Sejarah

8 Peninggalan Kerajaan Kotawaringin

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Berdasarkan Kakawihan Negarakertagama yang ditulis pada tahun 1365, menyatakan bahwa Kotawaringin adalah salah satu negeri di bagian negara Tanjung Nagara (Kalimantan/Filipina) yang memiliki ibu kota di Tanjung Pura. Kerajaan Kotawaringin merupakan salah satu kerajaan dengan memiliki bentuk kesultanan. Kerajaan ini merupakan anak dari kesultanan Banjar.

Semula, terjadi perebutan kekuasaan atas kesultanan Banjar yang dilakukan oleh Pangeran Adipati Tuha dan Pangeran Adipati Kusuma. Mereka kemudian melakukan peperangan dan dimenangkan oleh Pangeran Adipati Tuha.

Kemudian, pangeran Adipati Anta Kusuma melarikan diri ke sebuah wilayah dan membangun sebuah kerajaan baru yakni Kotawaringin. Kemudian dengan dibantu oleh Kyai Gede, kerajaan Kotawaringin dapat berdiri dan menjalankan roda pemerintahan.

Namun, adapula yang menyebutkan bahwa kerajaan Kotawaringin merupakan pecahan dari Kesultanan Banjar yang diberikan oleh Pangeran Mustain Billah kepada Putranya. Awalnya, Kotawaringin merupakan sebuah kadipaten yang dikepalai oleh Mustain Billah.

Oleh Mustain Billah, wilayah tersebut diberikan kepada anaknya yakni Pangeran Anta Kusuma dan dibangun sebuah kerajaan bernama Kerajaan Kotawaringin. Menurut Hikayat Banjar, wilayah kerajaan Kotawaringin adalah semua desa-desa yang berada di sebelah barat Banjar sampai Sungai Jelai.

Sama seperti kerajaan lainnya, kerajaan Kotawaringin meninggalkan banyak peninggalan sejarah. Adapun peninggalan dari kerajaan yang berada di Kalimantan Tengah ini adalah sebagai berikut.

1. Astana Al-Nursari

Astana Al-Nursari merupakan salah satu peninggalan kerajaan Kotawaringin. Bangunan bersejarah ini berada di Jl Merdeka, Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah atau sekitar 150 meter berada di sebelah barat tepi sungai Lamandau. Astana diperkirakan didirikan pada tahun 1867 Masehi oleh Sultan Pangeran Palu Sukma Negara.

Adapun fungsi dari Astana ini adalah buka sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal para raja, melainkan tempat tinggal kaum bangsawan keturunan raja Kotawaringin yang masih menetap di Kotawaringin lama setelah adanya pemindahan pusat kerajaan.

Pada awalnya keberadaan kesultanan Kotawaringin adalah perebutan kekuasaan Kesultanan Banjar antara Pangeran Adipati Tuha dan Pangeran Anta Kusuma. Kemudian pertempuran ini dimenangkan oleh Pangeran Adipati Tuha sehingga Pangeran Adipati Kusuma pergi meninggalkan kesultanan Banjar.

Lalu, Pangeran Anta Kusuma menemukan wilayah baru dan mendirikan kerajaan yang bernama Kesultanan Kotawaringin. Pada saat pembentukan serta menjalankan roda pemerintahan, Pangeran Anta Kusuma dibantu oleh seorang Mangkubumi bernama Kyai Gede.

Pada saat mencapai masa kejayaan, muncul kebijakan dari Negara Induk yakni Kesultanan Banjar menyerahkan Kesultanan Kotawaringin pada Belanda. Hal ini merupakan imbas balas Budi atas bantuan Belanda pada saat peperangan Kesultanan Banjar. Peralihan kekuasaan pun terjadi dan menyebabkan banyak dampak khususnya pada bidang perekonomian dan pemerintahan.

Akibatnya terjadi pemindahan pusat pemerintahan yang semula dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan abu di Istana Kuning. Perpindahan kekuasaan ini terjadi pada masa Sultan yang ke IX yakni Pangeran Ratu Imanuddin.

