mata pencaharian suku Tionghoa biasanya dalam hal perdagangan. Pada masa kolonial Belanda, mayoritas pekerjaan yang digeluti etnis Tionghoa adalah berdagang.

Perdagangan merupakan tempat yang digunakan untuk saling berkomunikasi, bergaul, dan membangun relasi.

Kesenian Suku Tionghoa

Kesenian suku Tionghoa diantaranya yaitu, tarian naga, kesenian merubah wajah (bian lian), tarian kipas, dan opera peking.