Hermeneutika: Pengertian – Sejarah Perkembangan dan Tokohnya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Pengertian Hermeneutika

Hermeneutika merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat.

Secara etimologi, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani kuno hermeneuein yang memiliki arti mengatakan atau mengungkapkan dengan lantang, menjelaskan atau menerangkan situasi, dan menerjemahkan.

Jika kita runut lebih jauh, kata hermeneutika sering dikaitkan dengan salah satu dewa dalam mitologi bangsa Yunani, yaitu Hermes.

Dalam kisahnya, Hermes memiliki tugas sebagai perantara terkait pesan yang disampaikan oleh dewa-dewa di Olympus, lalu menginterpretasikan dan memberikan pemahaman kepada manusia ke dalam bahasa yang digunakan oleh pendengarnya.

Secara umum, hermeneutika diartikan sebagai studi tentang pemahaman dan interpretasi sebuah makna, terutama tindakan dan teks.

Menurut Richard E. Palmer, definisi Hermeneutika dapat dibagi menjadi enam, yaitu antara lain:

  • Hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci (theory of biblical exegesis)
  • Hermeneutika sebagai metodologi filologi umum (general philological methodology)
  • Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic understanding)
  • Hermeneutika sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of geisteswissenschaften)
  • Hermeneutika sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence and of existential understanding)
  • Hermeneutika sebagai sistem penafsiran (system of interpretation)

Sejarah Perkembangan Hermeneutika

Istilah hermeneutika pertama kali digunakan sejak kemunculan buku dasar-dasar logika karya Aristoteles, seperti Peri Hermeneias. Sejak saat itu, penggunaan rasionalitas dan konsep logika dijadikan sebagai dasar dari hermeneuitas.

Memasuki abad pertengahan (medieval age), hermeneutika digunakan oleh Friedrich Scheleirmarcher seorang ahli Theologia Jerman (1768-1834) sebagai teknik untuk menafsirkan teks-teks tertentu dalam Alkitab.

Sedangkan dalam Islam, istilah Takwil digunakan oleh para ulama untuk penginterpretasian ayat-ayat Mutasyabbihat.

Pada abad pertengahan, ada empat tingkatan interpretasi yang berkembang yaitu, literal, moral, alegoris, dan anagogis. Berikut penjelasannya.

  • Interpretasi Literal

Pencarian makna yang jelas dari sebuah teks dalam kitab suci adalah inti dari pendekatan ini. Makna yang sebenarnya seringnya tersirat dalam setiap kalimat yang telah diterjemahkan ke bahasa tertentu. Namun kadangkala ada pula makna yang sudah tersurat sehingga bisa langsung dipahami oleh pembaca.

  • Interpretasi Moral

Pendekatan ini ingin mengungkapkan adanya sebuah nilai atau hikmah yang bisa diambil di balik sebuah informasi atau situasi yang terjadi.

  • Interpretasi Alegoris

Pendekatan ini masih berkaitan erat dengan interpretasi moral. Interpretasi alegoris menginginkan pembaca atau audiensnya bisa menyimpulkan bagaimana karakter tokoh yang ada dalam sebuah informasi yang disampaikan.

  • Interpretasi Anagosis

Dalam sebuah kitab suci, makna yang ingin disampaikan melalui pendekatan ini adalah penafsiran tentang pandangan kehidupan yang akan datang. Seperti surga sebagai “tempat tinggal abadi”.

Pada abad 18 M sampai awal 19 M, negara-negara Eropa memasuki masa pencerahan (rennaisance) diamana dari empat tingkatan interpretasi yang telah berkembang di abad pertengahan oleh Ernesti (1761) seorang ahli Filologi, direduksi menjadi Literal dan gramatikal eksegesis.

Pemahaman ini kemudian terus dikembangkan oleh beberapa ahli seperti Friedrich August Wolf dan Friedrich Ast.

Seiring perkembangan zaman, dengan banyaknya praktek dan penelitian pada hermeneutika, Schleiermacher mengeluarkan hermeneutika dari disiplin filologi dan memasukannya sebagai salah satu disiplin ilmu filsafat baru.

Selanjutnya, tahun 1889 hingga 1976 Martin Heidegger mengembangkan hermeneutika dari Dilthey sebagai dasar ilmu kemanusiaan yang mengarah ke kajian ontologis, di mana ia menggabungkan konsep kesejarahan dengan makna kehidupan.

Hans-Gorg Gadamer menganggap hermeneutika bukan sebagai metode, namun pemahaman dicapai melalui dialektika. Dengan mengajukan banyak pertanyaan terhadap pesan (khususnya teks) akan memudahkan kita dalam menemukan makna.