Bangunan Astana Al-Nursari berbentuk seperti rumah panggung persegi empat panjang yang terbuat dari kayu Ulin. Rumah ini terdiri dari 3 buah bangunan yang dikaitkan dengan Selasar yang menyatu dengan atap. Di antara pertemuan atap bangunan, terdapat sebuah talang air yang dibuat dari kayu Ulin yang dibelah menjadi dua dan dilubangi pada bagian tengah untuk tempat saluran air hujan.

Untuk ukuran tinggi lantai bangunan yakni sekitar 190 cm dari permukaan tanah. Sementara itu, model pintu dan jendela bangunan menggunakan daun pintu ganda dengan sumbu kayu dan poros samping ditambah teralis kayu.

Atap bangunan Astana Al-Nursari memiliki bentuk seperti pelana kuda yang dicampur dengan bentuk perisai dan menggunakan atap sirap dari kayu Ulin. Pada samping kiri bangunan ada Pa’agongan yang memiliki ukuran 7 x 2,5 meter. Bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda pusaka kerajaan.

Pada bagian depan Astana Al-Nursari terdapat Balai Buntar yakni serupa teras tanpa dinding dengan memiliki ukuran 8,5 x 7,6 cm yang digunakan untuk menerima tamu. Adapula balai bangsal, tempa untuk menerima tamu dan ruang pertemuan.

Terakhir ada balai burung yang memiliki fungsi sebagai ruang penghubung antara balai bangsa dan umah bosar. Balai burung memiliki bentuk lorong panjang, di mana pada bagian selatan bangunan terdapat teras dan tangga kayu sebagai jalan masuk para keluarga kerajaan ke umah bosar tanpa harus lewat pintu depan.

Umah bosar adalah ruang inti dari bangunan Astana Al-Nursaei yang berfungsi sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan keturunan raja. Umah bosar memiliki ukuran sekitar 15,8 x 12,7 meter. Adapula pedaporan yang berfungsi sebagai dapur dan memiliki ukuran 14x 9,6 cm.

Saat ini, bangunan bersejarah ini dijadikan salah satu objek wisata sejarah yang ada di Kalimantan Tengah. Kondisi bangunan masih tetap dipertahankan meskipun telah dilakukan pemugaran.

2. Istana Kuning

Istana kuning adalah istana kerajaan yang berada di tengah kota Pangkalan Bun dan bersebrangan dengan lapangan tugu. Istana ini digunakan tempat tinggal raja setelah adanya pemindahan pusat kekuasaan yang semula dari Kotawaringin menjadi Pangakalan Bun.

Bangunan bersejarah ini memiliki 4 buah bangunan yang terdiri atas bangsal sebagai tempat penerimaan tamu kerajaan, rumbang sebagai tempat untuk raja bersemedi, dalam kuning sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja, terakhir Pedahiran sebagai ruang makan kerajaan.

Pada tahun 1986, istana ini dibakar oleh seorang wanita yang bernama Draya. Kejadian tersebut telah menghanguskan bangunan dan tak menyisakan apa-apa. Hal inilah yang membuat salah satu peninggalan kerajaan Kotawaringin hilang.

Kemudian pada tahun 2000-an, pemerintah membuat replika istana. Replika istana kuning berhasil dibangun kembali namun belum diisi dengan apa-apa, menunggu dari Ditjen Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

3. Komplek Makam Kerajaan

Peninggalan kerajaan Kotawaringin selanjutnya adalah komplek makam kerajaan. Komplek makam kerajaan ini berada di Desa Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Komplek makam ini terdiri dari komplek makam kuta tanah dan beberapa makam Sultan yang tersebar di beberapa tempat. Saat ini, kondisi komplek makam terbagi menjadi dua karena jalan desa dan kondisi nya tidak terawat.

Komplek makam Kuta tanah sendiri adalah makam Sultan kedua belas dan kerabat yang berada di sebelah barat komplek Astana Al-Nursari. Bentuk makam ini berada dalam sebuah cungkup. Di mana kondisi di sekitar makam sudah tidak terawat bahkan kotor. Untuk membersihkan dan mengembalikan makam, pada ahli waris melakukan pemugaran pada makam ini.

Berdasarkan informasi dari ahli waris makam dan juru pelihara situs Kotawaringin lama, makam para sultan di kerajaan Kotawaringin tersebar di beberapa tempat. Ada yang berdekatan dengan makam Kiai gede, salah satu sosok yang membantu pangeran Anta saat masa pembentukan kerajaan. Adapula pula yang berada di samping jalan desa di tengah pemukiman.

