Unggah Ungguh Basa Jawa: Jenis dan Contohnya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Dalam tata bahasa Jawa dikenal adanya unggah-ungguh basa, yaitu tata cara penggunaan bahasa untuk berbicara kepada orang lain sesuai dengan kedudukan atau status lawan bicaranya.

Dalam tradisi Jawa, penggunaan bahasa kepada orang dengan status atau kedudukan yang lebih tinggi berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang setara. Demikian juga ketika berbicara dengan orang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih muda usianya juga akan berbeda.

Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai unggah-ungguh basa dan jenis-jenisnya yang dikenal dalam tradisi Jawa.

Basa Ngoko

Basa ngoko merupakan jenis bahasa yang informal, santai, dan banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa ini merupakan tingkatan bahasa yang lebih rendah dibandingkan basa krama.

Dalam tata bahasa Jawa, basa ngoko dibedakan menjadi dua, yaitu Basa Ngoko Lugu (Wantah) dan Basa Ngoko Alus (Andhap). Basa ngoko lugu merupakan tingkatan bahasa yang paling rendah, sedangkan basa ngoko alus berada satu tingkat diatas basa ngoko lugu.

Basa Ngoko Lugu (Wantah)

Basa ngoko lugu atau wantah adalah basa ngoko yang seluruh kata-kata dalam kalimatnya menggunakan basa ngoko tanpa dicampuri dengan jenis basa lainnya.

Ciri-ciri dari basa ngoko lugu adalah:

  • Kata-katanya ngoko semua
  • Awalan dan akhiran tidak dijadikan krama.

Berikut adalah penggunaan basa ngoko lugu dan contohnya:

  • Percakapan antara anak dengan anak lain yang seusia
    Contohnya:
    Bud, iki garisanmu sing dakselang mau!
    (Bud, ini penggarismu yang aku pinjam tadi!)
  • Percakapan orang tua kepada anak kecil atau anaknya
    Contohnya:
    Le, yen budhal sekolah sing ngati-ati!
    (Nak, jika berangkat sekolah yang hati-hati!)
  • Percakapan guru kepada muridnya
    Contohnya:
    Cah, yen ngerjakno ulangan aja ngerpek!
    (Anak-anak, kalau mengerjakan ulangan jangan mencontek!)
  • Percakapan orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda
    Contohnya:
    Dhik, kapan ta dolan menyang Surabaya maneh?
    (Dik, kapan main ke Surabaya lagi?)
  • Percakapan majikan kepada bawahannya
    Contohnya:
    Mbok, menyanga pasar saiki, tukokna sayur bayem lan tempe
    (Bi, pergilah ke pasar sekarang, belikan sayur bayam dan tempe)
  • Perkataan orang kepada dirinya sendiri
    Contohnya:
    Piye ta karepe, bola-bali kok mesthi aku sing diseneni.
    (Gimana sih maunya, mesti aku yang dimarahi)
  • Anak kecil yang belum bisa berkata-kata dengan baik/sempurna
    Contohnya:
    Pak, kowe wis mangan apa durung?
    (Pak, kamu sudah makan apa belum?)

Basa Ngoko Alus (Andhap)

Basa ngoko alus atau andhap adalah basa ngoko yang tercampur dengan basa krama inggil, baik untuk yang diajak bicara (orang kedua) maupun terhadap orang yang dibicarakan (orang ketiga).

Ciri-ciri basa ngoko alus adalah sebagai berikut:

  • Kata-kata dalam kalimatnya ngoko tetapi tercampur dengan krama inggil
  • Yang berupa krama inggil adalah kata-kata yang terdiri atas: bagian dari tubuh, sandhangan dan kriya (kata kerja) dari orang yang diajak bicara atau yang dibicarakan.
  • Awalan dan akhiran tidak diubah menjadi krama
  • Kata “aku” tidak berubah
  • Kata “kowe” (kamu) berubah menjadi “panjenengan” atau “sliramu”

Berikut adalah penggunaan basa ngoko alus dan contohnya:

