Tokoh Golongan Tua dan Golongan Muda dalam Proklamasi

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Di balik kemerdekaan Indonesia terdapat para tokoh hebat yang memperjuangkannya. Mereka terdiri dari golongan tua dan golongan muda. Keduanya sama-sama memberikan kontribusi bagi kemerdekaan.

Meskipun pernah terjadi ketegangan, namun akhirnya keduanya dapat rukun kembali dan bahu membahu memproklamirkan kemerdekaan. Berikut ini sejumlah tokoh golongan tua dan muda yang terlibat dalam proklamasi.

Tokoh golongan tua terdiri dari Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebarjo, Muhamad Yamin Iwa Kusuma. Sedangkan tokoh golongan muda terdiri dari Sukarni, Wikana, Darwis, Adam Malik, Sayuti Melik dan Chaerul Saleh.

Golongan Tua

Ir Soekarno

Ir Soekarno, Golongan Tua dalam Proklamasi

Ir Soekarno merupakan sosok pemuda kelahiran Blitar. Dalam sejarah Indonesia namanya sudah pasti tidak asing lagi. Ia menjadi salah satu pemimpin dalam berjuang merebutkan kemerdekaan RI dari penjajahan.

Kepandaiannya melakukan negoisiasi, membuat dirinya mendapatkan kursi penting di pemerintahan. Ia bahkan yang menjadi penyambung lidah rakyat kepada para penguasa saat itu.  Bersama keluarga kecilnya, Soekarno diculik dalam sebuah peristiwa bernama Rengasdengklok.

Dalam penculikan tersebut ia diminta untuk segera menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia dan tanpa bantuan jepang. Setelah melewati diskusi dan musyawarah, akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat dilaksanakan.

Kemudian ia terlibat langsung dalam pembuatan naskah proklamasi. Tidak hanya itu, ia juga yang menjadi perwakilan bangsa Indonesia dalam proklamasi bersama bung Hatta. Pada saat upacara kemerdekaan, Soekarno bertugas untuk membacakan teks proklamasi yang telah disusun berdasarkan keputusan bersama.

Mohammad Hatta

Moh Hatta, Golongan Tua dalam Proklamasi

Muhammad Hatta merupakan sosok yang lekat dengan julukan Bapak Proklamator. Bersama Bung Karno, beliau terlibat dalam pembuatan dan pembacaan naskah proklamasi. Laki-laki kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat ini merupakan salah satu tokoh golongan tua dalam peristiwa Rengasdengklok.

Ia diculik ke sebuah desa di Karawang demgan tujuan untuk mempercepat proses kemerdekaan Indonesia. Namun, berkat penculikan tersebut, kemerdekaan Indonesia dapat dilaksanakan dengan waktu yang singkat dan tanpa bantuan serta campur tangan Jepang.

Bung Hatta begitu panggilaan akrabnya merupakan seorang pejuang kemerdekaan, konseptor pancasila dan UUD 1845 serta proklamator kemerdekaan RI. Bersama dengan para pejuang lainnya, ia terlibat dalam perumusan naskah. Namanya juga mewakili Indonesia pada naskah proklamasi.

Kontribusinya tentu saja sudah bisa diragukan lagi. Mengingat begitu banyak perjuangan yang telah dilakukan bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya terlibat dalam perumusan naskah proklamasi, melainkan juga pada perumusan dokumen penting negara seperti pancasila serta undang-undang dasar 1945.

Ahmad Soebardjo

Achmad Soebardjo, Golongan Tua dalam Proklamasi

Raden Achmad Soebardjo merupakan sosok yang lahir pada tanggal 23 Maret 1896 di Teluk Jambe, Karawang. Desa Teluk Jambe sendiri merupakan desa kecil yang ada di tepian sungai citarum dan menjadi daerah penghasil beras di provinsi Jawa Barat.

Acjmad Soebardjo merupakan sosok yang terlibat dalam pembuatan naskah proklamasi. Ia juga menjadi anggota BPUPKI. Ia pernah menyumbangkan pemikirannya saat menyusun dasar negara. Saat sidang BPUPKI pertama ia pernah mengusulkan saran yakni dalam merancang sebuah konstitusi bagi indonesia merupakan kesalahan besar jika kira hanha meniru konstitusi dari negara lain.