Makam Sultan ketiga sampai dengan Sultan ketujuh berada di sebelah barat komplek makam kura tanah. Lebih jelasnya posisi makam Sultan ketiga sampai Sultan kelima kerajaan Kotawaringin ini saling bersebelahan. Sedangkan makam Sultan keenam berada di sekitar 7 meter ke arah selatan dari keberadaan makam Sultan kelima.

Makam Sultan ketujuh berada sekitar tiga puluh meter dari makam Sultan keenam. Kondisi makam para sultan ini tidak terawat dengan banyak ditumbuhi rumput-rumput liar yang sangat tinggi. Terlebih kondisi makam Sultan ketiga dan kelima yang jauh lebih memprihatinkan karena sudah rusak berat.

Semoga saja, ahli waris segera melakukan pemugaran pada salah satu tempat bersejarah ini. Tempat bersemayamnya para sultan-sultan hebat yang memimpin kerajaan Kotawaringin.

4. Masjid Kyai Gede

Masjid Kyai Gede berada di Desa Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada tahun 1632 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah. Nama masjid ini diambil dari nama seorang ulama yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Kalimantan terlebih di daerah Kotawaringin.

Kyai Gede adalah salah seorang ulama yang berasal dari Jawa. Ia diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan agama Islam di pula Kalimantan. Adapula yang menyebutkan bahwa Kyai Gede ini adalah salah seorang panglima kerajaan Demak pada masa pemerintahan Adipati Unus. Kedatangan Kyai Gede disambut baik oleh raja.

Berkat jasanya menyebarkan agama Islam dan membangun Kotawaringin, Kyai Gede dianugerahkan jabatan sebagai Adipati di Kotawaringin dengan pangkat Patih Mangkubumi. Selain itu juga, Kyai Gede memiliki gelar yakni Adipala Gede Ing Kotawaringin.

Dari segi arsitektur, bangunan masjid didominasi oleh kayu mulai dari lantai bangunan hingga atap masjid. Adapun luas masjid yakni sekitar 256 meter atau 16 x16 meter dan terdiri dari 36 penyangga. 4 penyangga masjid merupakan tiang utama atau saka guru yang berada di tengah bangunan.

Pada bagian tiang saka guru berdiri di atas umpak kayu dengan terdapat ukiran yang menyerupai kelopak bunga teratai. Teknik penyambungan yang digunakan untuk menyambung kayu satu dengan kayu lainnya, tidak menggunakan paku besi melainkan paku yang terbuat dari kayu atau pasak. Masjid Kyai Gede memiliki mihrab, mimbar dan bedug sama seperti masjid pada umumnya.

Jika dilihat dari segi arsitektur, bangunan masjid ini memiliki ciri khas yakni adanya percampuran budaya. Pada bagian atap, bangunan masjid terlihat ciri khas Jawa yakni atap bangunan yang memiliki bentuk tumpang dan Limas dengan memiliki 3 susunan yang terbentuk segitiga sama kaki. Sedangkan tipe bangunan berbentuk seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu Ulin mencirikan adat Kalimantan.

Selain itu, peletakan bedug yang digantung pada bagian serambi menandakan seni khas China. Perpaduan ketiga budaya ini membuat bangunan masjid Kyai Gede menjadi lebih indah dan kental dengan budaya. Sama seperti bangunan bersejarah lainnya, masjid ini telah dilakukan beberapa kali pemugaran oleh dinas budaya terkait.

Saat ini keberadaan masjid, digunakan sebagai tonggak perjuangan dan dakwah Islam oleh masyarakat Kotawaringin. Mereka juga mengadakan beberapa kegiatan rutin selain sebagai tempat ibadah yakni digunakan pula untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

Untuk menyambungkan kayu satu dengan kayu lainnya, tidak menggunakan paku besi melainkan paku yang terbuat dari kayu atau pasak. Masjid Kyai Gede memiliki mihrab, mimbar dan bedug sama seperti masjid pada umumnya.

Jika dilihat dari segi arsitektur, bangunan masjid ini memiliki ciri khas yakni adanya percampuran budaya. Pada bagian atap, bangunan masjid terlihat ciri khas Jawa yakni atap bangunan yang memiliki bentuk tumpang dan Limas dengan memiliki 3 susunan yang terbentuk segitiga sama kaki.

