Sejarah

15 Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat Beserta Biografi Singkatnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sejak tahun 1959 sampai 2019, Sumatera Barat memiliki 15 tokoh pahlawan nasional. Lalu, siapa saja pahlawan nasional tersebut? Bagaimana peranannya dalam memerjuangkan kemerdekaan? Selengkapnya akan kita bahas berikut ini.

1. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta atau yang kerap disapa Bung Hatta, lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Namanya sudah pasti tak asing lagi di telinga kita. Ia merupakan salah satu pejuang kemerdekaan, kosenptor Pancasila dan UUD 1945 sekaligus proklamator kemerdekaan RI bersama Bung Karno. Kontribusinya pada negara ini sudah tentu tak diragukan lagi.

Banyak sekali yang telah beliau korbankan untuk memerjuangkan NKRI. Selain menjadi pejuang, Bung Hatta juga turut mendampingi Bung Karno dalam memimpin negara ini. Ia didaulat menjadi wakil presiden pertama RI. Atas semua jasa-jasa yang telah diberikannya, beliau ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 7 November 2012.

2. Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir merupakan salah satu pejuang pergerakan kemerdekaan sejak zaman kolonial. Ia lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang. Ayahnya merupakan keturunan Kotogadang, Agam. Sementara ibunya merupakan seorang bangsawan Melayu keturunan Minang. Peranannya dalam memerjuangkan kemerdekan tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia adalah salah satu sosok yang reaktif kepada penjajah. Ia bahkan berulang kali keluar masuk penjara karena kerap melakukan perlawanan.

Pada masa awal kemerdeakaan, ia ditunjuk menjadi perdana menteri. Saat menjabat sebagai perdana menteri, Sutan Sjahrir yang memerjuangkan pengakuan atas kedualuatan RI. Selain itu, ia juga yang menjadi pencetus pertama politik bebas aktif. Sutan Sjahrir wafat pada tanggal 9 April 1966 dan langsung ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada hari itu juga.

3. H. Agus Salim

Laki-laki yang memiliki nama Masyhudul Haq atau yang kerap dikenal dengan Haji Agus Salim ini lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat. Ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Sutan Sjahrir. Ia adalah sepupu dari ayahnya Sutan Sjahrir. Haji Agus Salim diberi jululan The Grand Old Man, karena keterlibatannya dalam memerjuangkan kemerdekaan meskipun usianya yang tak lagi lama.

Ia bahkan sudah ikut memerjuangkan kemerdekaan sejak zaman Hindia Belanda. Ia mahir dalam berbahasa asing, bahkan ia menguasai 7 bahasa asing. Ia kerap terlibat dalam diplomasi pengakuan kedaulatan RI pada masa awal merdeka. Haji Agus Salim keninggal dunia pada tanggal 4 November 1954. Atas semua jasa-jasa yang telah diberikannya, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Soekarno pada tanggal 27 Desember 1961.

4. Tan Malaka

Pemilik nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka atau yang kerap disapa Tan Malaka ini lahir di Nagari Pandam Gadang, Limapuluh Kota Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni 1897. Ia turut berperan dalam memerjuangkan kemerdekaan RI dengan melakukan perlawanan kepada pihak kolonial. Sama seperti halnya Sutan Sjahrir, ia kerap keluar masuk penjara karena aksinya yang dianggap membahayakan dan mengancam pemerintah kolonial Belanda.

Tan Malaka diberi gelar Bapak Republik Indonesia sebab ialah yang pertana kali mengusulkan nama Republik Indonesia. Usulan tersebut dipakai hingga saat ini untuk menamakan negara kita. Ada satu kalimat yang terkenal dari Tan Malaka yakni terbentur, terbentur, terbentur lalu terbentuk. Tan Malaka wafat pada tanggal 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Saat wafat, ia berusia 51 tahun. Atas semua jasanya, ia diberi gelar pahlawan nasional pada tanggal 28 Maret 1963 oleh Presiden Soekarno.

5. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol lahir pada tahun 1772 di Bonjol, Pasaman. Peranannya dalam memerjuangkan kemerdekaan adalah menjadi pemimpkn kaum Padri melawan tentara Belanda. Saat itu terjadi perselisihan antara kaum padri dan kaum adat. Perselisihan ini dibumbui dengan politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda. Belanda sengaja memecah persatuan kedua kaum tersebut agar tidak melakukan perlawanan kepada Belanda.

Namun, berkat kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol, kaum Padri dan kaum Adat dapat berdamai dan bersatu melawan Belanda. Atas halnya dilakukannya inilah ia ditangkap oleh Belanda untuk diajak berunding. Sayangnya, Tuanku Iman Bonjol menolak untuk bekerja sama. Ia lebih memilih diasingkan. Ia kemudian diasingkan di Sukabumi, Ambon dan Manado. Ia meninggal dunia pada tanggal 6 November 1864. Atas semua jasa yang telah diberikannya, ia diangjat menjadi pahlawan Nasional oleh Presuden Soekarno. Tidak hanya itu, nama dan wajahnya diabadikan di dalam uang kertas pecahan Rp5000.

6. Muhammad Yamin

Muhammad Yamin lahir pada tanggal 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Keterlibatannya dalam berbagai agenda memerjuangkan kemerdekaan sudah terlihat sejak zaman kolonial Belanda. Ia bahkan aktif terlibat dalam kongres pemuda II pada tahun 1923. Tidak hanya itu, ia juga merupakan salah satu tokoh yang mengajukan usulan mengenai Pancasila dan UUD.

Muhammad Yamin merupakan penggali sejaeah, sastrawan dan ahli bahasa. Pada masa awal kemerdekaan ia sempat menjabat menjadi menteri di beberapa departemen. Muhammad Yamin meninggal dunia pada tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Ia diangkat menjadi pahlawan nasional atas kontribusinya dalan memerjuangkan kemerdekaan.

7. Mohammad Natsir

Mohammad Natsir Dt Sinaro Panjang merupakan anak dari pasangan Idris Sualtan Saripado dan Khadijah. Ia lahir di Alahan Panjang, Solok. Ayahnya merupakan seorang pegawai pemerintah yang pernah bertugas di Alahan Panjang. Mohammad Natsir pernah mengenyam pendidikan di 3 kota yakni Maninjau Alahan Panjang, Bandung dan Padang. Ia pernah memimpin Masyumi pada saat parlemen RIS. Ia juga pernah menjadi menteri penerangan dan perdana menteri yang saat itu diberi nama kabinte Natsir.

Saat menjabat menjadi pemimpin Masyumi, ia pernah mengusulkan mosi untuk kembali kepada bentuk negara kesatuan. Sebab, saat itu negara berbentuk Republik Indonesia Serikat. Mosi yang dilontarkannya kemudian diikuti oleh parlemen dan negara bagian sehingga RIS bubar. Atas semua jasa yang telah diberikannya, ia ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY pada tanggal 6 November 2008.

8. Buya Hamka

Laki-laki yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa kita kenal Buya Hamka lahir pada tanggal 17 Februari 1908 di Nagari Sungai Batang, tepi Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Beliau merupakan seorang ulama besar, pendidik, sastrawan sekaligus pejuang kemerdekaan. Beliau lahir dari seorang ulama besar asal Minangkabau yang bernama Syekh Dr. Abdul Karim Amrullah.

Selama hidupnya, ia aktif menulis dan menghasilkan 94 buku. Buya Hamka meninggal dunia di RS Pertamina, Jakarta pada saat bulan Ramadan. Saat itu, ia berusia 73 tahun 5 bulan. Kemudian, jasadnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Atas emua jasa-jasanya, Buya Hamka ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY pada tahun 2011.

9. Abdul Muis

Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juli 1883 di Sungai Pua, Agam, Sumatera Barat. Ia merupakan seorang pejuang kemerdekaan sejak zaman Hindia Belanda. Ia pernah menjadi anggota dari Volksraad. Meskipun begitu, perjuangannya melawan pemerintah kolonial tak pernah sekalipun surut. Kegigihannya melawan kolonial Belanda, membuatnya ditangkap dan diasingkan di Jawa Barat.

