Sejarah

10 Pahlawan Nasional dari Jawa Tengah Beserta Biografinya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Jawa Tengah termasuk provinsi yang menyumbangkan pahlawan nasional paling banyak. Bahkan banyak tokoh-tokoh penting yang lahir dari tanah Jawa Tengah. Lalu, siapa saja pahlawan nasional dari Jawa Tengah? Selengkapnya akan kita bahas berikut ini.

1. Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman nama yang tak asing lagi di telinga, sebab namanya kerap hilir mudik di dalam buku sejarah. Ia dilahirkan di Bodas, Karangjati, Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916. Saat ia berusia 31 tahun, ia sudah diangkat menjadi seorang jenderal. Meskipun memiliki sakit paru-paru, hal itu tak menyurutkan semangat Jenderal Soedirman untuk berjuang melawan penjajahan Belanda.

Sebelum aktif menjadi seorang Jenderal, Soedirman dulunya merupajan seorang guru HIS di Cilacap dan aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. Ia pernah bergabung ke dalam PETA saat masa kependudukan Jepang. Baru setelahnya ia menjabat sebagai Komandan Batalyon di Kroya.

Saat Tentara Keamanan Rakyat atau TKR sudah terbentuk, ia terpilih menjadi panglima divisi V/Banyumas. Tidak hanya itu, kiprahnya di dunia tentara terus cemerlang dengan terpilihnya menjadi Panglima Angkatan Perang RI, yang di mana saat itu sebagai panglima pertama dan jenderal termuda di Indonesia. Peranannya dalam mempertahankan NKRI tidak bisa diragukan lagi. Ia kerap aktif dalan berbagai peperangan baik melawan penjajah maupun pemberontak. Sayangnya, kontribusinya pada negara harus terhenti karena ia meninggal pada tanggal 29 Januari 1950 di Magelang.

2. Dr. Tjiptomangunkusumo

Dr. Tjiptomangunkusumo merupakan salah satu dari anggota “Tiga Serangkai”. Ia bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara tergabung ke dalam Tiga Serangkai. Dr. Tjiptomangunkusumo lahir pada tahun 1886 di Pecangakan, Ambarawa, Jepara, Semarang. Selain tergabung ke dalam Tiga Serangkai, ia juga merupakan tokoh dari Indische Partij dan anggora Volksraar. Ia pernah diasingkan pada tahun 1913 bersama temannya ke Belanda. Kemudian, ia kembali dibunag pada tahum 1927 oleh pemerintah Belanda. Bedanya kali ini ia dibuang ke Banda. Dr Tjiptomangunkusumo kemudian wafat pada tanggal 8 Maret 1943 di Ambarawa.

3. Samanhudi

Pahlawan selanjutnya dari Jawa Tengah adalah Samanhudi. Laki-laki yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi ini lahir pada tahun 1868 di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Samanhudi merupakan seorang pendiri Serikat Dagang Islam. Serikat Dagang Islam pada mulanya dibentuk untuk menjadi wadah bagi para pengusaha batik yang ada di Surakarta.

Sejarah pembentukan Serikat Dagang Islam berawal karena ia merasa ada perbedaan perlakuan yang dilakukan oleh penguasa Hindua Belanda kepada pedagang pribumi yang mayoritas beragama islam dengan pedagang Tionghoa. Keresahan inilah yang kemudian membuat dirinya mendirikan Serikat Dagang Islam pada tahun 1911 dan berganti menjadi Serikat Islam. Samanhudi menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 28 Desember 1955 di Klaten.

4. Raden Ajeng Kartini

Siapa yang tak kenal dengan sosok perempuan yang memerjuangkan emansipasi wanita. Ia adalah Raden Ajeng Kartini. Perempuan luar biasa ini lahir pada tanggal 21 April 1897 di Jepara, Jawa Tengah. Ia merupakan seorang keturunan dari bangsawan yang masih patuh pada adat istiadat setempat. Masyarakat di sekitarnya masih memegang teguh tradisi termasuk pandangan sebelah mata terhadap perempua. Ia tidak diizinkan melanjutkan sekolah dan akan dinikahkan setelah lulus dari sekolah dasar.

Meskipun begitu, RA Kartini tidak berdiam diri saja menerima keadaan. Ia memberontak dengan tradisi-tradisi yang dinilainya merendahkan derajat perempuan. Menurutnya, perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Di waktu senggangnya, ia kerap menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan mengirimkan surat kepada teman-temannya yang ada di Eropa sana. Kemudian, surat-surat ini dibukukan oleh Mr. J Abendanon dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini diterbitkna pada tanggal 17 september 1904 setelah kematian RA Kartini. Berkat jasa-jasanya, ia dinobatkan menjadi salah satu tokoh pahlawan nasional perempuan di Indonesia.

5. Jenderal Gatot Subroto

Nama Jenderal Gatot Subroto tentunya sudah tak asing lagi. Selain namanya, kerap muncul di buku sejarah, nama beliau juga diabadikan di berbagai bangunan dan nama jalan. Jenderal Gatot Subroto lahir pada tanggal 10 Oktober 1907 di Banyumas. Ia pernah mengemban pendidikan di sekolah militer KNIL. Ia juga pernah merasakan pendidikan PETA di Bogor dan kemudian masuk TKR sebagai panglina Divisi II.

