6 Fakta Bangsa Skandinavia yang Menarik

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Skandinavia dikenal sebagai negera mistis di mana penduduknya hidup tenang menikmati tingkat daya beli per kapita yang tinggi. Terletak di daerah semenanjung bagian paling utara di Benua Eropa, Skandinavia terdiri dari tiga negara, yaitu Denmark, Norwegia, dan Swedia.

Beberapa ada yang menyebut Finlandia, Islandia, dan Kepulauan Faroe juga termasuk di dalamnya. Adanya kesamaan dalam aspek sejarah, budaya, dan bahasa yang membuat negara-negara tersebut masuk dalam satu kelompok yang disebut dengan bangsa Skandinavia.

Namun, fakta menarik apa saja yang ada pada bangsa Skandinavia hingga mereka dijuluki sebagai negara-negara paling bahagia di dunia? Jika belum, mari kita simak bersama fakta-fakta menarik bangsa Skandinavia berikut ini:

  • Merupakan Negara Kesatuan di Masa Lampau

Invasi yang dilakukan Jerman ke daerah utara tepatnya wilayah Baltik, memunculkan inisiasi penggabungan negara-negara di kawasan Eropa Utara. Hingga pada tahun 1397, kerajaan Denmark, Norwegia, dan Swedia bersama-sama dengan wilayah dependensi luar seperti Finlandia menyatakan persatuan di bawah satu kekuasaan bernama Uni Kalmar.

Meskipun berada di bawah satu kekuasaan yang sama, ketiga kerajaan tetap menjadi negara berdaulat yang terpisah dan memiliki rajanya masing-masing. Perbedaan kedaulatan inilah yang sering memunculkan konflik-konflik dan perbedaan kepentingan hingga adanya persaingan antara para raja.

Dikarenakan hal ini terjadi secara terus menerus dan menghambat keberlangsungan Uni Kalmar, pada tahun 1523 ketiga kerajaan memutuskan untuk berpisah dan berdiri dengan kedaulatannya masing-masing hingga saat ini.

  • Penggunaan Salib Nordik pada Bendera Negara

Selain adanya kesamaan dalam aspek budaya, sejarah, bahasa, dan makanan, negara di kawasan Skandinavia juga memiliki bendera yang berdesain sama. Warna dasar ketiga bendera memang berbeda, namun adanya tanda silang di bagian sedikit ke tengah bendera itulah yang membuat ketiganya terlihat hampir sama. Tanda silang ini disebut Salib Nordic dan merupakan simbol dari Kekristenan di kawasan Skandinavia.

Pada abad ke-13, Denmark adalah negara pertama yang menggunakan bendera dengan simbol Salib Nordic sebagai cermin pengadopsian agama Kristen. Satu abad kemudian, Denmark, Norwegia, dan Swedia bersatu di bawah kekuasaan Kalmar, meskipun tidak ada bukti visualnya, bendera yang digunakan dianggap berwarna kuning dengan salib merah ditengahnya.

Setelah kekuasaan Kalmar runtuh, negara-negara Skandinavia lainnya mengadopsi salib ini untuk bendera nasional mereka, namun dengan warna yang berbeda.

  • Masyarakat Skandinavia berbahasa Inggris dengan Baik

Meski setiap negara di kawasan Skandinavia memiliki bahasa nasionalnya masing-masing, namun bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat penting di kawasan ini, seperti sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangsa Skandinavia.

Banyak acara dan pertemuan di antara orang Skandinavia sering kali diadakan dalam bahasa Inggris alasannya sederhana. Selama beberapa dekade terakhir, setiap anak Skandinavia sudah diajarkan berbicara dalam bahasa Inggris sejak usia yang sangat muda di sekolah.

Di sisi lain, banyaknya acara TV dan film dari Amerika dan Inggris yang masuk imbas dari peningkatan globalisasi menginisisasi pemerintah untuk menjalankan program ini.

Adanya reformasi sistem pajak Swedia di 2017, berimbas pula pada kebiasaan masyarakatnya dalam hal daur ulang. Salah satunya terjadi pada brand fashion ternama H&M.

Sejak tahun 2020, pelanggan H&M di Stockholm dapat mengubah pakaian lama mereka menjadi pakaian baru melalui sistem daur ulang garmen ke garmen yang disebut Looop, yaitu di mana H&M membersihkan pakaian lama, kemudian mencabik-cabiknya menjadi serat dan memprosesnya menjadi benang baru, yang kemudian dirajut kembali menjadi pakaian baru yang diinginkan.

Selain itu, adanya ancaman perubahan iklim dunia juga menjadi alasan pemerintah Swedia melakukan perbaikan program daur ulang. Salah satu fokus negara ini adalah mengubah limbah menjadi energi, seperti menghasilkan bahan bakar penggerak kendaraan (bus) dan pemanas ruangan. Sehingga, hanya beberapa persen sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir sampah.

  • Terobsesi dengan Kopi

Diberlakukannya pajak yang tinggi atas produksi alkohol pada abad ke-19 oleh pemerintah Skandinavia, membuat masyarakat memutar otak untuk mencari alternatif lain yang akhirnya menemukan kopi sebagai penggantinya. Meskipun secara fakta kawasan ini jauh dari perkebunan kopi, ketiga negara Skandinavia tersebut merupakan importir dan konsumen biji kopi terbesar di dunia. Dilansir dari data International Coffee Organization (2017), konsumsi rata-rata kopi per tahun di Norwegia dan Denmark masing-masing adalah 9,9 kg per kapita dan 8,7 kg per kapita, sedangkan Swedia sebesar 8,2 kg per kapita.

Ada suatu budaya di Swedia, sajian kopi serta kue khas Skandinavia saat istirahat dan bersantai disebut dengan “fika”. Bahkan, jika kita mengunjungi negara Skandinavia di masa sekarang, akan banyak kita jumpai kedai kopi seperti di Oslo, Stockholm, dan Copenhagen. Kafetaria dan tujuan perhotelan lainnya juga menjadikan kopi sebagai penawaran utama kepada pengunjung.

  • Pajak Tertinggi di Dunia

Selain dikenal dengan pendapatan per kapitanya yang tinggi dan biaya hidup yang rendah, negara-negara Skandinavia juga dikenal dengan pajaknya yang sangat tinggi. Tercatat, tarif PPh setiap individu di Swedia dan Denmark masing-masing adalah 61,85% dan 55,80%.

Sementara di Norwegia, tarif PPh tiap individu adalah 38,52%. Bahkan di tahun 2008, Denmark pernah menerapkan tarif PPh tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar 62,3%.

Meskipun demikian, uang dari hasil pajak tersebut dikembalikan oleh pemerintah dengan berbagai fasilitas yang luar biasa, seperti pendidikan gratis, fasilitas kesehatan gratis, fasilitas umum dan transportasi publik yang nyaman dan bersih, serta dana pensiun.

Imbas dari kebijakan tersebut, semua negara Skandinavia tercatat dengan skor tinggi dalam hal indikator kesejahteraan dan pembangunan utama.

fbWhatsappTwitterLinkedIn