Sejarah

8 Peran Soekarno Setelah Kemerdekaan

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Soekarno merupakan proklamator Indonesia yang tidak akan dilupakan siapapun dengan mudah. Beliau berpengaruh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama para pejuang Indonesia hingga tercapai Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tidak hanya itu, beliau juga telah menginspirasi perkembangan dan kesuksesan Indonesia hingga kini.

Perjuangan Soekarno yang juga dibantu oleh rekan-rekannya berdampak besar hingga kini. Bahkan setelah kemerdekaan di Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno, perjuangan beliau tidak berhenti.

Perjuangan panjang untuk meraih kemerdekaan tentunya akan menjadi sia-sia jika kemerdekaan itu tidak dapat dipertahankan. Oleh karenanya, semangat Soekarno dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia terus berlanjut.

Setelah kemerdekaan, Soekarno tercatat dalam sejarah masih berperan penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia seperti merumuskan dasar Negara dan sebagainya.

Berikut terdapat beberapa peran yang dimaksud yang dirangkum dalam penjelasan singkat di bawah ini.

1. Mendirikan partai

Partai nasional Indonesia (PNI) merupakan partai yang didirikan oleh Soekarno sebagai pelopor berdirinya partai di Indonesia. Berawal di tahun 1926 dimana Soekarno mendirikan Algemeene Studieclub sebagai wadah para cendekia Indonesia yang tergabung dalam Bumiputera.

Dalam Algemeene Studieclub, Soekarno berhasil merumuskan terbentuknya partai nasional Indonesia pada 4 Juli 1927. Kala itu, perjuangan pembentukan dan perkembangan partai pun berlanjut meskipun pemerintah Belanda melarang dan menghalangi kegiatan PNI.

Nasionalisme Soekarno menyebabkan dirinya dipenjara oleh pemerintah Belanda di tahun 1929 – 1931. Beliau kemudian diasingkan hingga tahun 1942 di Ende, Flores, dan dipindahkan ke Bengkulu.

Meskipun demikian, semangat juang nasionalisme Soekarno dapat dirasakan oleh penduduk Indonesia kala itu. Hal itu bahkan tidak menyurutkan anggota PNI yang lainnya untuk tetap berjuang hingga setelah masa kemerdekaan Indonesia.

2. Terbentuknya komite nasional

Sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) berlanjut hingga pembentuka presiden dan wakil presiden setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam siding PPKI di tanggal 18 Agustus 1945 dimana Soekarno juga merupakan anggotanya, beliau menggagaskan ide untuk membentuk komite nasional. Kemudian dalam siding menghasilkan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bertugas membantu tugas presiden.

Sebagai presiden pertama di Indonesia, Soekarno bersama KNIP membentuk berbagai gagasan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengatur jalannya pemerintahan.

3. Kelahiran Pancasila

Gagasan Pancasila sebagai dasar Negara sebenarnya telah disampaikan Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei – 1 Juni 1945.

Sejalan dengan adanya kemerdekaan Indonesia dan terbentuknya KNIP, maka gagasan Pancasila sebagai dasar Negara dikukuhkan kembali. Kesadaran akan penduduk yang berbeda-beda tetapi memiliki satu gagasan untuk memerdekakan Indonesia menginspirasi Soekarno untuk melahirkan Pancasila sebagai ideology negara.

Meskipun terjadi beberapa perubahan gagasan Pancasila, tetapi Pancasila yang terlahir hingga kini merupakan gagasan Soekarno dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah kemerdekaan di proklamirkan.

4. Kelahiran UUD 45

BPUPKI tidak hanya merumuskan Pancasila tetapi juga Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang awalnya digagaskan oleh Soekarno yang tergabung dalam panitia Sembilan dimana kala itu UUD 45 masih bertajuk Piagam Jakarta.

Setelah kemerdekaan, Piagam Jakarta berubah menjadi UUD 1945. Meskipun demikian penerapannya belum sempurna karena dalam kurun 1945 hingga 1949 perjuangan kemerdekaan masih berlanjut di berbagai daerah.

