Sejarah Dinasti Umayyah: Masa Keemasan – Faktor Runtuh dan Peninggalannya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Dinasti Umayyah merupakan kekhalifahan yang cukup besar dengan pusat pemerintahan berada di Damaskus dan di Cordoba. Dengan demikian wilayah kekuasaan dinasti pertama ini mencakup wilayah Asia dan Eropa. Seperti halnya kerajaan lainnya dinasti ini juga melakukan perluasan wilayah dengan cara ekspansi. 

Dinasti Umayyah memperluas wilayahnya ke di kota-kota Asia Tengah India dan Afrika bagian barat laut. Pada tahun 685 sampai dengan 705 yakni pada saat berada  di bawah kekuasaan Abdul Al-Malik dinasti ini melakukan ekspansi ke wilayah Bukhara, Samarkand, Khwārezm, Fergana, dan Tashkent. Sementara itu wilayah kekuasaan dinasti Umayyah di Eropa yakni berada di Spanyol. 

Berdiri selama berabad-abad dinasti ini mengalami jatuh bangun selama berkuasa. Berikut ini adalah masa keemasan dan kejatuhan dari Dinasti Umayyah. 

Masa Keemasan Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah menguasai Asia dan Eropa selama lebih dari 3,5 abad dengan dua kali masa kejayaan. Khalifah yang berhasil membawa dinasti Umayyah pada puncak kejayaannya adalah Al Walid bin Abdul Malik yang bertahta pada 89–96 H atau sekitar 705–715 M dan Umar bin Abdul Aziz sejak tahun 99–101 H atau tahun 717–720 M.

Al Walid Abdul Malik

Pada masa Al Walid Abdul Malik pembangunan yang dihasilkan adalah rumah sakit khusus bagi penderita kusta, panti asuhan khusus untuk yang berkebutuhan khusus, pemandu untuk tuna netra, pembangunan pabrik dan gedung pemerintahan, membangun jalan di lereng bukit hingga menyediakan guru untuk anak-anak yang tidak memiliki orang tua. 

Al Walid Abdul Malik adalah merupakan putra sulung dari Abdul-Malik yang merupakan khalifah sebelumnya. Di bawah kekuasaan Al Walid, Dinasti Umayyah berhasil menaklukan Transoxiana pada 706, sebagian Perancis pada 711, Punjab, Sindh serta, Samarkand dan Khwarizm pada 712, Kabul yang saat ini adalah Afganistan pada 713, Tus tahun 715), dan Spanyol pada tahun 711. 

Khalifah Al Walid melanjutkan kebijakan sang ayahanda yakni memberikan kebebasan kepada Al Hajjaj bin yusuf yang merupakan sosok tegas, kejam namun cerdas dan bijaksana Al Hajjaj diberikan kekuasaan politik dan diangkat sebagai menteri pertahanan. Hasilnya adalah kekuatan militer dan angkatan laut Umayyah semakin kokoh. 

Di masa ini jugalah Masjid Agung Damaskus yang masih kokoh hingga hari ini pertama kali di bangun. Selain membangun Masjid Agung Damaskus, Al Walid juga menaruh perhatian yang besar untuk masjid Nabawi yang berlokasi di Madinah dan Masjid Al Aqsa di Yerusalem. 

Setelah Al Walid wafat yakni pada tahun 715 M , kekhalifahan kemudian dilanjutkan oleh adiknya yaitu Sulaiman 

Umar bin Abdul Aziz

Sementara itu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz pembangunan yang dilakukan antara lain adalah menegmbangkan rumah sakit, jalan raya serta rumah singgah bagi para musafir. Serta menerapkan beberapa kebijakan seperti mengembalikan harta kepada pemiliknya, memberantas korupsi, menaikan gaji para pejabat, menyelesaikan masalah  masalah cukai dan jizyah sesuai syari’ah Islam, menyebarkan Islam  ke berbagai penjuru Bumi dengan mengirimkan para pendakwah ke luar negeri dan masih banyak lagi.  

