Sosiologi

3 Teori Sosiologi Pendidikan yang Wajib dipahami

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sosiologi pendidikan adalah studi mengenai bagaimana institusi publik dan pengalaman individu memengaruhi pendidikan dan hasilnya.

Baik pendidikan formal maupun pendidikan informal, selalu dilihat sebagai usaha manusia optimistik mendasar yang dikenali dari aspirasi untuk kemajuan dan kesejahteraan.

Pendidikan dipahami oleh banyak orang sebagai usaha untuk mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi dan memperoleh kekayaan dan status sosial.

Pendidikan dianggap sebagai tempat anak-anak bisa berkembang sesuai kebutuhan dan potensi unik mereka.

Selain itu juga sebagai salah satu arti terbaik dalam mencapai kesetaraan sosial yang lebih tinggi. Berikut ini teori sosiologi pendidikan

1. Teori Fungsionalisme

Tokoh sosiologi klasik Emile Durkheim adalah salah satu teoritisi fungsi sosial dalam pendidikan.

Durkheim meyakini bahwa pendidikan moral dibutuhkan untuk membangun dan menjaga solidaritas sosial di masyarakat.

Solidaritas sosial yang menguat mengurangi munculnya gejala disintegrasi sosial dan masalah-masalah sosial lainnya.

Pendidikan moral adalah sarana menuju sebuah tatanan kehidupan sosial yang harmonis.

2. Teori Interaksionisme Simbolik

Pendekatan ini fokus pada proses interaksi dalam lembaga pendidikan seperti sekolah dan outcome dari interaksi tersebut. Sebagai contoh, interaksi antara guru dan murid di sekolah.

Teori interaksionalisme simbolik melihat bagaimana karakteristik sosial membentuk interaksi sosial seperti interaksi antar gender, kelas, ras, dan sebagainya, dan bagaimana interaksi tersebut menciptakan ekspektasi antara guru dan murid.

Guru mengharapkan perilaku tertentu dari murid tertentu, begitu pula murid pada guru.

Guru menaruh ekspektasi tertentu pada murid perempuan untuk berperilaku yang berbeda dengan murid laki-laki.

3. Teori Konflik

Pendekatan teori konflik dalam sosiologi pendidikan terinspirasi Karl Marx yang mengkaji relasi antara pekerja dan pemilik faktor produksi dalam sistem ekonomi kapitalisme.

Teori konflik dalam sosiologi pendidikan memiliki fokus investigasi pada bagaimana institusi pendidikan berkontribusi pada reproduksi hierarki dan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Pendekatan ini pada awalnya melihat bahwa institusi pendidikan seperti sekolah atau universitas merefleksikan sebuah hierarki berdasarkan kelas, gender, ras, dan sebagainya. Perbedaan tersebut justru direproduksi oleh proses pendidikan.

Pendekatan konflik juga mengasumsikan bahwa sistem pendidikan yang berlaku beserta kurikulumnya adalah produk dari kekuasaan yang sedang dominan, dari nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki oleh mayoritas.

Kecenderungannya adalah, nilai-nilai tersebut memproduksi proses pendidikan yang mengesampingkan kelompok-kelompok minoritas berdasarkan, kelas, gender, agama, ras, dan lain-lain.