Sosiologi

11 Contoh Hubungan Sosiologi dengan Agama

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Hubungan sosiologi dengan agama awalnya diperkenalkan oleh Emile Durkheim di akhir abad ke-19. Menurut Durkheim, agama merupakan proyeksi dari pengalaman sosial.

Sosiologi mempelajari hubungan timbal balik antara kehidupan agama dan tata kehidupan masyarakat. Seringkali kita jumpai, agama dijadikan sebagai dasar hukum dan pedoman dalam hidup kita.

Panduan utama dari peraturan hukum yang tercipta di masyarakat tidak terlepas dari faktor dan unsur agama yang ada. Bentuk penerapan agama ini bermanfaat terhadap peran nilai dan norma sosial dalam sosialisasi di kehidupan bermasyarakat.

Unsur utama dalam agama adalah doktrin dari suatu pihak yang kemudian saling mempengaruhi dan dikaji dalam struktur masyarakat. Struktur masyarakat yang kompleks mempengaruhi keyakinan, norma dan perilaku religiusitas di masyarakat.

Pengertian, pendalaman, kekuatan dan kemampuan mengikat pengikut agama menyebabkan timbulkan kajian sosiologi terhadap agama.  Berikut terdapat sebelas contoh hubungan sosiologi dengan agama dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kebutuhan Dasar

Kebutuhan dasar manusia dikaji oleh berbagai teori sosiologi yang muncul di masyarakat. Kebutuhan dasar akan rasa tenteram dan damai dalam memeluk agama tertentu menjadikan agama sebagai kegiatan ritual yang wajib dilakukan.

Agama menyajikan dukungan moral dari sarana emosional, pelipur di saat individu merasakan ketidakpastian. Misalnya, di Indonesia banyak sekali muncul penganut agama tertentu.

Hal tersebut karena pengaruh dari kehidupan sosial masyarakat yang semakin berkembang.

2. Sistem Fungsional

Sistem fungsional yang berlaku menjadikan individu mengikuti peraturan yang berlaku di masyarakat. Dalam kehidupan beragama, pemikiran fungsional dapat bermakna apabila sesuatu hubungan saling berkaitan dengan lainnya.

Artinya pencarian relasi dalam agama menjadikan reaksi keimanan tertentu dengan mempercayai konsep “Tuhan”. Pertanyaan mengenai adanya Tuhan dikaji secara fungsional dengan mengkonkritkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Misalnya, bagi pemeluk agama islam, mereka menjalankan ibadah sholat lima waktu.

3. Masyarakat Agama

Masyarakat agama muncul akibat kepercayaan yang tumbuh pada masing-masing individu kepada Tuhan. Nilai dan norma sosial merupakan hal yang sangat penting dan tentunya memiliki fungsi positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Contohnya, dalam islam masalah aktivitas sosial dikaitkan dengan rukun islam. Begitu pula dalam kristen yang menempatkan kehidupan Ilahi dalam hubungan manusiawi.

Dalam ajaran Hindu, mengungkapkan bahwa hubungan manusia dan Tuhan adalah satu. Jadi apabila seseorang sadar akan kesatuannya, maka ia akan terlepas dari nafsu.

4. Organisasi Masyarakat

Organisasi masyarakat muncul akibat adanya taraf kehidupan organisasi dari golongan tertentu. Berbagai faktor pendorong interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat memunculkan organisasi yang semakin kompleks.

Dalam masyarakat modern, organisasi keagamaan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Keanggotaan dan kesetiaan setiap individu terhadap agama menjadi longgar.

Hal tersebut menyebabkan hilangnya fungsi agama yang hanya terbatas di kalangan para anggotanya saja. Contohnya, muncul dalam Islam muncul berbagai jenis Islam tertentu. Sedangkan, di kalangan Kristen muncul kaum Protestan dan Katolik.

5. Individu dalam Kelompok

Individu dalam kelompok keagamaan masuk sebagai perwujudan identitas diri individu dalam kehidupan bermasyarakat. Individu yang menunjukkan identitas diri merupakan contoh interaksi antara individu dengan individu.

Identitas diri mengungkapkan tentang siapa , apa dan bagaimana individu berperan dalam masyarakat dari segi agama. Agama memberikan status dan strata baru dalam pertumbuhan dan siklus perkembangan individu melalui ritual keagamaan.

