Sel Schwann : Pengertian, Ciri-Ciri, Fungsi dan Struktur

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sel saraf merupakan bagian dari sistem saraf yang memiliki peranan untuk menerima dan mengantarkan impuls listrik. Di dalam tubuh manusia terdapat triliunan sel saraf. Sel saraf terdiri dari tiga bagian yakni dendrit, badan sel dan akson.

Setiap sel saraf terdiri atas badan sel yang mempunyai sitoplasma. Di mana badan sel ini memiliki dua jenis serabut yakni akson dan dendrit. Akson merupakan serabut panjang yang menerima impuls listrik dari badan sel kemudian melanjutkannya ke sel saraf lain. Akson dilindungi oleh selubung mielin.

Di mana selubung mielin ini terdapat di bagian luar akson berupa lapisan lemak. Selubung mielin terbentuk karena adanya sekelompok sel Schwann. Sel Schwann memiliki peranan penting dalam sel saraf dan sistem saraf tepi.

Berikut ini penjelasan mengenai sel Schwann secara lengkap.

Pengertian Sel Schwann

Sel Schwann

Sel Schwann merupakan salah satu jenis sel di perifer sistem saraf yang menghasilkan myelin selubung di sekeliling akson saraf. Nama sel Schwann sesuai dengan penemunya yakni seorang ahli fisiologi yang berasal Jerman, bernama Theodor Schwann yang disebut neuroglia.

Ia menemukan sel Schwann pada abad ke-19. Sel-sel ini sama dengan jenis oligodendrosit, yang terdapat pada sistem saraf pusat. Sel Schwann berdiferensiasi dari sel puncak saraf selama proses perkembangan embrio. Kemudian mereka akan dirangsang untuk berkembang biak oleh beberapa konstituen permukaan aksonal.

Saat sel saraf motorik terputus, maka akan menyebabkan terminal saraf merosot. Kemudian sel Schwann akan mendiami ruang saraf asli. Proses degenerasi kemudian diikuti dengan regenerasi. Serat akan beregenerasi sedemikian rupa sehingga kembali ke lokasi target aslinya. Sel Schwann yang tersisa setelah degenerasi saraf rupanya menentukan jalurnya.

Sel Schwann memiliki peran penting dalam memelihara serta proses regenerasi sel saraf motorik serta sensorik pada sistem saraf tepi (PNS). Hal ini diperlukan pada proses isolasi (mielinasi) serta memberikan nutrisi ke serabut saraf individu (akson) dari sistem saraf tepi.

Adanya proses mielinisasi akan membuat kecepatan konduksi aksonal yang akan diperlukan untuk mengirimkan sinyal listrik yang tepat lewat sistem saraf. Sel Schwann menjadi prasyarat mutlak bagi regenerasi sel saraf pada sistem saraf tepi.

Membran plasma pada sel Schwann mengandung banyak lipid. Di mana lipid ini diperlukan dalam membentuk selubung mielin. Lemak yang terdapat pada membran plasma memiliki peranan penting bagi pembentukan selubung mielin.

Baik kelangsungan hidup dan pematangan prekursor sel Schwann serta tingkat mielinisasi, akan bergantung pada ekspresi Neuregulin tipe III yang terdapat pada permukaan aksonal. Sel Schwann memielinasi akson dengan diameter besar yang mengirimkan impuls listrik dengan kecepatan tertinggi.

Sebaliknya, akson yang berkonduksi lambat disusun bersama untuk membentuk struktur seperti bundel, yang kemudian ditelan oleh sel Schwann yang tidak bermielin.

Ciri-Ciri Sel Schwann

  • Sejenis Sel Glia

Sel Schwann adalah sama dengan sel glia yang terdapat pada sistem saraf tepi. Sel Schwann memiliki peranan untuk memelihara sistem saraf tepi serta akson. Sel Schwann menjadi bahan bagi pembentukan selubung mielin. Nantinya selubung mielin ini akan membungkus bagian luar akson agar terlindungi. (copas)

  • Struktur Tidak Rapat

Tidak hanya itu, bahkan Sel Schwann juga membantu fungsi akson untuk mempercepat mengantarkan impuls listrik. Hal ini dikarenakan sel Schwann tidak memiliki struktur yang rapat. Struktur yang tidak rapat ini membuat impuls listrik mengalami loncatan.

Sel Schwann sama dengan sel neuroglia atau yang dikenal dengan sebutan oligodendrosit. Sel Schwann menempel pada akson. Oleh karena itu, diameter sel Schwann akan sama dengan diameter pada akson.

  • Memiliki Dua Jenis

Sel Schwann memiliki dua jenis tipe yakni sel Schwann yang memiliki mielin dan tidak memiliki mielin. Sel Schwann yang memiliki mielin tidak akan terlibat langsung pada pemeliharaan akson.

Hal ini dikarenakan selubung mielin memiliki fungsi untuk menjaga akson. Sedangkan sel Schwann yang tidak bermielin akan terlihat langsung pada pemeliharaan akson. Terutama ketika terdapat bagian akson yang mengalami kerusakan atau cidera maka sel Schwann akan membantu proses regenerasi.

  • Mengandung Lipid

Sel Schwann memiliki banyak lipid yang berperan penting bagi pembentukan selubung mielin. Untuk membentuk selubung mielin diperlukan banyak sel Schwann. Hal ini dikarenakan setiap pembentukan selubung mielin, akan berbeda Sel Schwann.

Oleh karena itu, untuk membentuk selubung mielin diperlukan bermacam-macam sel Schwann. Dalam satu akson terdapat banyak sel Schwann.

