Sejarah

Sejarah Kerajaan Kutai – Raja dan Peninggalannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan yang berada di Pulau Kalimantan selain kerajaan Banjar.

Penamaan Kutai diberikan oleh para ahli dari tempat ditemukannya prasasti tersebut.

Sumber tentang kerajaan ini juga masih minim. Untuk lebih tahu lengkapnya, simak penjelasan di bawah ini.

Latar Belakang Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4 M bertempat di Muara Kaman, Kalimantan Timur (daerah hulu sungai Mahakam).

Bukti Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4 atau ke-5 M adalah ditandai dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan Sansekerta.

Jika dilihat dari prasastinya, terdapat nama raja Kudungga yang diindikasikan nama asli Indonesia.

Nama seperti Aswawarman dan Mulawarman menunjukkan nama yang diambil dari India.

Bisa disimpulkan bahwa kebudayaan Hindu telah masuk ke dalam Kerajaan Kutai.

Kerajaan Kutai didirikan oleh Kudungga, beliau merupakan pembesar Campa (Kamboja).

Selanjutnya dilanjutkan ke raja Aswawarman, Mulawarman, dan sampai dua puluh tujuh generasi berikutnya di Kerajaan Kutai.

Jika dilihat dari isi tulisan prasasti Yupa, raja Kudungga mengetahui seluk beluk berdirinya Kutai.

Kutai saat itu hanya terdiri dari sebuah kelompok suku tertentu dengan kepala sukunya beliau. Pada akhirnya nanti, muncullah nama Kerajaan Kutai.

Raja-raja yang Pernah Menjabat di Kerajaan Kutai

Berikut ini adalah nama-nama raja yang pernah menjabat di Kerajaan Kutai, antara lain:

1. Kudungga

Beliau merupakan pendiri sekaligus raja pertama yang menjabat di Kerajaan Kutai.

Gelar beliau sebagai raja Kutai adalah Anumerta Dewawarman. Dari awalnya yang beliau hanya sebagai pembabat kerajaan.

Berupa kepala suku kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan dengan adanya pemerintahan. Kudungga merupakan raja asli Indonesia yang beragama Hindu.

2. Aswawarman

Aswawarman merupakan putra dari raja Kudungga yang kemudian menjadi raja kedua Kutai. Pada masa pemerintahan ini, Kutai mulai dikelola secara lebih baik.

Salah satunya bisa dilihat dalam hal penataan batas wilayah. Aswawarman sering mengadakan sebuah acara penentuan batas, yang bernama Upacara Asmawedha.

Dalam prosesi upacara ini, raja Kutai melepaskan kuda sebagai simbol batas kerajaan.

3. Mulawarman

Setelah Aswawarman lengser, maka tahta selanjutnya diberikan kepada anaknya yang bernama Mulawarman. Beliau adalah raja yang paling terkenal pada Kerajaan Kutai.

Pada masa ini Kerajaan Kutai mengalami kejayaan. Memang awal kejayaan sudah diperoleh pada saat ayahnya menjabat, tetapi Mulawarman lah yang meneruskan kesuksesan tersebut dalam memerintah.

Selain menghadiahkan 20.000 ekor sapi, Mulawarman juga melakukan kurban emas.

Kurban tersebut merupakan sebuah bentuk sedekah dan rasa syukur sehingga devisa kerajaan pun semakin meningkat.

Setelah masa pemerintahan raja Mulawarman, seperti disebutkan dalam penjelasan sebelumnya bahwa Kerajaan Kutai akan diteruskan oleh dua puluh tujuh keturunan selanjutnya.

Pada akhirnya nanti, Kerajaan Kutai menjadi salah satu kerajaan Islam di Indonesia, selain kerajaan Demak, kerajaan Aceh, kerajaan Cirebon dan kesultanan Banten.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Masa kejayaan Kerajaan Kutai bisa dilihat dalam salah satu tandanya, yaitu adanya pemberian berupa 20.000 ekor sapi oleh raja Mulawarman kepada para Brahmana.

Dalam hal ini, raja Kutai membeli puluhan ribu ekor tersebut untuk disumbangkan. Pembelian sapi tersebut tercatat dalam prasasti Yupa.

Masa kejayaan juga ditandai dengan dikuasainya seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Kejayaan tersebut merupakan hasil jerih payah raja Mulawarman yang menuruti nasihat ayahnya, yaitu Aswawarman.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Kutai

Runtuhnya Kerajaan Kutai disebabkan oleh gugurnya Raja Dharma Setia dalam medan perang, yang memerintah Kerajaan Kutai saat itu.

Beliau dibunuh oleh Aji Pangeran Anum Panji Mendap (raja Kutai yang ke-13).