Apa yang baik bagi negara lain belum tentu baik dari pada falsafah hidup yang asing bagi pikiran dan pandangan kehidupan dan dunia. Usulan ini menjadi bahan pertimbangan BPUPKI dalam menyusun dasar negara.

Berkat usulannha ia juga dilibatkan dalam panitia sembilan untuk membantu merumuskan pembukaan UUS 1945. Ia mengusulkan gagasan terkait pembukaan UUD 1945. Gagasan yang disampaikannya menjadi paragraf pertama pembukaan UUD 1945.

Muhammad Yamin

Moh Yamin, Golongan Tua dalam Proklamasi

Muhamad Yamin merupakan laki-laki kelahiran Talawi, Sawahlunto. Ia lahir pada tanggal 24 Agustus 1903. Sejak pemerintahan Belanda, Muhammad Yamin telah akitf terlibat dalam perjuangann kemerdekaan. Ia bahkan pernah mengikuti kongres pemuda II pada tahun 1928 yang saat itu membahas persatuan.

Sama seperti hal nya Muhammad Hatta, Muhammad Yamin juga terlibat dalam perumusan naskah proklamasi. Ia merupakan tokoh golongan tua dalam peristiwa Rengasdengklok. Tidak hanya itu, ia juga yang memberikan usulan pada Pancasila dan UUD 1945.

Di luar kenegaraan ia adalah seorang penggali sejarah, sastrawan dan ahli bahasa. Tidak heran jika ia turut memberikan saran pada naskah-naskah penting Indonesia. Setelah merdeka, ia semakin eksis di kursi pemerintahan. Ia sempat menjabat sebagai menteri di beberapa departemen.

Iwa Kusuma

Iwa Kusuma, Golongan Tua dalam Proklamasi

Iwa Koesoemasoemantri merupakan tokoh hukum penggagas proklamasi dan pengarang Indonesia. Ia lahir pada tanggal 30 mei 1899. pernah menjabat sebagai menteri pada era pemerintahan Soekarno. Iwa pernah mengusuljan naskah proklamasi yang semula bernama maklumat kemerdekaan  diganti dengan proklamasi.

Golongan Muda

Sukarni

Sukarni, Golongan Muda dalam Proklamasi

Sukarni merupakan pemimpin Asrama Pemuda yang ada di Jalan Menteng No. 31. Bersama Chaerul Saleh, ia memerintah asrama tersebut. Asrama Pemuda merupakan asrama untuk melatih para pemuda yang berjuang demi kemerdekaan.

Para pemuda inilah yang kemudian menjadi tokoh rengasdengklok dan proklamasi. Pada saat proklamaai, ia memikul peranan yang berat. Ia beserta para pemuda lainnya bertanggung jawab untuk menyiarkan berita kemerdekaan Indonesia.

Untuk melaksanakan tugasnya, pada tanggal 18 Agustus 1945 membentuk Comite Van Aksi. Comiter tersebut memiliki tugas untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan ke seluruh Indonesia.

Wikana

Wikana, Tokoh Golongan Muda dalam Proklamasi

Wikana merupakan sosok laki-laki asal Sumedang yang lahir pada tanggal 18 Oktober 1914. Saat peristiwa Rengasdengklok, ia bersama Sukarni dan Chaerul Saleh menculik dua tokoh penting bangsa yakni Soekarno-Hatta.

Peristiwa Rengasdengklok sendiri merupakan peristiwa penting yang mengantar Indonesia pada proklamasi. Berkat kejadian tersebut, proklamasi kemerdekaan dapat diselenggarakan pada 17 Agustus 1945.

Selain terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok, Wikana juga berperan penting saat pembacaan teks proklamasi. Ia yang menjadi jembatan perumusan naskah proklamasi dilakukan di rumah dinas Laksamana Maeda.

Saat proses penyusunan teks, para tokoh baik golongan tua maupun muda mencari tempat yang aman dan tempat yang menurut mereka aman adalah di rumah dinas Laksamana Maeda. Tidak hanya mengatur tempat penyusunan naskah proklamasi saja.