Umar bin Abdul Aziz atau Umar II berkuasa sejak tahun 717 hingga 720 menggantikan khalifah sebelumnya yakni Sulaiman yang telah wafat. Umar II meski  hanya menjabat dalam kurun waktu singkat namun kepemimpinannya menjadi salah satu yang paling berjaya dan dikenang dijuluki  khulafaur rasyidin kelima. 

Pada masa kepemimpinan, Umar II banyak melakukan perombakan pada kota-kota bahkan tak segan untuk mencopot jabatan gubernur yang tak kompeten. Penunjukkan gubernur pun dilandaskan pada kecakapan mereka meskipun dari kalangan oposisi. Beliau bahkan mengawasi secara langsung kinerja pada gubernur agar tidak bertindak sewenang-wenang meski telah menyetorkan pendapatannya. 

Untuk urusan penyerang dan penaklukan kota, Umar II tidak begitu tertarik bahkan menarik pasukannya dari usaha pengepungannya di Konstantinopel. Umar II lebih mementingkan perang untuk berjihad seperti yang dilakukan di perbatasan Romawi dan Syria Utara. 

Kebijakan-kebijakan lainnya yang diterapkan oleh Umar II adalah memisahkan laki-laki dan perempuan di pemandian umum, melarang minuman keras, hingga memberikan keringanan zakat secara adil serta menganggap ilegal pekerjaan tanpa upah. 

Meski sebagian besar pembangunan yang dilakukan Umar II adalah pembangunan moral namun berbagai fasilitas umum juga tetap mendapat perhatian. Salah satu fasilitas umum yang dibangun adalah kanal, jalan, caravanserai, dan klinik kesehatan di Khorasan, Afrika Utara dan Khorasan. 

Faktor Keruntuhan Dinasti Umayyah 

Meski berjaya dan memiliki daerah kekuasaan yang luas namun pada akhirnya Dinasti Umayyah harus mengakhiri kekuasaannya. Dinasti ini mulai goyah ketika mulai muncul kelompok yang merasa tidak puas dengan pemerintahannya. Kelompok oposisi tersebut dipimpin oleh Abbasiyah hingga akhirnya benar-benar jatuh pada tahun 750 Masehi ketika berada di bawah kekhalifahan Marwan II bin Muhammad. 

Meski kekuasaannya di Damaskus berakhir namun akhirnya kembali berkuasa di Cordoba Spanyol. Di Eropa pun Dinasti Umayyah mulai mengalami kemunduran sejak abad ke 9 dimana wilayahnya banyak yang melepaskan diri. Sejak saat itu tidak ada khalifah yang mampu mengembalikan kejayaan Umayyah. Kondisi kepemerintahan yang semakin kacau membulatkan tekad Hisyam III untuk melepaskan jabatannya pada tahun 1031 dengan begitu Dinasti Umayyah benar-benar berakhir. 

Secara garis besar ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kemunduran Dinasti Umayyah. Faktor tersebut antara lain sebagai berikut. 