Dari panjangnya sejarah hermeneutika, Jurgen Habernas (1929) adalah tokoh yang paling signifikan dengan teorinya tentang kritik sosial.

Ia menganggap bahwa yang menentukan sebuah pemahaman adalah adanya kepentingan sosial (social interest) yaitu adanya keterlibatan kepentingan kekuasaan dari interpreter itu sendiri.

Tokoh-tokoh Hermeneutika

Jika kita berbicara tentang sejarah perkembangan aliran hermeneutika, maka hal tersebut tidak bisa terlepas dari kisah para tokoh-tokoh penting yang mengembangkannya.

1. Friedrich D. E. Scehleiermacher (1768 – 1834)

Dalam pernyataanya, Friedrich Schleiemacher menyebutkan bahwa tugas hermenutika adalah memahami teks sebaik atau bahkan lebih baik daripada pengalamnnya sendiri, memahami pengarang teks lebih baik daripada pengarangnya itu sendiri, dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri.

Schleiermacher dalam pernyataanya banyak dipengaruhi oleh Freidrich Ast dan Freidrich August Wolf. Tugas dari hermeneutika menurut Ast adalah untuk mengeluarkan makna-makna internal dari sebuah teks beserta sifatnya berdasarkan jamannya.

Menurutnya tugas tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sejarah, tata bahasa, dan aspek kerohaniannya (geistege). dari ketiganya dapat dijelaskan dengan tiga taraf berikut antara lain:

  • Hermeneutik atas huruf (Hermeneutik des Buchstabens) atau bahan baku teks
  • Hermeneutik atas makna (hermeneutik des Sinnes) atau bentuk teks
  • Hermeneutik atas aspek kejiwaan (Hermeneutik des Geistes) atau jiwa teks

2. Hans-Georg Gadamer (1900 – 2002)

Hans-Georg Gadamer lahir tahun 1900 di Marburg. Masa mudanya ia gunakan untuk belajar filsafat di salah satu universitas yang ada di kotanya. Meskipun Gadamer disebut sebagai hermeneut sejati, namun karier filsafatnya baru mencapai puncak ketika ia menjelang pensiun yaitu sekitar tahun 1960, dengan bukunya yang berjudul ‘Kebenaran dan Metode’ (Wahrheit und Methode) sebuah dukungan berarti bagi karya Heidegger ‘Sein und Zeit’ (Being and Time).

Secara mendasar, Gadamaer menyatakan bahwa hermeneutika bukanlah persoalan tentang mengajarkan atau tidak mengajarkan tentang metode yang digunakan untuk Geisteswissenschaften. Namun lebih ke sebuah usaha untuk memahami dan menginterpretasikan sebuah teks.

Ada empat faktor yang terdapat di dalam interprestasi menurut Gadamer, antara lain:

  • Bildung, bisa juga disebut dengan pembentukan jalan pikiran. Hal ini menggambarkan cara utama bagaimana manusia mengembangkan bakat-bakatnya.
  • Sensus communis atau pertimbangan praktis yang baik, merupakan istilah yang merujuk pada kata komunitas. Sensus communis ini mampu mebuat kita mengetahui hampir-hampir secara interpretasi.
  • Pertimbangan, dalam hal ini kita akan melakukan penggolongan hal tertentu berdasarkan pandangan yang bersifat universal atau mengenali sesuatu sebagai contoh perwujudan hukum.
  • Selera, merupakan keseimbangan antara insting pancaindra dengan kebebasan intelektual. Selera yang diperlihatkan akan membuat kita mundur dari hal-hal yang kita sukai, serta meyakinkan kita dalam membuat pertimbangan.

Dari faktor atau konsep yang disebutkan di atas, konsep pengalaman masuk di dalamnya. Pengalaman tersebut sifatnya personal, jadi hanya akan valid jika hal tersebut diulangi (terjadi) oleh individu lain.

3. Jurgen Habermas (1929 – sekarang)

Lahir pada tahun 1929 di Gummersbach, selain menekuni bidang filsafat, Gabermas juga tertarik pada bidang politik dan banyak berpartisipasi dalam diskusi “persenjataan kembali” (reamament) di Jerman.

Meski hermeneutika bukanlah pusat kajiannya, namun gagasan-gagasannya banyak mendukung pustaka hermeneutika. Hal ini dapat ditemukan dalam bukunya “Knowledge and Human Interest”.

Menurut Habernas dalam sebuah penjelasan “menuntut adanya penerapan proporsi-proporsi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis” (Habermas, 1972:144). Sementara itu pemahaman memiliki arti “sebuah kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu”.