Dalam perkembangannya, UUD juga mengalami beberapa perubahan misalnya sempat berubah menjadi UUDS dimana kala itu bentuk Negara Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat.

Hingga akhirnya, pada 5 Juli 1959 keluar Dekrit Presiden yang menyatakan untuk kembali ke UUD 1945 sebagai konstitusi Negara.

5. Menjadi anggota PBB

Perjuangan kemerdekaan Indonesia masih berlanjut meskipun kemerdekaan telah diproklamirkan di tahun 1945. Tahun-tahun berikutnya hingga tahun 1949 perlawanan Belanda tidak berhenti hingga berhasil menduduki ibu kota colonial Batavia.

Keadaan tersebut menyebabkan para nasionalis membentuk ibu kota baru di Yogyakarta. Sekitar Desember 1949, diketahui bahwa Ratu Juliana dari Belanda telah menyerahkan kedaulatan pada pemerintah Indonesia secara federal.

Setelah pengakuan tersebut, Indonesia melalui Soekarno mendaftarkan dirinya sebagai anggota PBB di tahun 1950. Meskipun 1965, Soekarno menyatakan mengundurkan diri dari PBB, tetapi pencapaian Indonesia telah dikenal oleh Negara lain yang berjuang atas kemerdekaannya telah meluas.

6. Mendirikan demokrasi

Selain membentuk dasar Negara berupa Pancasila, Soekarno juga berperan penting dalam pembentukan demokrasi di Indonesia setelah masa kemerdekaan. Pembentukan partai yang mencerminkan demokrasi sebenarnya telah digagas Soekarno di tahun 1927 melalui PNI.

Penerapan demokrasi lebih lanjut dikembangkan oleh Soekarno dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan menjalankan Indonesia sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat.

Gagasan demokrasi yang diusung Soekarno melahirkan adanya system parlemen dimana dewan eksekutif dan legislative bertanggung jawab pada MPR.

7. Menjadi anggota non-blok

Perang dunia I berdampak pada Indonesia dimana Negara-negara yang tergabung dalam blok barat dan timur mencari dukungan dari Negara-negara lain. Hal itu membawa Soekarno untuk memutuskan bahwa Indonesia adalah Negara yang netral yang tergabung dalam anggota gerakan non-blok.

Sebagai anggota gerakan non-blok, Indonesia berpartisipasi dalam KTT Asia- Afrika. Dalam KTT tersebut juga membuat Indonesia dikenal oleh Negara luar di Asia dan Afrika untuk saling bersekutu menjaga perdamaian dunia.

Hal tersebut juga membawa Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia- Afrika pada 18 – 24 April 1955 di Bandung. Sebagai Negara yang baru merdeka, Indonesia beserta beberapa Negara lainnya yang tergabung dalam KTT Asia – Afrika mencetuskan gagasan gerakan non-blok yang terbentuk di tahun 1961.

8. Merebut Irian Barat

Dalam konferensi meja bundar (KMB) yang terjadi di tahun 1949, Soekarno telah menyampaikan gagasannya mengenai kemerdekaan Irian Barat terhadap Belanda. Namun, hingga beberapa tahun kemudian Belanda tidak memberikan keputusan yang jelas terkait pembebasan Irian Barat.

Hal tersebut menyebabkan Soekarno selaku presiden Indonesia kala itu memutuskan untuk membentuk komando pembebasan Irian Barat di tahun 1962. Di saat yang bersamaan, Soekarno juga meminta bantuan Amerika Serikat melalui bantuan Soviet.

Hal tersebut melahirkan persetujuan perjanjian New York pada Agustus 1962. Perjanjian tersebut membuat Belanda harus mundur dari Irian Barat per 1 Mei 1963. Kemudian, diadakannya Pepera (penentuan pendapat rakyat), dimana rakyat Irian Barat berhak memberikan suaranya untuk memilih bersama Indonesia atau memisahkan diri.

Tahun 1963, diplomasi tersebut dianggap sukses dimana Irian Barat secara resmi berada di bawah naungan dan pengawasan Indonesia bukan Belanda.