Sebelum menjadi panglima TNI, ia pernah menjabat sebagai korps polisi militer dan Gubernur Militer Surakarta. Peranannya dalam memerjuangkan kemerdekaan tak diragukan lagi. Ia kerap terlibat dalam pemberontakan. Jenderal Gatot Subroto meninggal dunia pada tanggal 11 Juni 1962 di Jakarta.

6. Jenderal TNI Anm. Achmad Yani

Jenderal TNI Anm. Achmad Yani lahir pada tanggal 19 Juni 1922. Ia merupakan seorang komandan TNI Angkatan Darat. Ia pernah mengikuti wajib militer Hibdia Belanda pada tahun 1940. Ia juga pernah bergabung dalam PETA pada tahun 1943. Peranannya dalam memerjuangkan NKRI tak dapat dipertanyakan lagi. Bahkan ia rela menukarnya dengan nyawanya sendiri.

Jenderal Ahmad Yani menjadi salah satu korban dari keganasan G 30 SPKI. Ia meninggal dunia dalam peristiwa pembantaian keji tersebut. Jasadnya dimakamkan di lubang buaya pada tanggal 1 Oktober. Oleh karena perjuangannya inilah ia dikenal sebagai Pahlaaan Revolusi.

7. Jenderal Oerip Soemohardjo

Jenderal Oerip Soemohardjo atau Muhammad Sidik lahir di Sindurjan Purworejo pada tanggal 22 Februari 1893. Ia merupakan seorang jenderal dan Kepala Staff TNI pertama pada era Revolusi. Ia juga pernah menjabat sebagai Letnan KNIL selama hampir 25 tahun lamanya sehingga ia menjadi perwira pribumi yang memiliki pangkat tertinggi di KNIL.

Pada tahun 1938, setelah mengalami perselisihan dengan Bupati Purworejo, ia mengundurkan diri. Namun, dua tahun kemudian ia dipanggil kembali untuk bertugas. Sayangnya, dua tahun setelah pemanggilan itu, ia ditangkap dan ditahan di kamp tawanan perang selama 3 setengah bulan lamannya. Jenderal Oerip Soemohardjo tutup usia pada usia 55 tahun atau tepatnya pasa tanggal 17 November 1948.

8. Dr. Muwardi

Dr Muwardi lahir pada tahun 1907 di Desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah. Ia pernah mengenyam pendidikan di STOVIA dengan mengambil spesialisasi THT. Tidak seperti isu yang beredar di masyarakat bahwa dokter itu hanya bergaul dengan kalangan atas saja. Dr. Muwardi justru lebih senang bergaul dengan kalangan bawah. Ia bahkan menjadi pendiri kepanduan baru di Jakarta yang nantinya menjadi cikal bakal Pramuka.

Tidak hanya itu, ia juga menjadi Ketua Barisan Pelopor di Surakarta, mendirikan sekolah kedokteran dan gerakan rakyat untuk melawan PKI. Sayangnya, karena dianggap berbahaya ia dikabarkan hilang pada peristiwa Madiun tahun 1948 dan diduga dibunuh oleh pemberontak.

9. Sri Susuhan Pakubuwono VI

Sri Susuhan Pakubuwono VI merupakan Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahum 1823-1830. Ia merupakan pendukung Pangeran Diponegoro secara rahasia. Hal ini dikarenakan sebelumnya beliau sudah terikat perjanjian dengan Belanda. Sehingga kemudian ia melakukan aksi ganda dengan berpura-pura membantu Belanda untuk mengelabui dukungannya pada Pangeran Diponegoro. Namun, Belanda akhirnya curiga dan menangkap serta membuangnya ke Ambon pada tahun 1830. Setelah penangkapan itu, tahta kasunanan diserahkan kepada pamannya.

10. Sukardjo Wirdjopranoto

Beliau lahir pada tanggal 5 Juni 1903 di Kesugihan Cilacap, Jawa Tengah. Ia pernah mengenyam pendidikan di sekolah hukum dan semoat bekerja si pengadilan negeri. Peranannya dalam memerjuangkan kemerdekaan adalah bergabung menjadi anggora Volksraad dan mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai perwakilan tetap Indonesia di PBB. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Amerika Serikat pada tahun 1962.

Itulah ulasan mengenai pahlawan-pahlawan yang terlahir di tanah Jawa Tengah. Rupanya, Jawa Tengah menjadi lumbung lahirnya para jenderal-jenderal hebat seperti Jenderal Soedirman, Jenderal Oerip Soemonardjo, Jenderal Ahmad Yani, dan Jenderal Gatot Subroto. Mereka adalah garda terdepan pertahanan NKRI pada saat penjajahan Belanda dan Jepang. Mereka yang rela dan siap pasang badan melindungi masyarakat.

Tidak hanya melahirkan Jenderal hebat dan pemberani, Jawa Tengah juga banya melahirkan tokoh-tokoh hebat dan terkenal seperti Samanhudi, Raden Ajeng Kartini, Dr Tjiptomangunkusumo dan masih banyak lagi tokoh-tokoh hebat dari Jawa Tengah. Para orang-orang hebat ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi keselamatan NKRI sehingga kita bisa merasakan kedamaian di hari ini.

Dengan berbagai upaya yang dilakukannya baik tenaga, materi, gagasan bahkan nyawa sekalipun mereka siap berikan untuk memerjuangkan NKRI. Hal itulah yang seharusnya menjadi contoh bagi kita untuk senantiasa mencintai dan menjaga nama baik NKRI ini. Sudah sepantasnya dengan melihat perjuangan para tokoh-tokoh pahlawan membuat semangat nasionalisme dan patriotisme kita berkobar.