Wikana juga mengatur berbagai keperluan saat teks proklamasi dibacakan. Wikana yang mengatur keamanan saat proklamasi. Ada peristiwa genting yang membuat Wikana cemas saat itu. Menjelang proklamasi dibacakan, Bung Karno mendadak sakit malaria.

Namun, teks proklamasi tetap dapat dibacakan dengan khidmat. Bahkan saat pembacaan tidak ada satupun tentara Jepang yang membubarkan agenda tersebut. Hal ini akibat dari negoisasi yang dilakukan oleh Wikana dengan kalangan militer Jepang.

Adam Malik

Adam Malik, Tokoh Golongan muda dalam Proklamasi

Haji Adam Malik berasal dari daerah Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia lahir pada tanggal 22 juli 1917. Namanya dikenal sebagai sosok diplomat yang ulung karena kepandaiannya melakukan diplomasi. Adam Malik juga mengambil peran dalam penyusunan proklamasi.

Ia merupakan tokoh golongan muda bersama wikana, darwis, Chaerul Saleh dan lainnya. Setelah kemerdekaan ia dipercaya untuk memegang kursi menteri seperti Menteri Luar Negeri. Pemilihan ini tentu saja bukan sembarangan namun sudah sesuai dengan kemampuan Adam Malik dalam berdiplomasi.

Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi Ketua Majelis Umum PBB ke 26. Ia adalah sosok pertama dari Indonesia yang berhasil duduk di kursi PBB dan memiliki peranan yang penting.

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh, Tokoh Golongan Muda dalam Proklamasi

Chaerul Saleh merupakan pemuda kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia lahir pada tanggal 13 September 1916. Ayahnya bernama Achmas Saleh dan Ibunya bernama Zubaidah. Chaerul Saleh pernah bersekolah di ELS Bukit Tinggi dan HBS yang ada di Medan.

Kemudian, setelah menikah dengan seorang bernama Yohana, ia melanjutkan sekolah di Koning Willemdrie dan Recht School. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kemudian ikut dalam sebuah pergerakan nasional dan menjadi ketua persatuan pemuda pelajar Indonesia.

Pada saat kependudukan Jepang, ia pernah menjadi anggora panitia Seinendan dan anggota putera. Namun, setelah melihat penderitaan yang disebabkan oleh Jepang, ia membenci Jepang. Chaerul Saleh juga terlibat dalam proklamasi. Bahkan sebelum itu, ia terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok.

Saat proklamasi ia menentang usulan bung karno yang meminta semua peserta yang hadir untuk menandatangani naslah proklamasi. Sebab, saat perumusan itu, tidak hanya ada bangsa Indonesia saja melainkan ada para pegawai Jepang.

Hal inilah yang kemudian menjadi hal yang ditentang oleh Chaerul Saleh. Ia berpendapat bahwa para pegawai Jepang tidak berhak untuk menandatangani naskah bersejarah sebab mereka tidak memberikan kontrubusi apa-apa.

Darwis

Darwis merupakan salah satu tokoh pemuda yang terlibat dalam rengasdengklok dan proklamasi. Ia merupakan pemuda kelahiran Sumedang. Namanya kerapa disatukan dengan Wikana. Darwis termasuk ke dalam Barisan Pemuda yang ada di jalan Menteng 31.

Bersama dengan pasukan barisan lain, ia turut serta dalam peserta Rengasdengklok Tidak hanya itu, ia juga terlibat dalam perumusan naskah Proklamasi yang dibacakan oleh presiden Soekarno.

Sayuti Melik

Sayuti Melik, Tokoh Golongan Muda dalam proklamasi

Sayuti Melik termasuk ke dalam tokoh golongan muda. Saat perumusan naskah proklamasi, ia turut hadir mendampingi Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, dan Sukarni. Setelah naskah proklamasi disusun, ia yang mengetik kembali naskah hasil tulisan Soekarno. Kemudian naskah asli dibuangnya ke dalam tempat sampah dan ditemukan oleh BM Diah yang selanjutnya disimpan dan diberikan kepada Ir Soekarno.

fbWhatsappTwitterLinkedIn