Sejak saat itulah Kerajaan Kutai menjadi kerajaan Islam yang dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Idris.

Dalam hal ini, Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah dua kerajaan yang berbeda.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Berikut adalah peninggalan dari Kerajaan Kutai yang bisa diketahui, antara lain:

  • Yupa

Dalam kerajaan lainnya, terutama kerajaan Pajajaran, peninggalan ini disebut dengan prasasti.

Namun masyarakat saat itu masih belum mengenal yang namanya prasasti, tetapi familiar dengan yang namanya “Yupa”.

Hal tersebut juga didukung oleh Kerajaan Kutai yang merupakan kerajaan Hindu pertama kali yang dikenal dan dipelajari.

Jadi wajar masyarakat awam belum tahu akan hal tersebut. Adanya Yupa juga menandakan bahwa Kalimantan Timur pernah berjaya.

  • Pedang

Pedang yang ditemukan terbuat dari emas dimana terdapat ukiran yang unik pada gagang pedang dan eksotismenya sangat tinggi.

Pada ujung sarung pedang terdapat ukiran berupa hewan buaya. Sehingga terlihat semakin takjub.

  • Kalung Uncal

Seperti kalung biasanya, kalung ini terbuat dari bahan emas dengan berat sekitar 170 gram.

Kalung ini merupakan perhiasan yang dipakai oleh raja-raja Kutai. Kalung ini termasuk langka, karena hanya ada dua buah di dunia.

Satu berada di India dan satunya lagi berada di Indonesia. Kalung tersebut sampai sekarang tersimpan rapi di Museum Mulawarman.

  • Kelambu Kuning

Kelambu kuning bisa dibilang termasuk jenis gaman atau senjata yang memiliki kekuatan magis. Kelambu Kuning digunakan untuk menolak bala (kejahatan).

  • Ketopong

Ketopong adalah semacam mahkota dimana sebagai penutup kepala yang dipakai oleh raja-raja Kutai atau bisa disebut sebagai “Ketopong Sultan Kutai”. Peninggalan ini bisa dilihat di Museum Nasional Jakarta.

  • Tali Juwita

Tali Juwita termasuk peninggalan yang unik karena dari bentuk talinya sendiri memiliki filosofi khusus dan tali ini sering dipakai untuk upacara yang bernama “Upacara Belepas”.

Terdapat 21 helai benang dengan makna filosofi tujuh muara sungai dan tiga anak sungai (sungai Belayan, Padang Pahu, dan Kelinaju).

  • Kura-kura Emas

Jika dilihat secara langsung, peninggalan ini sangat indah karena kura-kuranya terbuat dari emas asli dan ukurannya kurang lebih setengah kepalan telapak tangan orang dewasa.

  • Meriam

Terdapat empat meriam peninggalan kerajaan Kutai, yaitu meriam Sri Gunung, Aji Entong, Sapu Jagat, dan Gentar Bumi.

Bisa dibilang saat itu Kerajaan Kutai sudah mempunyai persenjataan militer yang cukup kuat.

  • Kalung Ciwa

Kalung Ciwa ditemukan di Danau Lipan, Muarakaman pada tahun 1890. Kalung ini sampai sekarang masih dipakai oleh raja-raja yang sedang melakukan tradisi pengangkatan raja yang baru.

  • Keris

Pemilik dari keris ini adalah Aji Putri Karang Melenu, seorang permaisuri Sultan Kutai. Sehingga nama dari keris ini adalah Keris Bukit Kang.

  • Keramik Kuno Tiongkok

Adanya peninggalan keramik kuno Tiongkok ini didasarkan pada Kerajaan Kutai yang memiliki hubungan baik dengan Kekaisaran Cina saat itu.

Hubungan diplomasi berupa perdagangan yang menjadi mata pencaharian dan devisa kerajaan yang sangat besar hasilnya.

  • Gamelan

Gamelan pada peninggalan Kerajaan Kutai ini bernama Gamelan Gajah Prawoto.

Gamelan ini sekarang berada di Museum Mulawarman. Bisa dibilang pengaruh kebudayaan Jawa bisa sampai ke Kerajaan Kutai.

  • Kursi Raja

Kursi raja ini digunakan sebagai tempat duduk raja saat itu. Bisa dibilang menjadi saksi bisu selama pemerintahan di Kerajaan Kutai. Sampai sekarang peninggalan ini masih dirawat di museum.

  • Tembok

Adanya tembok yang bernama “Tembok Kerajaan Majapahit” merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai.

Walaupun namanya ada Majapahitnya, tetapi pada akhirnya tembok ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai.

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Kutai. Semoga bermanfaat.