Fungsi Sel Schwann

  • Mempercepat Pengantaran Impuls Listrik

Fungsi dari keberadaan Sel Schwann adalah mempercepat pengantaran impuls listrik atau rangsangan. Proses pembentukan sel Schwann mirip dengan selubung mielin. Sel Schwann merupakan penyusun dari nodus ranvier.

Pembentukan nodus ranvier sama dengan pembentukan pada selubung mielin yakni seperti lapisan lemak. Namun, nodus ranvier yang berisi sel Schwann ini tidak rapat seperti pada selubung mielin. Akibat dari sel yang tidak rapat ini membuat impuls listrik dapat bergerak dengan lompatan.

Dengan begitu, impuls listrik akan lebih cepat diantarkan menuju neuro lainnya. Hal ini dikarenakan sel Schwann memiliki sifat konduktor yang mampu mengantarkan impuls listrik hingga kecepatan 10 kali lipat.

  • Mendukung Proses Regenerasi

Ketika sel saraf tepi mengalami kerusakan, maka sel Schwann akan membantu proses regenerasi. Dengan begitu, kinerja pada sistem saraf tepi tidak akan terganggu. Selain itu, sel Schwann juga akan memakan akson yang sudah mengalami kerusakan.

Proses ini dinamakan dengan istilah fagositosis. Saat akson mengalami kerusakan, maka sel Schwann akan menggantikan dengan akson yang baru. Saat terjadinya kerusakan cedera pada sistem saraf tepi maka akan terjadi perubahan bentuk dan metabolik pada daerah yang mengalami kerusakan Selain itu, akan terjadi pula perubahan anterograde pada wilayah distal daerah yang terkena kerusakan.

Sel Schwann juga berfungsi untuk menumbuhkan kembali akson dalam bentuk mirip seperti kecambah. Kecepatan pertumbuhan akson berlangsung cepat yakni setiap harinya bertambah 1 mm. Proses ini berlangsung secara terus-terusan hingga akson terhubung dengan sel-sel lainnya atau otot.

  • Sumber Nutrisi

Sel Schwann akan menjadi sumber nutrisi bagi akson atau neurit. Akson merupakan salah satu bagian dari sel saraf yang memiliki serabut panjang. Akson berperan dalam mengantarkan impuls listrik. Untuk dapat menjalankan tugasnya, akson memerlukan nutrisi yang dihasilkan dari sel Schwann.

Sel Schwann terdapat banyak kandungan lipid. Di mana lipid ini memiliki peranan dalam pembentukan selubung mielin. Mielin sendiri adalah selubung yang menyelimuti keberadaan akson.

  • Memelihara Keberadaan Akson

Sel Schwann memiliki dua jenis yakni sel Schwann yang bermielin dan tidak bermielin. Pada sel Schwann yang bermielin maka akan membentuk selubung mielin serta sitoplasma pada daerah luarnya. Sementara itu, sel Schwann yang tidak bermielin artinya tidak memiliki mielin dan akson akan langsung diselimuti oleh sel Schwann.

Sel Schwann yang tidak diselimuti mielin ini akan terlibat langsung dalam proses memelihara akson. Hal ini sangat berperan penting bagi perkembangan sel saraf. Meskipun begitu, secara langsung badan sel akan memelihara keberadaan akson lewat aliran aksoplasma. Hal ini akan terjadi jika sewaktu-waktu akson mengalami kerusakan atau putus.

Bagian yang mengalami putus atau kerusakan ini akan mengalami perubahan bentuk. Sitoplasma akan memiliki warna yang lebih bening serta inti sel bergerak menuju permukaan. Sementara itu, sel Schwann akan berproliferasi untuk membentuk selubung mielin yang baru.

Struktur Sel Schwann

Struktur Sel Schwann

Sel Schwann adalah struktur pembentuk selubung mielin lewat produksi lemak dan menyelimuti sel saraf hingga berkali-kali sampai terbentuklah sebuah selubung. Namun, hal ini akan berbeda jika terjadi pada sistem saraf pusat. Di mana selubung mielin bukan terbentuk dari Sel Schwann melainkan oligodendrosit.

Untuk dapat membentuk selubung mielin, dibutuhkan banyak jumlah Sel Schwann. Namun, jumlah sel Schwann ini banyak versinya. Untuk dapat membentuk selubung mielin, sel Schwann memiliki ketebalan hingga 0,15-1,5 mm.

Di mana panjang sel Schwann bisa mencapai 100 mikro meter jika terjadi proses eliminasi. Hal ini akan mengakibatkan di dalam satu akson terdapat 10.000 sel Schwann. Sel Schwann memiliki diameter yang sama dengan diameter akson yang menjadi tempat tinggal Sel Schwann.

Jika Sel Schwann yang menyelimuti akson memiliki diameter yang lebih besar maka pita melingkar tanpa adanya selubung mielin. Oleh karena itu, sel Schwann berada di sekitar terminal dan tombol sinaptik yang bersumber dari sambungan neuromuskuler. Setiap sel Schwann akan membentuk satu selubung mielin pada akson perifer.

Di mana masing-masing selubung mielin selanjutnya akan dibuat oleh sel Schwann yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan banyak sel Schwann untuk membuat selubung mielin di sepanjang akson. Sel Schwann memiliki dua jenis yakni Sel Shwann yang bermielin dan tidak bermielin.

Kedua jenis dari sel Schwann diselimuti oleh lamina basal. Pada bagian luar lamina basal disekitarnya terdapat lapisan jaringan ikat yakni endoneurium yang terdiri atas pembuluh darah, fibroblas, dan makrofag. Sementara itu, pada bagian permukaan dalam, lamina mengarah pada membran plasma sel Schwann.

fbWhatsappTwitterLinkedIn