Pendekatan dalam hermeneutika dimisalkan dengan adanya aturan-aturan linguistik abstrak dalam kegiatan yang bersifat komunikatif. Hal ini dikarenakan sebuah penalaran memiliki sifat melebihi bahasa.

Menurut Habernas, pemahaman hermeneutika mempunyai tiga momentum:

  • Pengetahuan praktis yang sifatnya reflektif, akan mengarahkan kita pada pengetahuan tentang diri sendiri. Dengan melihat pada sebuah dimensi social di mana kita sedang berada, kita akan melihat bagaimana gambaran diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita diharapkan untuk mampu membaurkan diri dalam masyarakat.
  • Pemahaman teradap aliran hermeneutika perlu adanya sebuah penghayatan. Apabila hal ini dihubungkan dengan sebuah kata kerja, maka akan membawa kita pada sebuah tindakan nyata (praxis).
  • Pemahaman hermeneutika sifatnya global. Dimulai dengan mengandaikan adanya sebuah tujuan khusus beserta pemahamannya, yang mana hal tersebut bisa ditentukan secara bebas atau independent dengan tujuan utama, yaitu mencapai perealisasinya. Melalui tindakan yang sifatnya komunikatif, aliran hermeneutika memiliki bentuknya yang nyata, yaitu kehidupan sosial (social life).

4. Jacques Derrida (1930 – 2004)

Jacques Derrida merupakan filsuf kontemporer Perancis kelahiran 15 Juli 1930 (El Biar, Aljazair), dan sering dianggap sebagai pengusung tema dekonstruktif dalam filsafat pascamodern.

Derrida memuat gagasannya tentang “obat’ buatan plato dalam La Dissemimanation. Ia meyatakan bahwa semua benda cair seperti tinta, cat, maupun parfum adalah obat-obatan yang diminum lalu terserap ke dalam tubuh. 

Dari pernyataan ini, dapat kita ketahui bahwa memahami sebuah istilah jauh lebih penting dari pada sekedar mengetahui makna atau tanda kata-kata yang dipergunakan dalam ucapan.

Lebih tepatnya, pembaca memposisikan diri sebagai tokoh dalam teks yang ia baca dengan tujuan agar lebih mudah dicerna.

Dari seluruh gagasannya, dapat kita simpulkan bahwa Jacques bukanlah seorang pemikir relatif -empiris, skeptis, maupun seseorang yang anti dengan kebenaran. Namun, jika ada keraguan terhadap kebenaran di dalamnya, maka bukan interpretasi terhadap teks yang lemah, melainkan bahasa lah yang menjadi faktor kelemahannya.

5. Wilhelm Dilthey (1833 – 1911)

Wilhelm Dilthey merupakan filsuf asal Jerman yang termahsyur dengan riset historisnya dalam bidang hermeneutika. Ambisinya terhadap penyusunan dasar epistemologis baru terhadap pertimbangan sejarah mengenai pemahaman dunia sebagai dua wajah, yaitu interior dan eksterior sangatlah besar.

Selain itu, Dilthey memiliki ketertarikan terhadap karya-karya dan kehidupan intelektual dari seorang Schleiermacher, seperti kemampuannya dalam menggabungkan teologi dan kesusastraan dengan karya-karya filsafat.

Dalam sejarahnya, Dilthey seakan-akan meneguhkan sejarah dan filsafat menjadi satu tujuan untuk mengembangkan sebuah pandangan filosofis yang komprehensif, serta tidak terhalang oleh dogma metafisika dan tidak diredupkan oleh adanya prasangka.

Satu hal yang menjadi kesulitan Dilthey dalam penelitiannya, yaitu menyejajarkan antara sejarah dengan penelitian ilmiah.

6. Paul Ricoeur (1913 – 2005)

Ricoeur menyatakan bahwa keseluruhan filsafat pada dasarnya merupakan sebuah interpretasi, seperti yang ia kutip dari Nietzsche, bahwa hidup adalah sebuah interpretasi (Ricoeur, 1974).

Setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. Jadi tidak mengherankan jika menurut Ricoeur tujuan hermeneutika adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore, 1983).

Adanya “perjuangan” melawan distansi kultural merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh berbagai macam hermeneutika.

Lebih luas lagi, Paul Ricoeur mendefinisikan hermeneutika sebagai teori yang digunakan dalam upaya pemahaman dalam hubungan interpretasi terhadap teks. Menurut Ricoeur, manusia adalah bahasa, dan bahasa merupakan syarat utama bagi semua pengalaman manusia.

fbWhatsappTwitterLinkedIn