Sejarah

Teori Persia: Pengertian – Dasar Teori dan Kelemahannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Islam adalah agama terbesar yang ada di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2018, 86,7% penduduk Indonesia memilih Islam dari 5 agama resmi lainnya. Jumlah pemeluk Islam di Indonesia pun menjadi yang terbanyak di Indonesia yakni 11,92% dari total muslim di dunia. 

Kedatangan Islam di Nusantara diperkirakan sejak abad ke 7 sampai dengan abad ke 13. Masing-masing teori memiliki pendapatnya sendiri. Salah satu teori yang diterima sebagai pertimbangan sejarah Islam di Nusantara adalah teori Persia yang pembahasannya sudah terangkum dalam ulasan sebagai berikut.

Pengertian Teori Persia

Teori Persia adalah sebuah pendapat dari seorang ahli yang merumuskan bagaimana Islam masuk ke kepulauan Nusantara untuk pertama kal. Berdasarkan teori ini Islam hadir di negeri kita berkat para pedagang dari bangsa Persia atau saat ini dikenal sebagai Iran. 

Kedatangannya diperkirakan sekitar abad ke 7 sampai 13 dalam kalender Masehi atau abad 1 dari kalender Hijriah. Mengacu pada teori ini Islam pertama kali masuk ke Nusantara yaitu di Pulau Sumatera. Posisi pulau Sumatera sendiri berdekatan dengan jalur perdagangan global yaitu Selat Malaka. Sehingga tak heran jika pulau ini disinggahi oleh bangsa asing termasuk Persia. 

Teori ini mengatakan bahwa para kaum Syiah Persia melakukan perlayarannya ke wilayah Asia. Menurut mereka, Nusantara yang memiliki lokasi strategis memudahkan mereka untuk berdagang sembari menyebarkan ajaran Islam. 

Pencetus Teori Persia 

Setap teori tentu berdasarkan dari pandangan dan pendapat seseorang. Teori Persia dirumuskan oleh Hoesein Djajadiningrat yang memiliki nama lengkap Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat. Beliau menjelaskan tentan agama Islam di Indonesia dalam karyanya yang berjudul Islam in Indonesia yang terbit pada tahun 1956. 

Hoesein Djajadiningrat merupakan seorang tokoh Sarekat Islam yakni organisasi Islam yang sudah ada sejak 16 Oktober 1905. Ia dikenal sebagai  “bapak metodologi penelitian sejarah Indonesia” karena menjadi orang pertama yang membuka jalan bagi penelitian tentang historiografi Indonesia. 

Dasar Teori Persia 

Seorang ahli dalam mengemukakan pendapat dan pandangan nya tentu tidak bisa sembarangan. Dengan kata lain sebuah teori memiliki bukti yang menjadi landasan teori tersebut. Berikut ini adalah bukti yang digunakan oleh Hoesein Djajadiningrat dalam merumuskan teori Persia. 

  • Peringatan 10 Muharram 

Biasanya dalam sebuah agama memiliki satu hari tertentu untuk sebuah peringatan. Meski peringatan tersebut memiliki tujuan yang sama namun bisa saja caranya berbeda di setiap daerah. 

Namun ada kesamaan antara peringatan dalam agama Islam di Indonesia dengan di Persia (Iran) yakni peringatan 10 Muharram. Peringatan yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram dalam kalender Hijriah ini merupakan hari untuk mengenang wafat nya cucu Nabi Muhammad yaitu Husain bin Ali. Husain bin Ali wafat dalam pertempuran Karbala dan dianggap sebagai Imam ketiga Syiah. 

Selain memiliki kesamaan tradisi pada peringatan 10 Muharram masih ada kesamaan lainnya yaitu pada tradisi Maulid Lompoa. Tradisi ini adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada 29 Rabiul Awal. 

Maulid Lompoa atau Maulid Akbar ini dirayakan oleh umat muslim yang ada di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Tradisi ini merupakan tradisi yang berasal dari kaum Syiah dari Persia.