  • Konflik antar Etnis
    Etnis atau suku Arabia utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) sejak dahulu kala telah mengalami konflik panjang. Pertikaian tersebut semakin meruncing pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Khalifah-khalifah Umayyah pun kesulitan dalam mendamaikan kedua suku ini sehingga perselisihan terus terjadi. 
  • Kuatnya Bangsa Arab 
    Bangsa Arab setelah masa kekuasaan Umayyah menjadi berkembang dengan pesat dan memimpin suku bangsa lainnya. Ditambah adanya status Mawali yang diberikan kepada Non- Arab membuat mereka merasa terdiskriminasikan terutama rakyat yang berada di Irak. 
  • Munculnya Kaum Oposisi 
    Pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah muncul kelompok-kelompok baru yang mengancam keberadaannya. Kelompok tersebut adalah Kaum syi’ah dan khawarij yang terus berkembang. 
  • Putra Mahkota Lebih dari Satu 
    Pada umumnya seorang raja atau pemimpin akan menunjuk satu putra mahkota sebagai yang akan meneruskan kekuasaan. Namun Umayyah memiliki lebih dari satu putra mahkota biasanya mereka adalah putra pertama, kedua dan seterusnya bahkan kerabat dekatnya. Hal ini tentu menimbulkan perselisihan dalam kedudukan kekhalifahan. 
  • Perselisihan Anggota Istana
    Sistem kekhalifahan adalah sistem pemerintahan yang baru bagi bangsa Arab. Sistem ini belum memiliki aturan yang sempurna serta masih banyak ketidakjelasan dan bergantung pada senioritas. Hal ini menimbulkan perselisihan di dalam anggota istana sendiri. 
  • Fanatisme 
    Fanatisme adalah sebuah masalah besar yang ada di tanah Arab. Namun pada masa Islam muncul fanatisme sudah dihilangkan terutama yang ada di  bangsa Arab Selatan dan Arab Utara. Sayangnya masalah ini kembali muncul pada masa kekhalifahan Umayyah terutama pada bangsa Arab Selatan yang berada di bawah pimpinan kabilah Qalb. Fanatisme muncul setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah. 
  • Hedonisme 
    Anggota keluarga atau para penerus pemerintahan Umayyah cenderung menyukai hidup penuh kemewahan. Mereka merasa terbebani ketika diberi kekuasaan sehingga urusan negara pun menjadi kacau. 
  • Munculnya Kaum Abbasiyah
    Kaum Abbasiyah adalah kelompok oposisi yang didirikan oleh keturunan  al-Abbas ibn Abd al Muthalik. Kelompok ini mendapat dukungan penuh dari kaum Syiah terutama dari bani Hasyim untuk menggulingkan kekuasaan bani Umayyah. 

Peninggalan Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah sebagai daulah Islam pertama setelah wafatnya nabi Muhammad ini berkuasa di kawasan Asia hingga Eropa selama lebih dari 300 tahun. Kurun waktu tersebut tergolong cukup lama dan tentunya meninggalkan beberapa jejak sebagai peninggalannya. 

Beberapa peninggalan dari Dinasti Umayyah yang masih bisa kita lihat hingga masa sekarang adalah berikut ini. 

Masjid Al Aqsa

Masjid Al-Aqsa Tetap Dibuka Meski Kasus Covid-19 Melonjak

Bagi umat Islam di seluruh dunia, Masjidil Al Aqsa adalah salah satu bangunan paling penting. Masjid yang berada di kota Al Quds Palestina ini berdiri melewati berbagai zaman sejak pertama kali didirikan oleh Nabi Yakub dan masih bisa kita lihat hingga saat ini. 

Masjid ini telah direnovasi beberapa kali salah satunya adalah oleh Dinasti Umayyah yakni ketika berada di bawah kekhalifahan Khalifah Abdul Malik tahun 690 M. Sebelumnya masjid ini dirawat oleh sahabat Rasulullah yakni Umar bin Khattab. Khalifah Abd Malik bin Marwan menambahkan kubah biru denga total kubah masjid ada 15 buah.

Sejak saat itu Masjidil Aqsa ini terus direnovasi namun dengan tidak mengubah bentuk aslinya. 

Masjid Kubah Batu atau Dome of the Rock 

Dalam bahasa Arab Dome of Rock disebut sebagai Qubbat al-Sakhrah yakni bangunan yang diyakini sebagai karya arsitektur Islam paling tua di dunia. Berada di Yerusalem bangunan masjid yang khas dengan kubahnya yang berwarna kuning keemasan ini dibangun pada abad ke 7 oleh Abd al-Malik ibn Marwan dari Dinasti Umayyah. 

Tak hanya Islam, bangunan ini juga bersejarah bagi umat Yahudi. Dalam sejarah Islam bangunan ini menjadi tempat bertolaknya Nabi Muhammad untuk naik ke surga sedangkan dalam sejarah Yahudi masjid ini merupakan tempat nabi Ibrahim mengorbankan putranya. Hingga hari ini Dome of The Rock masih berdiri dengan kokoh. 

Masjid-Katedral Cordoba

Masjid Cordoba adalah peninggalan dari Dinasti Umayyah yang paling megah di daratan Eropa. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Khalifah Abd ar-Rahman I pada tahun 785 Masehi melalui sejarah yang panjang. Disebut sebagai masjid-katedral karena bangunan ini digunakan secara bersama-sama oleh umat Islam dan umat Nasrani ketika Dinasti Umayyah menaklukan Hispania. 

