Sejarah

Sejarah Kerajaan Singasari – Raja dan Peninggalannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Singasari merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terletak di kawasan Jawa Timur. Kerajaan ini termasuk kerajaan hindu buddha terkenal selain Kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Kutai.

Kerajaan ini terkenal dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes, serta kejayaan Raja Kertanegara yang menaklukan luar Jawa.

Berikut pembahasan mengenai Kerajaan Singasari.

Latar Belakang Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari berdiri setelah berakhirnya Kerajaan Kediri. Kerajaan Singasari diperintah Ken Arok sejak tahun 1222-1227.

Kerajaan Singasari yang berlangsung sekitar 70 tahun ini memiliki satu ibu kota, yakni Tumapel.

Menurut Prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singasari adalah Kerajaan Tumapel.

Sedangkan menurut Kitab Negarakertagama, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.

Secara umum, Tumapel adalah wilayah kabupaten di bawah kekausaan Kerajaan Kediri. Kota ini dipimpin oleh bupati (akuwu) bernama Tunggul Ametung.

Agar Tumapel jatuh pada kekuasaan Ken Arok, maka Ken Arok membunuh bupati tersebut.

Motifnya adalah Ken Arok terpikat istri Tunggul Ametung, yakni Ken Dedes. Ken Arok membunuh suami Ken Dedes dengan keris dari buatan Mpu Gandring. Padahal keris itu belum siap dipakai.

Mpu Gandring sendiri mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu nantinya akan membunuh sampai tujuh turunan Ken Arok. Namun demikian, Ken Arok akhirnya menjadi bupati Tumapel.

Setelah mengalami banyak peperangan, Ken Arok akhirnya menguasai seluruh wilayah Tumapel dan melepaskannya dari Kerajaan Kediri.

Ia pun menjadi Raja Singasari dan mendapat gelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi.

Sebab diangkatnya Ken Arok ini punya beberapa alasan. Menurut Kitab Pararaton, awalnya pada tahun 1222, terjadi perseteruan antara Raja Kertajaya, yang memimpin Kerajaan Kediri, melawan kaum Brahmana.

Kaum Brahmana pun memberontak dan bergabung dengan Ken Arok. Hingga saatnya, Ken Arok diangkat oleh kaum Brahmana dengan gelar Sri Rangga Rajasa Amurwabhumi.

Berbeda dengan Kitab Kertanegara yang menyebutkan bahwa Kerajaan Tumapel berdiri atas kepemimpinan Rangga Rajasa Sang Girinathaputra.

Kitab tersebut tidak menyebutkan Ken Arok sebagai orang yang mengalahkan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri.

Sedangkan pada Prasasti Mula Malurung yang ditulis saat masa pemerintahan Raja Kertanegara tahun 1255 , menyebutkan bahwa Kerajaan Tumapel didirikan oleh Bhatara Siwa.

Menurut Kitab Negarakertagama, dinamakan Siwa karena arwah pendiri Kerajaan Tumapel dipuja-puja.

Sementara Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Ken Arok yang lebih dulu dijuluki Bhatara Siwa saat melawan Kerajaan Kediri.

Raja-raja yang Pernah Menjabat di Kerajaan Singasari

Berikut ini merupakan raja-raja yang pernah menduduki kerajaan Singasari:

1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222-1247)

Pada masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat lebih baik dibanding saat kepemimpinan Bupati Tulung Ametung.

Ken Arok pun sempat terbunuh akibat ditusuk keris Empu Gandring. Jasadnya dimakamkan di Kegenengan.

Di Kitab Pararton, Ken Arok bergelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Sementara di Kitab Negarakertagama, Ken Arok bergelar Rangga Rajasa Sang Girinathaputra.

2. Anusapati (1247-1249)

Anusapati adalah anak dari Ken Dedes dan Bupati Tulung Ametung. Anusapati memerintah sejak 1247-1249 dan dibunuh Tohjaya dengan keris Empu Gandring saat bermain sabung ayam.

Anusapati dibunuh Tohjaya akibat dendam. Jasad Anusapati dimakamkan di Candi Kidal.

3. Tohjaya (1249-1250)

Tohjaya adalah putra dari Ken Arok. Tohjaya adalah tokoh yang membunuh Anusapati akibat dendam. Akhirnya, Tohjaya diangkat sebagai pemimpin Kerajaan Singasari.