Contoh yang bisa kita ambil Misalnya, ketika seseorang yang rajin beribadah di tempat ibadah tertentu, maka orang akan lebih mudah mengingat dan menjelaskan orang tersebut.

6. Masyarakat Tradisional

Masyarakat tradisional memandang bahwa semua masyarakat menganut agama yang sama. Mereka menekankan nilai-nilai sakral yang tidak boleh dilanggar.

Oleh karena itu, setiap individu dalam masyarakat menganut agama yang sama. Misalnya, di daerah A semua anggota masyarakat beragama islam, sedangkan di daerah B semua anggota masyarakat beragama kristen, dan di daerah C semua anggota masyarakat beragama Hindu.

7. Masyarakat Pra Industri

Masyarakat pra industri merupakan masyarakat yang sedang berkembang. Organisasi masyarakat di sini sudah mulai terpisah dari organisasi keagamaan.

Organisasi keagamaan merupakan organisasi formal tersendiri yang memiliki tenaga profesional. Nilai-nilai agama fokus utamanya pada kesatuan tingkah laku individu dan pembentukan citra pribadinya.

Agama dijadikan sebagai bentuk koreksi diri dalam upaya membentuk pribadi yang lebih baik. Contohnya, individu menjalankan ibadahnya tidak selalu di tempat ibadah umum, tetapi dilakukan di mana saja.

8. Masyarakat Industri Sekuler

Masyarakat industri sekuler terjadi akibat adanya bentuk-bentuk interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat. Mereka memiliki organisasi keagamaan yang terpecah belah dan bersifat majemuk.

Ikatan antara organisasi keagamaan dengan pemerintahan duniawi sudah tidak terlihat lagi. Agama cenderung dilihat sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan dengan persoalan akhirat.

Hal tersebut menyebabkan pandangan bahwa individu hidup di masa sekarang untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Kehidupan beragama juga mulai ditinggalkan sedikit demi sedikit. Contohnya, di daerah dengan anggota masyarakat modern, tempat ibadah sudah mulai sepi dikunjungi.

9. Fungsi Edukatif

Fungsi edukatif di masyarakat tercermin atas dasar dari ajaran agama yang mereka anut. Ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang.

Kedua unsur tersebut mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan kepada penganutnya. Contohnya, di Indonesia banyak lembaga pendidikan yang berbasis agama dalam menyebarkan ilmu pendidikan.

Mereka percaya dengan berdasarkan keagamaan akan menumbuhkan insan-insan yang memiliki moral dan integritas yang lebih baik.

10. Fungsi Kontrol Sosial

Fungsi kontrol sosial dalam kehidupan beragama di masyarakat dijadikan sebagai ajaran yang mutlak. Peran nilai dan norma sosial dalam sosialisasi membawa masyarakat saling berlomba dalam menjalankan ajaran agama yang dianut.

Ajaran agama dianggap sebagai norma dan peraturan mutlak bagi pengikutnya. Dengan demikian, agama sebagai pengawas sosial bagi setiap individu menurut perilaku mereka di masyarakat.

Agama secara dogmatis mempunyai fungsi kritis yang bersifat prophetic (berdasarkan kenabian Tuhan) dalam masyarakat. Contohnya, peraturan-peraturan dari alkitab yang harus dipatuhi pengikut agama.

11. Perubahan Sosial

Perubahan sosial yang semakin cepat terjadi belakangan menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Dampak negatif dan positif perubahan sosial tidak hanya berpengaruh pada perubahan sistem sosial, ekonomi maupun budaya, melainkan juga segi agama setiap anggota masyarakat.

Contohnya, beberapa negara yang melegalkan homoseksualitas. Bagi anggota masyarakat yang tidak setuju mengenai hal tersebut berdasarkan agama tertentu akan ikut memberikan sumbangan ide-ide mereka.

Demikian sebelas contoh hubungan sosiologi dengan agama. Dalam kehidupan sehari-hari, bagi individu yang beragama, agama dianggap sebagai acuan utama dalam menjalani kehidupan. Sebab itulah, agama menjadi penting bagi kehidupan bermasyarakat.