Sejarah

Sejarah Kesultanan Banten : Asal Usul, Masa Kejayaan, dan Peninggalannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Pulau Jawa merupakan salah satu pusat penyebaran agama islam pada masa itu. Hal ini terbukti dengan banyaknya berdiri kerajaan Islam di pulau Jawa. Selain itu, faktanya sebagian besar penduduk pulau Jawa memeluk agama islam. Hal ini tidak lepas dari peran kerajaan islam atau biasa dikenal dengan kesultanan.

Salah satunya adalah Kesultanan Banten. Kesultanan Banten merupakan kerajaan islam yang berdiri di wilayah barat Pulau Jawa. Kesultanan Islam adalah bukti dari kekuataan kerajan islam. Hal ini dikarenakan wilayah ini ditaklukkan oleh dua kerajaan islam pada masa itu yakni Kesultanan Demak dan Cirebon.

Berkat keduanya, Kesultanan Banten berdiri dan menanamkan pengaruhnya ke berbagai wilayah. Bahkan pada saat itu, kerajaan ini menjadi salah satu pusat perdagangan nusantara yang mempertemukan beragam etnis.

Berikut ini penjelasan mengenai Kesultanan Banten.

Asal usul Kesultanan Banten

Kesultanan Banten merupakan kerajaan islam yang berada di Pulau Jawa. Kesultanan Banten didirikan sekitar abad ke-16. Berdirinya Kesultanan Banten dilatarbelakangi oleh kemenangan kerajaan Cirebon dan Demak dalam melawan Portugis dari wilayah Sunda Kelapa.

Islam menanamkan pengaruhnya di Nusantara lewat cara damai. Oleh karena itu, Islam dapat diterima di kalangan masyarakat. Padahal ketika itu, pengaruh kerajaan Hindu Buddha begitu kuat. Perkembangan penyebaran agama Islam di nusantara berkembang pesat.

Hal ini dikarenakan beberapa kerajaan islam telah berdiri. Dengan menanamkan pengaruhnya, islam dapat cepat menyebar ke seluruh nusantara. Islam menyebarkan agama dibantu oleh peranan wali Songo. Di mana salah satu wali Songo juga berperan untuk mendirikan Kesultanan Banten.

Sebelum menjadi wilayah kerajaan, dahulunya Banten menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran. Dulunya, Pajajaran menjalin hubungan kerja sama dengan Portugis untuk bisa melawan kedatangan Kerajaan Demak yang mulai menginvasi wilayah Jawa Barat.

Namun, sayangnya usaha yang dilakukan oleh Pajajaran ini gagal. Portugis dapat didepak dari Banten oleh tentara gabungan yang dipimpin oleh Fatahillah. Begitupun dengan wilayah pelabuhan yang sudah dikuasai oleh Fatahillah. Fatahillah atau Sunan Gunung Djati kemudian tinggal di Banten dan mendirikan sebuah pemerintahan.

Namun, pada tahun 1552, Fatahillah kembali ke wilayah Cirebon dan wilayah Banten diserahkan kepada anaknya yakni Maulana Hasanuddin. Maulana Hasanuddin kemudian dinobatkan menjadi raja pertama dari Kesultanan Banten.Maulana Hasanuddin mengembangkan wilayah ini menjadi pusat perdagangan internasional.

Saat menaklukkan Banten, Sultan Maulana Hasanuddin juga ikut berperan menaklukkan wilayah Teluk Banten. Setelah menaklukkan Teluk Banten, Sultan Maulana Hasanuddin kemudian membentuk benteng pertahanan yang dinamakan dengan Surosowan.

Surosowan ini dibangun pada tahun 1552. Surosowan kemudian berkembang menjadi sebuah kota di wilayah pesisir hingga dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Kesultanan Banten pernah terlibat dalam perdagangan internasional dengan beberapa komoditas utama seperti lada.

Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada akhir abad ke-16 hingga ke-17. Hampir 3 abad lamanya, Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya. Namun, di waktu yang bersamaan, Kesultanan Banten mulai didatangi oleh penjajah dari Eropa. Pada akhir abad ke-17, para penjajah dari Eropa mulai menjajaki kaki di Kesultanan Banten.

Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya perang saudara serta persaingan yang merebutkan sumber daya di wilayah global. Akibatnya, kekuasaan Kesultanan Banten semakin melemah. Pada tahun 1813, Istana Surosowan dihancurkan.

Hal ini juga menandakan kehancuran dari Kesultanan Banten. Kesultanan Banten akhirnya dianeksasi oleh VOC Belanda. Di akhir masa pemerintahan, Raja-raja Kesultanan Banten tak lebih dari bawahan pemerintahan VOC Belanda.

