5 Sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang Wajib Diketahui

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Angkatan pujangga baru menjadi angkatan yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Angkatan yang hadir menggantikan kejayaan angkatan Balai Pustaka ini terbentuk pada tahun 1993. Nama angkatan ini diambil dari nama majalah Pujangga Baru yang mempublikasikan para sastrawan pada masa tersebut.

Karya yang muncul dalam era pujangga baru memiliki karakteristik di antaranya yakni becorak politik, banyak mengangkat nasionalisme, dan bertemakan pendidikan. Ada sejumlah sastrawan terkenal yang berasal dari angkatan Pujangga Baru, di antaranya sebagai berikut:

1. Armijn Pane

Armijn Pane merupakan sastrawan yang lahir di Muara Sipongi, Sumatra Utara, pada 18 Agutus 1908 dan wafat di Jakarta pada Februari 1970.

Dirinya berperan penting dalam angkatan Pujangga Baru, bahkan ia merupakan pendiri majalah Pujangga Baru.

Semasa hidup, mantan jurnalis dan redaktur Balai Pustaka ini aktif menerbitkan karya sastra terkenal di antaranya yakni:

  • Jiwa Berjiwa
  • Belenggu
  • Kisah antara manusia
  • Jinak-jinak merpati
  • Gamelan Jiwa.

2. Amir Hamzah

Lahir pada 28 Februari 1911, Amir Hamzah lahir dengan nama Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera. Semasa hidup, Amir Hamzah mendedikasikan diri menjadi seorang sastrawan, penyair, serta pejabat pemerintahan.

Ia turut mendirikan majalah Pujangga Baru bersama rekannya yakni Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Di masa tersebut, dirinya banyak membuat karya sastra yang popular. Puisinya banyak mengangkat tema cinta dan agama. Bahkan ia mendapat julukan sebagai Raja Penyair Zaman Pujangga Baru.

Beberapa karyanya berjudul:

  • Nyanyi Sunyi
  • Buah Rindu
  • Sastra Melayu dan Raja-rajanya.

3. Sutan Takdir Alisjahbana

Selain Armijn Pane dan Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) juga berperan penting dalam munculnya majalah Pujangga Baru. Ia lahir di Natal, Sumatra Utara pada 11 Februari 1908 dan meninggal pada 17 Juli 1994 pada usia 86 tahun.

Pelopor angkatan Pujangga Baru ini merupakan seorang sastrawan, budayawan, dan ahli tata bahasa Indonesia pada era tersebut. Bukan hanya itu, STA juga dikenal sebagai cendekiawan.

Ia merupakan salah satu pendiri Universitas Nasional Jakarta. STA pernah meniadi redaktur dari Panji Pustaka dan Balai Pustaka.

Beberapa karya sastra yang ia karang di antaranya sebagai berikut:

  • Tak Putus Dirundung Malang
  • Tebaran Mega
  • Layar Terkembang
  • Anak Perawan di Sarang Penyamun
  • Kalah dan Menang
  • Perempuan di Persimpangan Zaman
  • Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru.

4. Sanusi Pane

Sastrawan angkatan Pujangga Baru ini banyak menulis puisi dan naskah drama. Ia lahir di Muara Sipongi, Sumatra Utara pada 14 November 1905.

Saudara dari Armijn Pane ini pernan menjadi redaktur dari sejumlah majalah di antaranya majalah Timbul dan Balai Pustaka.

Karyanya banyak mengangkat tentang budaya Timur yakni Indonesia dan India. Pandangan hidupnya terhadap budaya ketimuran ini dituangkan dalam karya drama dan puisi.

Beberapa karyanya yang popular antara lain yakni:

  • Airlangga
  • Kertajaya
  • Pancaran Cinta
  • Puspa Mega
  • Madah Kelana.

5. H.B. Jassin

Hans Bague Jassin atau yang lebih akrab dengan nama H.B. Jassin dikenal sebagai pengarang, penyunting, dan kritikus sastra Indonesia. Ia lahir di Gorontalo pada 31 Juli 1917 dan menghembuskan napas terkahir di Jakarta pada 11 Maret 2000.

Lulusan Fakultas Sastra UI dan Universitas Yale Amerika Serikat ini banyak meraih penghargaan di antaranya meraih Doktor Honoris Causa dari UI dan Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah Republik Indonesia.

Sejumlah judul bukunya yang berkontribusi dalam kesusasutraan Indonesia di antaranya:

  • Tifa Penyair dan Daerahnya
  • Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei
  • Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia
  • Koran dan Sastra Indonesia
  • Darah Laut: Kumpulan Cerpen dan Puisi.
fbWhatsappTwitterLinkedIn