Namun, pemerintahannya tidak berlangsung lama karena dibunuh Ranggawuni alias Wisnuwardhana, putra Anusapati saat melangsungkan pemberontakan.

4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250-1272)

Ranggawuni alias Wisnuwardhana adalah putra Anusapati. Ranggawuni bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana.

Ranggawuni pun dibantu oleh Mahesa Cempaka sebagai Ratu Anggabaya. Mahesa Cempaka jugalah yang membantu pemberontakan saat Tohjaya memimpin.

Ranggawuni meninggal dan dikebumikan di Candi Jago sebagai Buddha dan abunya juga disimpan di Candi Weleri sebagai Siwa.

5. Kertanagara (1272-1292)

Kertanagara bergelar Sri Maharaja Sri Kertanegara. Ia memimpin Kerajaan Singasari hingga ke puncak kejayaan.

Kertanegara dibantu tiga menteri, yakni Mahamenteri I Halu, Mahamenteri Sirikan, dan Mahamenteri I Hino. Keinginan terbesar Kertanegara yakni menyatukan Nusantara.

Wilayah penaklukan Kertanegara yakni Kalimantan Barat, Maluku, Pahang, Bali, dan Jawa Barat (Sunda). Ia juga menjalankan Ekspedisi Pamalayu hingga wilayah Melayu.

Kertanegara tewas saat Jayakatwang melakukan pemberontakan. Inilah titik balik runtuhnya Kerajaan Singasari.

Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari pernah mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Raja Kertanegara.

Raja Kertanegara adalah raja terakhir dan terbesar dalam Kerajaan Singasari.

Hal ini dikarenakan ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa.

Pada masa tersebut, Raja Kertanegara memimpin ekspedisi Pamalayu (1275-1286) untuk menaklukan Kerajaan Melayu dan melemahkan Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, Raja Kertanegara menjadikan Sumatera sebagai benteng pertahanan.

Kehebatannya ini juga mampu mencegah serangan Kubilai Khan dari bangsa Mongol terhadap Kerajaan Singasari pada 1289.

Tidak hanya itu, Raja Kertanegara juga berhasil menguasai Bali (1284), Jawa Barat (1289), Pahang, Gurun, dan Tanjung Pura.

Raja Kertanegara pun memerintah dengan tujuan untuk menyatukan seluruh Nusantara di bawah kerajaan Singasari.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Singasari

Raja Kertanegara memang memfokuskan pasukan untuk Ekspedisi Pamalayu. Namun, ini menjadi celah tersendiri bagi Jayakatwang.

Jayakatwang adalah seorang raja kecil di Kediri, tepatnya bupati Gelang-gelang yang melakukan pemberontakan. Ia juga sepupu, ipar, dan besan dari Raja Kertanegara.

Pada tahun 1292, Jayakatwang melakukan pemberontakan di wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari.

Karena pasukan kerajaan sedikit, kerajaan pun dapat dilumpuhkan. Raja Kertanegara pun terbunuh.

Setelah Kerajaan Singasari runtuh, Jayakatwang diangkat menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri.

Sedangkan Raja Kertanegara dimakamkan di Candi Singasari dan didarmakan sebagai Siwa Buddha (Bairawa).

Arca perwujudannya kini berada di Taman Simpang, Surabaya dan dikenal sebagai Joko Dolog.

Peninggalan Kerajaan Singasari

Candi Singosari terletak di Desa Candi Renggi, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Candi Singosari berada di posisi lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna.

Berdasarkan Kitab Negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada pada tahun 1351 yang tertulis sebagai keterangan di halaman komplek candi, Candi Singosari adalah tempat “pendharmaan”.

Pendharmaan adalah tempat penyimpanan abu dari Raja Kertanegara yang wafat akibat pemberontakan oleh Jayakatwang.

Candi Singosari memiliki nama lain, yakni Candi Menara dan Candi Cungkup. Candi ini dibangun pada tahun 1300.

  • Candi Jago

Candi Jago berada di sekitar Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Candi Jago berasal dari kata jajaghu yang dikutip dari Kitab Negarakertagama dan Pararaton.

Kata jajaghu artinya keagungan, sehingga ditandai sebagai tempat suci.

Dari segi penampakan, candi ini hanya tersisa sebagian saja akibat tersambar petir.