Masa Kejayaan Kesultanan Banten

Puncak kejayaan Kesultanan Banten terjadi sekitar abad ke-16. Kesultanan Banten memiliki latar belakang sebagai kesultanan Maritim. Kesultanan Banten juga mengandalkan sektor perdagangan untuk kegiatan ekonominya.

Saat itu, Kesultanan Banten menjadi pusat perdagangan. Hal ini dikarenakan adanya monopoli yang dilakukan oleh Kesultanan Banten atas lada yang berasal dari Lampung. Akibatnya, Kesultanan Banten menjadi pedagang perantara sehingga kesultanan ini berkembang pesat.

Dengan menjadi pusat perdagangan membuat wilayah Banten memiliki banyak etnis. Banten banyak melakukan kerja sama dagang dengan India, Persia, hingga Tiongkok dan Jepang. Masa Kejayaan Kesultanan Banten berada di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Saat beliau menjabat, Banten memiliki angkatan armada yang kuat. Angkatan armada ini sengaja dibangun dengan mempekerjakan orang-orang dari Eropa. Jadi, tidak heran jika angkatan armada Kesultanan Banten begitu mengesankan.

Pada tahun 1661, Kesultanan Banten mengirimkan armadanya ke wilayah Sukadana untuk mengamankan jalur perdagangan. Kesultanan Banten menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah di wilayah Asia Tenggara.

Wilayah Kesultanan Banten tergolong ke dalam wilayah strategis yakni menghadap ke selat Sunda. Hal ini kemudian dimanfaatkan dengan menjadikan Kesultanan Banten sebagai pelabuhan. Pelabuhan ini menjadi tempat singgah bagi perdagangan internasional.

Dengan memiliki wilayah pelabuhan membuat Kesultanan Banten mempunyai banyak pendapatan dari perdagangan internasional. Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain.

Seperti Inggris dan Portugis. Masa kejayaan Kesultanan Banten ketika itu terkenal dengan perkembangan seni dan budaya. Banten dikenal sebagai wilayah yang memiliki seni keramik yang indah. Salah satu contoh seni keramik yang berasal dari Kesultanan Banten adalah tembikar berglazur yang terkenal dengan keindahannya.

Masa Keruntuhan Kesultanan Banten

Salah satu penyebab dari keruntuhan Kesultanan Banten adalah karena adanya invasi dari Belanda. Apalagi ketika itu, Kolonial Belanda mengamankan beberapa wilayah penting di Batavia. Dari sinilah kemudian muncul perjanjian panarukan yang dibuat oleh VOC Belanda.

Di mana salah satu isi perjanjiannya adalah Kesultanan Banten mengakui kekuasaan VOC di wilayah Banten. Dengan adanya perjanjian ini menjadikan Kesultanan Banten berada di bawah pengaruh Kolonial Belanda.

Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa begitu gigih untuk mendorong Belanda ke luar dari wilayah Kesultanan Banten. Akibat dari kegigihan Sultan Ageng Tirtayasa membuat Belanda melakukan berbagai cara. Salah satunya adalah melakukan politik adu domba.

Belanda melakukan adu domba antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan sang anak yang bernama Sultan Haji. Ketika itu keduanya tengah terlihat konflik. Pihak belanda sengaja memanfaatkan momen ini untuk melakukan adu domba.

Sultan Haji berhasil ditipu daya oleh Belanda dan menjadi pihak dari Belanda. Akibat kerja sama ini, pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa dilakukan penangkapan. Ia dipaksa untuk memberikan kekuasaannya kepada Sultan Haji.

Dengan ditangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Haji kemudian diangkat menjadi raja. Meskipun begitu, pengaruh Belanda ketika itu semakin kuat karena adanya perjanjian Banten. Adanya perjanjian ini Banten kehilangan kedaulatan dan rakyat mengalami banyak penderitaan akibat VOC Belanda.

VOC semakin ikut terlibat dalam urusan Kesultanan Banten bahkan ikut memonopoli beberapa wilayah yang diekspansi oleh Kesultanan Banten. Tidak lama Sultan Haji meninggal dunia dan VOC semakin menjadi-jadi. Hal ini membuat pengaruh Kesultanan Banten semakin memudar.

Selain invasi yang dilakukan oleh Belanda, penyebab lainnya adalah karena adanya perselisihan di dalam kerajaan. Akibat dari adanya perselisihan ini menjadikan daerah Kesultanan Banten terbagi menjadi dua yakni Kesultanan Banten Girang dan Lama. Setelah adanya beberapa pertempuran, Belanda berhasil menguasai Kesultanan Banten.

Pada tanggal 18 November 1832, Kesultanan Banten diserahkan kepada Kolonial Belanda. Di mana yang menyerahkan kekuasaan ketika itu adalah Muhammad Syarifuddin. Dengan begitu, masa berdirinya Kesultanan Banten telah runtuh digantikan oleh Kolonial Belanda. Belanda berhasil menguasai daerah Banten dan menggantikan kepemimpinan Kesultanan Banten.