Pada akhirnya Abd al-Rahman I membeli bangunan yang digunakan untuk berdoa bagi umat Kristen dan mengubahnya menjadi masjid. Abd al-Rahman I menggantinya dengan membangun kembali gereja-gereja yang telah hancur sehingga rakyatnya yang non-muslim tetap bisa beribadah. Ciri khas dari masjid ini adalah tempat ibadah yang berbentuk persegi sangat luas, atap yang berbentuk datar dan ditopang oleh tiang kayu berbentuk setengah lingkaran

Masjid yang terus disempurnakan selama 2 abad ini menjadi bangunan yang paling berpengaruh dan terbesar pada masanya. Saat ini bangunan yang dalam bahasa lokal disebut sebagai Mezquita-Catedral de Córdoba telah dialihfungsikan sebagai gereja. Bangunan ini juga masuk sebagai daftar warisan budaya UNESCO sejak tahun 1984. 

Masjid Umayyah 

Sesuai dengan namanya, Masjid Umayyah adalah jejak Dinasti Umayyah yang dapat kita lihat hingga hari ini di pusat kotanya yakni Damaskus, Syria. Pada masa Dinasti Umayyah masjid ini dibangun oleh Khalid ibn al-Walid. Namun konstruksi awalnya diketahui sudah ada sejak 1000 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Yunani sebagai tempat ibadah. 

Masjid ini masih menggunakan bangunan awal namun diubah mengikuti bentuk masjid pada umumnya setelah terbakar pada tahun 461 H. Masjid ini dibangun memiliki tiga menara, tiga kubah, empat mihrab, tiga saumaah, dan empat gapura. Saat ini masjid Umayyah menjadi 4 dari tempat suci bagi umat Islam dan salah satu masjid terbesar serta tertua di dunia.  

Masjid Jami Halab

Masjid Halab saat ini lebih dikenal sebagai masjid Agung Aleppo yang berlokasi di kota tua Aleppo tepatnya di distrik al-Zalloum. Masjid terbesar di kawasan Suriah ini pada awalnya merupakan tempat pembaptisan serta sisa Zakharia yang merupakan ayah dari Yohanes. 

Masjid yang memiliki arsitektur serupa dengan masjid Damaskus ini mulai dibangun pada abad ke 8 Khalifah Sulaiman bin Abdul. Sayangnya bangunan yang saat ini berdiri bukanlah bentuk aslinya karena masjid yang mengkombinasikan arsitektur Gothic, Romawi dan Arab ini hancur berkali-kali sehingga harus direnovasi. Bangunan yang saat ini masih bertahan adalah hasil dari  Nur ad Din yang selesai pada tahun 1158.

Keunikan dari Masjid Halab atau Masjid Agung Aleppo ini adalah menara yang berbentuk segi empat seluruhnya. 

Masjid Agung Kairouan

Masjid Agung Kairouan adalah masjid peninggalan dari Dinasti Umayyah yang berada di Tunisia, Afrika Utara tepatnya di Kota Kairouan. Berbeda dengan masjid-masjid ada pembahasan sebelumnya yang dibangun oleh khalifah, masjid ini didirikan oleh panglima militer Umayyah yang bernama  Uqbah bin Nafi’ pada tahun 50-55 Hijriyah atau 670-675 Masehi. Oleh sebab itu masjid ini memiliki nama lain sebagai masjid Uqbah. 

Masjid Agung Kairouan hingga saat ini menjadi yang terbesar di wilayah Afrika Utara. Bangunannya pernah hancur akibat serangan dari suku Berber namun segera diperbaiki oleh Hassan bin Nu’man pada tahun 703 Masehi. Arsitektur masjid ini kemudian menjadi patokan masjid-masjid selanjutnya. Masjid ini diperluas pada tahun 724-728 M oleh Khalifah  Hisyam bin Abdul-Malik. Keunikan dari masjid ini adalah di setiap pojok pagarnya terdapat menara seperti yang ada pada benteng-benteng pertahanan. 

fbWhatsappTwitterLinkedIn