  • Kesamaan Ajaran Sufi

Ajaran sufi dikenal juga sebagai sufisme dan juga tasawuf yakni sembuh ajaran yang mensucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun dhahir dan batin demi memperoleh kebahagian abadi. Salah satu Sufi di Nusantara adalah Syekh Siti Jenar yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Ulama Sufi yang dikenal juga sebagai Sunan Jepara ini memiliki aliran Al-Hajjaj yang berasal dari Persia. 

  • Kemiripan Kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Persia

Kosakata dalam bahasa Indonesia banyak kemiripan dengan bahasa Belanda.Hal tersebut tentu dikarenakan bangsa Belanda pernah ada di Indonesia bahkan untuk waktu yang lama yakni 3,5 abad. Namun tak hanya dengan Belanda, ternyata bahasa Indonesia atau bahasa Melayu juga memiliki kesamaan dengan bahasa Persia. 

Contohnya adalah “Akhar” dengan “Akhir”, “Esterahat” dengan “Istirahat”. “Yunan” dengan “Yunan” dan masih banyak lagi. Hal ini mengindikasikan bahwa bangsa Persia pernah datang ke Nusantara.

  • Kesamaan Aliran

Tidak hanya tradisi umat Islam Yang mirip antara di Indonesia dengan Persia namun begitu juga alirannya. Islam dibagi menjadi beberapa aliran diantaranya adalah Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Murjiah, Jabariyah, Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

Salah satu aliran yang ada di Indonesia adalah Syi’ah. Ajaran dari Persia ini sudah ada di Nusantara sejak abad ke-12 bahkan ada yang mengatakan jauh sebelum itu. Hingga saat ini diperkirakan ada 1 juta penduduk Indonesia yang beraliran Islam Syi’ah.  

  • Seni Kaligrafi

Seni kaligrafi adalah bentuk dari karya seni rupa yang menonjolkan keindahan sebuah tulisan. Umat Islam biasanya menggunakan seni kaligrafi termasuk pada batu nisan makamnya. Pada makam-makan miliki umat Islam di Indonesia mempunyai kesamaan dengan seni kaligrafi yang ada di Persia. 

  • Perkampungan Leran, Gresik 

Desa Leran adalah perkampungan yang ada di Gresik, Jawa Timur. Perkampungan ini disebut sebagai pusat penyebaran agama Islam pada masanya. Ternyata orang Leran ada juga di Persia. 

  • Penggunaan Istilah Bahasa Persia

Istilah-istilah yang digunakan pada sistem mengeja huruf Arab untuk tanda- tanda bunyi Harakat di Indonesia mengambil dari bahasa Persia atau Iran. 

Tokoh Pendukung Teori Persia 

Teori Persia mendapat dukungan dari seorang tokoh yakni Umar Amir Husein. Beliau adalah orang yang membantu Hoesein Djajadiningrat merumuskan teori ini dengan mengumpulkan berbagai bukti yang menguatkan teori ini. Berkat kerjasama antara keduanya teori ini diterima oleh para ahli sejarah sebagai pertimbangan dalam teori sejarah Islam di Indonesia. 

Kelemahan Teori Persia 

Hoesein Djajadiningrat bersama dengan Umar Amir Husein memberikan banyak bukti sebagai landasan teori dalam merumuskan Teori Persia. Namun bagaimana sebuah teori belum tentu kebenarannya namun juga bukan berarti salah. Tak jarang sebuah teori dipatahkan oleh teori lain karena memiliki kelemahan. 

Begitu juga dengan teori Persia yang dipatahkan dengan fakta bahwa Negeri Para Mullah Iran bukanlah pusat agama Islam. Fakta lainnya adalah jika Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 7 seperti yang dijelaskan dalam teori ini, maka Islam di Timur Tengah masih berada di bawah kekuasaan Khalifah Umayyah yang berpusat di Damaskus, Baghdad, Mekkah, serta Madinah. Sehingga tokoh-tokoh lainnya meragukan para ulama di Persia dapat melakukan dakwah dalam skala besar. 

Teori Persia juga dilemahkan dengan sejarah bangsa asing yang pernah datang ke Nusantara pada masa lampau. Bangsa Persia di Nusantara tidak begitu banyak seperti bangsa Arab, Gujarat dan China.