Peninggalan Kesultanan Banten

  1. Masjid Agung Banten

Salah satu peninggalan dari Kesultanan Banten adalah Masjid Agung Banten. Masjid Agung Banten terletak di Banten Lama, Kecamatan Kasemen. Masjid ini dibangun pada tahun 1556 saat Sultan Maulana Hasanuddin memerintah.

Masjid Agung Banten memiliki gaya arsitektur khas Jawa kuni dengan beberapa perpaduan kebudayaan dari luar seperti Eropa, Arab, Belanda, India hingga Tiongkok. Salah satu ciri khas dari bangunan bersejarah ini adalah bentuk menara yang menyerupai bentuk mercusuar. Hingga saat ini, peninggalan Kesultanan Banten ini masih dikunjungi oleh banyak orang.

  1. Benteng Speelwijk

Peninggalan Kesultanan Banten selanjutnya adalah Benteng Speelwijk. Benteng ini merupakan pusat pertahanan dari Kesultanan Banten pada masa itu. Benteng Speelwijk dibangun pada tahun 1585 serta memilki tinggi sekitar 3 meter.

Pada saat itu, fungsi dari Benteng Speelwijk untuk menghalau serangan yang berasal dari serangan laut karena pada saat itu Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim. Di dalam wilayah Benteng Speelwijk terdapat beberapa meriam yang diperkirakan digunakan sebagai senjata pada masa itu.

Selain itu, terdapat pula mercusuar. Di benteng ini pula terdapat sebuah terowongan yang menghubungkan antara benteng dengan istana keraton Surosowan.

  1. Istana Surosowan

Istana Surosowan menjadi bukti bahwa Kesultanan Banten pernah berdiri di tanah Banten. Seperti istana pada umumnya, Istana Surosowan memiliki fungsi sebagai tempat tinggal para raja. Selain itu, istana ini juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banten.

Istana Surosowan dibangun ketika Sultan Maulana Hasanuddin memerintah yakni sekitar 1522 hingga 1526. Untuk membangun istana kerajaan, Sultan Hasanuddin meminta bantuan arsitektur yang berasal dari Belanda. Saat ini, Istana Surosowan hanya tersisa reruntuhan yang berupa dinding serta pondasi kamar.

  1. Meriam Ki Amuk

Peninggalan selanjutnya dari Kesultanan Banten adalah meriam ki Amuk. Keberadaan meriam tidak bisa dipisahkan dari sebuah kerajaan karena biasanya digunakan sebagai senjata. Diperkirakan meriam ini dibuat pada abad ke-16 dan berasal dari daerah Jawa Tengah. Ketika itu, meriam Ki Amuk termasuk meriam yang memiliki daya ledak yang cukup tinggi.

Meriam Ki Amuk adalah pemberian dari Sultan Demak yakni Sultan Ageng Trenggana. Meriam ini diberikan kepada Sultan Maulana Hasanuddin sebagai hadiah pada tahun 1527. Saat ini, keberadaan Meriam Ki Amuk berada di depan masjid Agung Bangen.

  1. Vihara Avalokitesvara Banten

Vihara Avalokitesvara merupakan peninggalan dari Kesultanan Banten. Keberadaan Vihara Avalokitesvara menjadi bukti bahwa pada saat itu toleransi Kesultanan Banten begitu tinggi. Padahal ketika itu Kesultanan Banten merupakan kerajaan yang memiliki corak islam.

Vihara Avalokitesvara adalah tempat ibadah bagi kaum buddha yang hingga saat ini masih ada. Bahkan bangunan ini masih kokoh dan terawat dengan baik. Salah satu keunikan dari Vihara Avalokitesvara adanya relief pada dinding yang menceritakan mengenai siluman ular putih.

  1. Istana Keraton Kaibon

Selain Istana Surosowan, Kesultanan Banten juga memiliki Istana Keraton Kaibon. Istana ini dahulunya merupakan tempat tinggal dari ibu raja. Tepatnya ketika masa Sultan Syarifuddin. Ibunya yakni yang bernama Aisyah ketika itu tinggal Istana Keraton Kaibon.

Kaibon sendiri memiliki arti keibuan. Hal ini seolah menunjukkan fungsi dari bangunan bersejarah ini. Terdapat keunikan dari bangunan bersejarah ini yakni Istana Keraton Kaibon seolah dibangun di atas air.

Hal ini dikarenakan semua jalur masuk baik melalui pintu depan maupun belakang harus lewat air. Pada tahun 1832, Istana Keraton Kaibon dihancurkan oleh Belanda. Penyebabnya adalah adanya pertentangan di antara Belanda dan Sultan Syarifuddin.