Sejarah

Kerajaan Janggala: Sejarah, Raja, Keruntuhan dan Peninggalan

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sejarah Kerajaan Janggala

Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Janggala

Kerajaan Janggala merupakan salah satu kerajaan kuno yang pernah berdiri di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur. Kerajaan ini memiliki corak Hindu-Buddha dan terbentuk atas pecahan Kerjaan Kahuripan dan Mataran Kuno

Asal mula berdirinya Kerajaan Janggala dimulai saat Kerajaan Kahuripan memindahkan pusat pemerintahan ke Daha dan Raja Airlangga turun tahta pemerintahan. Raja Airlangga membelah Kerajaan Kahuripan menjadi dua wilayah kekuasaan, yaitu Kerajaan Janggala dan Kerajaan Panjalu. Kerajaan Janggala akan dipimpin oleh Mapanji Garasakan dan Kerajaan Panjalu, atau Kediri, akan dipimpin oleh Sri Samarawijaya.

Pemecahan Kerajaan Kahuripan terjadi karena keiinginan Raja Airlangga supaya kedua anaknya tidak memperebutkan satu tahta saja. Dengan demikian, kerajaan Janggala resmi berdiri pada tahun 1042 M dengan pusat pemerintahaan di Kahuripan

Raja Kerajaan Janggala

Sejarah Kerajaan Janggala hanya mencatat 3 nama raja yang pernah menjabat. Walaupun demikian, dipercaya masih ada nama raja-raja lain yang belum tercatat dalam peninggalan karena kerajaan ini mampu bertahan selama 90 tahun. Beberapa nama raja yang tercatat diantaranya adalah :

  • Mapanji Garasakan
  • Alanjung Ahyes
  • Samarotsaha

Masa Pemerintahan Kerajaan Janggala

Kerajaan Janggala memiliki perkembangan yang cukup pesat di awal pemerintahannya jika dibandingkan dengan Kerajaan Panjalu. Peran Mapanji Garasakan cukup kuat dalam perkembangan ini, terutama karena sikap beliau yang cukup aktif dalam mengatur pemerintahan dan diplomasi ke berbagai wilayah. Perkembangan ini dapat terlihat pada beberapa sektor, termasuk sektor ekonomi, budaya, dan pemerintahan.

Pada tahun 1044 Masehi, Mapanji Garasakan berperang melawan Kerajaan Panjalu. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Kerajaan Janggala karena dibantu oleh para pemuka desa Turun Hyang. Akibatnya, pada tahun 1050, Kerajaan Panjalu melakukan penyerangan kembali ke Kerajaan Janggala dengan pasukan Kambang Putih. Tentunya peperangan tersebut masih dimenangkan oleh Janggala.

Hingga pada tahun 1052, Mapanji Garasakan diserang oleh musuh Kadiri dan menyingkir keluar dari pusat pemerintahan Janggala. Alhasil, Kerajaan Janggala dipimpin oleh Alanjung Ahyes yang sebelumnya sudah memantapkan kekuatan di hujan Marsma. Raja ketiga Janggala muncul pada tahun 1059, dengam nama Samarotsaha.

Keruntuhan Kerajaan Janggala

Kerajaan Janggala tetap berdiri kokoh hingga 90 tahun sejak masa pemerintahannya yang pertama. Keruntuhan Kerajaan Janggala bermula pada tahun 1135 akibat kekalahan perang melawan Sri Jayabhaya dari Kerajaan Kadiri. Perang tersebut menyebabkan Kerajaan Janggala berada dibawah kekuasaan Kerajaan Kadiri.

Kerajaan Kadiri pun mengalami kekalahan perang oleh Kerajaan Singosari pada tahun 1222. Akibatnya, seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Kadiri, termasuk Kerajaan Janggala, berpindah menjadi wilayah Kerajaan Singosari. Hingga pada tahun 1293, Kerajaan Singosari diteruskan oleh Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Janggala

Beberapa peninggalan Kerajaan Janggala yang dapat anda temui adalah :

  • Candi Prada

Candi Prada merupakan salah satu candi peninggalan Kerajaan Janggala yang dapat anda temukan di dusun Reno Pencil, Sidoarjo, Jawa Timur. Candi ini sudah cukup lama ditinggalkan dengan kondisi yang kurang begitu baik sejak tahun 1965.

Candi Prada dibangun oleh Mpu Baradah sebagai sarana pemujaan sang Hyang Batara Ismaya, atau disebut juga dengan Batara Kartika. Disekitar candi tersebut juga terdapat Prasasti Watumanak yang disebut juga sebagai Punden Prada oleh warga setempat.

  • Prasasti Turun Hyang dan Sirah Keting

Prasasti Turun Hyang dan Sirah Keting dapat anda temukan di Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis pada tahun 1104 dan menceritakan sejarah peperangan antara Kerajaan Janggala melawan Kerajaan Kadiri. Prasasti ini juga memuat kisah kekalahan Kerajaan Janggala saat melakukan perang dibawah pimpinan Sri Jayabhaya.

  • Tumpukan Batu Bata di Sidoarjo

Di Desa Urang Agung, Sidoarjo, ditemukan sebuah situs bersejarah yang dipercaya juga termasuk dalam peninggalan Kerajaan Janggala. Situs tersebut merupakan sebuah tumpukan batu bata dengan luas 4 meter persegi. Situs ini masih belum memiliki informasi yang lengkap.

  • Sumur Kuno di Pepe Tambak

Sebuah sumur kuno yang terletak di desa Pepe Tambak, Sedari, Siduarjo, juga dipercaya menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Janggala.

Sumur ini banyak digunakan oleh warga setempat untuk melakukan klenik pada saat malam Jumat atau malam suro. Kondisi air pada sumur tersebut masih cukup jernih dan dapat digunakan selayaknya sumur pada umumnya.

  • Peninggalan Lainnya
    • Prasasti Kembang Putih (1050 M) di Kabupaten Tuban
    • Prasasti Malenga (1052 M) di Banjararum, Kabupaten Tuban
    • Prasasti Banjaran (1052 M)
    • Prasasti Garaman (1053 M)
    • Prasasti Sumengka (1059 M)

Janggala dalam Karya Sastra

Nagarakretagama merupakan sebuah karya sastra, yang ditulis tahun 1365, dan memuat nama Kerajaan Janggala. Naskah Babad Tanah Jawi dan Serat Pranitiradya juga memuat nama Kerajaan Janggala bersamaan dengan beberapa naskah-naskah sastra lainnya pada zaman kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Kisah Kerajaan Janggala yang tertuliskan dalam Nagarakretagama sedikit berbeda dengan yang ditemukan di prasasti dan bukti sejarah. Perbedaan tersebut terdapat pada :

  • Nama raja pertama Kerajaan Janggala adalah Lembu Amiluhur, putra Resi Gentayu.
  • Lembu Amiluhur digantikan oleh Panji Asmarabangun (putranya) dengan gelar Prabu Suyawisesa.
  • Panji Asmarabangun digantikan oleh Kuda Laleyan (putranya) dengan gelar Prabu Surya Amiluhur.
  • Kerajaan Janggala tenggelam karena banjir dan raja yang bertahta pindah ke barat untuk mendirikan kerjaaan baru, yaitu Kerajaan Pajajaran