Namun, relief Kunjarakana dan Pancatantra masih terlihat dengan material batu andesit.

Candi Sumberawan berada di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Candi ini terletak di kaki bukit Gunung Arjuna.

Candi Sumberawan ditemukan pada tahun 1904 dan diteliti oleh peneliti Dinas Purbakala pada tahun 1935. Candi yang berbentuk bujur sangkar ini terbuat dari batu andesit.

Uniknya, Candi Sumberawan tidak dilengkapi tangga dan hanya berbentuk stupa.

Sehingga, candi ini dianggap sebagai tempat pemujaan. Candi ini pernah dikunjungi Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan pada tahun 1359.

Candi Jawi ini dibangun pada sekitar abad ke-13, terletak di kaki Gunung Welirang.

Lebih detailnya, berada di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Candi Jawi juga merupakan tempat penyimpanan abu dari Raja Kertanegara, dan sebagai tempat ibadah beliau sebagai umat Siwa-Buddha. Ini juga tertulis di Kitab Negarakertagama pupuh 56.

  • Candi Kidal

Candi Kidal berada di lokasi Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Candi ini dibangun sebagai tempat persemayaman Raja Anusapati yang wafat pada 1248.

Candi Kidal dibangun sekitar 1260 dan ditemukan Belanda pada tahun 1925. Candi ini terbuat dari batu andesit.

Candi Kidal menceritakan Garudeya, yakni mitologi Hindu yang memiliki pesan moral tentang pembebasan para budak.

  • Arca Dwarapala

Arca Dwarapala terdiri dari kata dwara, yang artinya gerbang dan pala yang artinya pelindung.

Arca Dwarapala terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dan terbuat dari batu andesit.

Arca Dwarapala biasa diletakkan di bagian luar candi, kuil, atau bangunan-bangunan suci.

Bentuknya seram, besar, dan berjumlah satu, sepasang, dan beberapa kelompok.

Arca yang menjadi pintu gerbang Kerajaan Singosari ini termasuk peninggalan agama Siwa dan Buddha.

  • Prasasti Manjusri

Prasasti Manjusri adalah manuskrip yang dipahat di belakang Arca Manjusri, Candi Jago, pada tahun 1343. Prasasti ini dipahat dengan aksara Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta.

Isi dari Prasasti Manjusri adalah tentang penempatan Arca Manjusri pada tempat pendarmaan Candi Jina di tahun Saka 1265. Penempatan arca ini dilakukan oleh Adityawarman.

Candi Jina merupakan nama lain dari Candi Jago, atau disebut juga Candi Tumpang.

Candi ini dibangun atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati Raja Wisnuwardhana yang meninggal pada tahun 1268.

  • Prasasti Mula Malurung

Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugerahan untuk Pranaraja.

Prasasti ini diberikan dari Desa Mula dan Desa Malurung terhadap tokoh tersebut.

Prasasti Mula Malurung terdiri atas lempengan tembaga yang diterbitkan pada tahun 1255 oleh Raja Kertanegara, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana sebagai Raja Singosari.

Penemuan Prasasti Mula Malurung dimulai ketika tahun 1975 di dekat kota Kediri. Saat itu, ada 10 lempeng yang ditemukan.

Sedangkan tiga lempeng lainnya ditemukan di lapak penjual barang loak pada Mei 2001. Prasasti yang satu ini hampir mirip dengan peninggalan kerajaan Pajajaran.

Kini, keseluruhan lempeng Prasasti Mula Malurung disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

  • Prasasti Singosari

Prasasti Singosari terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dan didirikan pada tahun 1351.

Prasasti ini ditulis sebagai pengingat pembangunan Caitya dengan aksara Jawa.

Caitya adalah candi pemakaman yang dibangun pada masa Gajah Mada. Serta berisi catatan tarikh atau penanggalan yang rinci, termasuk pemaparan letak benda-benda di angkasa.

Saat ini, Prasasti Singosari telah disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

  • Prasasti Wurare

Prasasti Wurare adalah prasasti yang berisi peringatan dan penobatan Arca Mahaksobhya di Wurare.

Prasasti ini ditulis sejak 21 November 1289 atau Tarikh 1211 Saka dengan Bahasa Sansekerta.

Itulah pembahasan mengenai Kerajaan Singasari yang terletak di Jawa Timur. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi Anda.