Atas semua jasa yang telah diberikannya, ia ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada tanggal 30 Agustus1959. Ia bahkan menjadi pahlawan nasional pertama yang ditetapkan dan dikukuhkan oleh pemerintah RI.

10. Rasuna Said

Pemilik nama lengkap Rangkayo Hj. Rasuna Said lahir pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau. Ia merupakan seorang pendidik, tokoh politik, pejuang emansipasi sejak zaman Hindia Belanda. Selain itu, ia juga merupakan salah satu dari pendiri Persatuan Muslimin Indonesia atau Permi.

Pada masa penjajahan Belanda, ia aktif menyebarkan pidatonya yang mengandung isi untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Sebab hal inilah yang membuatnya dipenjara. Pada saat masa perang kemerdekaan, ia ikut terlibat di Front Pertahanan Nasional dan pernah mewakili Sumatera Barat di KNIP pada masa awal kemerdekaan. Rasuna Said meninggal dunia pada tanggal 2 November 1965 di Jakarta.

11. Adnan Kapau Gani

Adnan Kapau Gani lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat. AK Gani merupakan seorang dokter, tokoh milter sekaligus politisi. Ia juga pernah menjabat sebagai menteru, wakil perdana menteru hinggi gubernur di Sumatera Selatan. Ia banyak membantu dalam pengadaan perlengkapan militer melalui penyelundupan dari Singapura. Sama seperti pahlawan lainnya, ia juga keral keluar masuk tahanan pada masa pemerintahan Jepang. Atas semua jasa-jasanya, AK Gani diangkat sebagai pahlawan nasinaonal pada tanggal 6 November 2007 oleh Presiden Soekarno.

12. Ruhana Kudus

Ruhana Kudus lahir di Koto Gadamg, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desber 1884. Ia memiliki hubungan darah dengan Sutan Sjahrir, ia adalah kakak satu ayah dari Sutan Sjahrir. Ruhana adalah wartawati pertama Indonesia dan juga sebagai pendiri Surat Kabar Soenting Melajoe. Ia aktif dalam meningjatkan pendidikan serta keterampilan kaum perempuan dengan mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia yang berada di Kota Gadang. Ruhana Kudus meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972 di Jakarta. Atas semua jasa yang telah diberikannya, Ruhana Kudus ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Jokowidodo pada tanggal 7 November 2019.

13. Ilyas Ya’kub

Ilyas Ya’kub lahir di Asam Kumbang, Bayqng, Pesisir Selatan, pada tanggal 14 Juli 1903. Ia merupakan seorang pendiri dari Persatuan Muslim Indonesia atau Permi. Ia termasuk tokoh yang menentang politik yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Ilyas Yakub juya kerap ikut perang dalan kemerdekaan. Oleh sebab itulah, ia dibuang ke Digul bahkan sampai ke Australia. Atas semua jasa yang telah diberikannya, Ilyas Yakub ditetapkan sebagai pahlawan Nasional oleh Presiden BJ Habibie.

14. Bagindo Aziz Chan

Bagindo Aziz Chan lahir pada tanggal 30 September 1910 di Padang. Ia merupakan anak keempat dari 6 bersaudara. Ia adalah anak dari pasangan Bagindo Montok dan Djamilah. Bagindo Aziz Chan merupakan seorang wali kota Padang pada masa perjuangan. Sebelum menjabat sebagai wali kota, ia pernah menjabat sebagai wakil wali kota. Kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1946, ia diangkat menjadi wali kota Padang. Bagindo Aziz Chan meninggal dunia karena ditembak oleh tentara Belanda menjelang Agresi Militer I atau sekitar tahun 1947. Atas semua jasa yang telah diberikan, ia diangjat menjadi pahlawan nasional oleh Presiden SBY pada tahun 2005.

15. Hazarin

Prof. Hazarin lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 28 November 1906. Ia merupakana anak dari sepasang suami istri bernama Zakaria Bahri dan Aminah. Ayahnya merupakan orang Bengkulu sementara ibunya asli Minangkabau. Hazarin merupakan seorang pakar hukum adat dan juga pernah menjabat sebagai menteri dalam negeri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo. Hazarin wafat pada tanggal 11 Desember 1975 di Jakarta. Atas semua dedikasinya, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden BJ Habibie.