Sedangkan tipe bangunan berbentuk seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu Ulin mencirikan adat Kalimantan. Selain itu, peletakan bedug yang digantung pada bagian serambi menandakan seni khas China.

Perpaduan ketiga budaya ini membuat bangunan masjid Kyai Gede menjadi lebih indah dan kental dengan budaya. Sama seperti bangunan bersejarah lainnya, masjid ini telah dilakukan beberapa kali pemugaran oleh dinas budaya terkait.

Saat ini keberadaan masjid, digunakan sebagai tonggak perjuangan dan dakwah Islam oleh masyarakat Kotawaringin. Mereka juga mengadakan beberapa kegiatan rutin selain sebagai tempat ibadah yakni digunakan pula untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.

5. Meriam Bujang Palembang

Meriam Bujang Palembang adalah salah satu peninggalan kerajaan Kotawaringin. Meriam ini merupakan hadiah yang diberikan oleh kerajaan Siak Sri Indrapura kepada Pangeran Adipati Antakusuma, Sultan perrama kerajaan Kotawaringin.

Pangeran Adipati Antakusuma pernah membantu memimpin pasukan perang kerajaan Siak Sri Indrapura. Untuk membalas kebaikan dan ucapan terima kasihnya, maka Kerajaan Siak Sri Indahpura memberikan meriam bujang Palembang sebagai cenderamata. Saat ini, meriam tersebut disimpan di bangunan Pa Agongan yang berada di istana kuning.

6. Meriam Beranak

Peninggalan kerajaan Kotawaringin lainnya adalah meriam beranak. Pada halaman depan istana kuning, terdapat tiga pucuk meriam yang memiliki ukuran 3 meter. Satu meriam memiliki jenis kelamin laki-laki yang terbuka dan bernama jimat. Sedangkan dua pucuk meriam yang tertutup kain kuning berjenis kelamin perempuan dan bernama jindai dan Salasah. Pada bagian bawahnya terdapat lima buah pucuk meriam kecil yang merupakan anak dari ketiga pucuk meriam besar.

Pucuk meriam tersebut disimpan di dalam bangunan Pa agongan di istana kuning. Pa agongan merupakan tempat untuk menyimpan benda pusaka peninggalan kerajaan Kotawaringin. Selain itu, terdapat pula batu yang memiliki tinggi 45 cm dan diameter 25 cm. Batu tersebut merupakan saringan air minum yang biasa dibawa oleh Sultan saat pergi berburu. Biasanya digunakan untuk menyaring air yang berasal dari aliran air yang ada selama perjalanan memburu. Baru setelahnya Sultan dapat minum air tersebut.

7. Keris Pangeran Adipati Antakusuma

Keris pangeran Adipati Antakusuma memiliki panjang 30 cm. Keris ini pernah diikutsertakan pada festival Istiqlal kategori Benda Seni rupa Tradisional pada tahun 1991. Saat ini, keris milik pangeran Adipati Antakusuma berada di Astana Al-Nursari bersama benda-benda bersejarah lainnya seperti piring keramik besar, guci, tempayan air, gendang, beberapa pucuk sumpit, kapat sandang. Kapat sandang adalah penananda kegiatan Sultan yang biasa dipegang oleh hulubalang dan disimpan di sisi barat bangsal.

8. Keris Demung Silam

Keris Deming Silam merupakan keris peninggalan kerajaan Kotawaringin. Keris ini memiliki ukuran 60 cm. Saat ini keris Demung silam disimpan di Astana Al-Nursari sebagai koleksi benda bersejarah. Nama keris ini diambil dari nama pemiliknya yakni Demung Silam sosok pemimpin dari suku Kaharingan.

Demung Silam hidup pada masa Pangeran Adipati Antakusuma, sosok Sultan pertama kerajaan Kotawaringin yang memeluk agama Islam. Sebagai bentuk pembuktian kepada sultan, Demung Silam menyerahkan dan menukarnya Mandau miliknya dengan keris Demung silam. Selain itu, ada pula kerja milik pangeran Ratu Begawan, Pangerang ke-7 dari kesultanan Kotawaringin. Keris tersebut memiliki panjang 28 cm.