  • Orang tua kepada orang yang lebih muda, tetapi memiliki kedudukan tinggi
    Contohnya:
    Tindake nitih bis apa ngasta kendaraan dhewe, Nak?
    (Berangkatnya naik bis apa membawa kendaraan sendiri, Nak?)
  • Orang yang seusia atau sepantaran atau sama pekerjaannya, tetapi saling menghargai satu sama lain.
    Contohnya:
    Wingi sida dhahar ngendi, ing restoran apa warung pojok?
    (Kemaren jadi makan dimana, restoran atau warung pojok?)
  • Orang yang lebih tua kepada orang yang lebih  muda yang sudah lama tidak bertemu.
    Contohnya:
    Suwe banget orang nate ketemu, sliramu ana ngendi saiki?
    (Lama sekali tidak pernah bertemu, kamu tinggal dimana sekarang?)
  • Istri kepada suaminya.
    Contohnya:
    Mas, Panjenengan mengko kondur jam pira?
    (Mas, kamu nanti pulang jam berapa?)
  • Orang yang sama-sama memiliki kedudukan terhormat (priyayi) yang sudah akrab.
    Contohnya:
    Taun ngarep panjenengan apa sida tindak haji?
    (Tahun depan anda apakah jadi berangkat haji?)

Basa Krama

Basa krama bisa dikatakan sebagai bahasa Jawa yang sifatnya formal dan sopan. Basa krama memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan basa ngoko. Dalam tata bahasa Jawa, basa krama terbagi menjadi dua, yaitu Basa Krama Lugu (Madya) dan Basa Krama Alus (Inggil).

Basa krama lugu memiliki tingkatan yang lebih rendah dibandingkan basa krama inggil, tetapi lebih tinggi daripada basa ngoko alus. Sementara itu, basa krama inggil adalah jenis bahasa dengan tingkatan paling tinggi dari yang lainnya.

Basa Krama Lugu (Madya)

Yang dimaksud dengan basa krama lugu atau basa madya adalah basa yang kata-kata dalam kalimatnya menggunakan kata krama semua tanpa dicampur dengan krama inggil.

Ciri-ciri dari basa krama lugu adalah sebagai berikut:

  • Kata-kata yang digunakan adalah krama tanpa dicampur dengan krama inggil
  • Awalan dan akhirannya dikramakan
  • Kata “ku” atau “aku” diubah menjadi “kula”
  • Kata “kowe” diubah menjadi “sampeyan”

Berikut adalah penggunaan basa krama lugu dan contohnya:

  • Percakapan antar teman yang belum akrab
    Contohnya:
    Pak Andi, kula mangke badhe ningali bal-balan. Sampeyan napa tumut?
    (Pak Andi, saya nanti mau nonton sepak bola. Anda apa ikut?)
  • Percakapan orang tua kepada orang yang lebih muda yang tidak akrab
    Contohnya:
    Nak, Sampeyan napa wis dhahar?
    (Nak, kamu apakah sudah makan?)
  • Percakapan orang kepada orang lain yang baru ketemu
    Contohnya:
    Mas, mangga tumut bis niki, enggal malih bidhal.
    (Mas, mari ikut bis ini, sebentar lagi berangkat)
  • Percakapan bawahan kepada atasannya.
    Contohnya:
    Bu, niki sampun jam sanga, sampeyan siyos kesah jam pinten?
    (Bu, ini sudah jam sembilan, Anda jadi pergi jam berapa?)

Basa Krama Alus (Inggil)

Basa krama alus atau inggil adalah basa krama yang kata-kata dalam kalimatnya tercampur dengan krama inggil. Adapun ciri-ciri dari basa krama alus ini adalah sebagai berikut:

  • Kata-katanya krama dan tercampur dengan krama inggil
  • Awalan dan akhirannya dikramakan
  • Kata “ku” atau “aku” diubah menjadi “kula”
  • Kata “kowe” berubah menjadi “panjenengan”
  • Kata yang di krama inggilkan adalah: bagian tubuh, sandhangan dan kriya (kata kerja) yang dilakukan orang yang diajak bicara atau yang dibicarakan.

Berikut adalah penggunaan krama alus atau inggil dan contohnya:

  • Percakapan anak terhadap orang tuanya
    Contohnya:
    Paklik, panjenengan mangke punapa siyos tindak kaliyan rama?
    (Paman, paman nanti apakah jadi pergi bersama ayah?)
  • Percakapan bawahan kepada majikannya
    Contohnya:
    Bu, kalawau wonten tamu madosi panjenengan
    (Bu, tadi ada tamu yang mencari ibu)
  • Percakapan bawahan kepada atasannya
    Contohnya:
    Pak, panjenengan kemawon ingkang paring dhawuh pangandika!
    (Pak, Bapak saja yang memberikan kata sambutan!)
  • Percakapan orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua
    Contohnya:
    Mangga Bik, Panjenengan pinarak rumiyin
    (Mari bi, mampir dahulu)

fbWhatsappTwitterLinkedIn