Manajemen Energi: Pengertian, Jenis dan Hambatan

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Manajemen Energi?

Manajemen energi merupakan suatu program yang disusun dan diselenggarakan secara sistematis yang berguna bagi pemanfaatan energi secara efektif dan efisien dengan membuat perencanaan, pencatatan, pengawasan, dan evaluasi secara berkelanjutan tanpa mengurangi mutu pelayanan dan produksi.

Manajemen energi meliputi perencanaan dan pengoperasian unit konsumsi dan produksi yang berhubungan dengan energi untuk mengelola secara aktif usaha penghematan dan penggunaan energi dan penurunan anggaran energi. 

Adapun tujuan dari manajemen energi diantaranya yaitu menghemat biaya, melindungi iklim, dan menghemat sumber daya. Manfaat manajemen energi bagi konsumen adalah memberikan kemudahan untuk memperoleh akses terhadap energi sesuai dengan kebutuhan.

Manajemen energi juga dapat dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang terorganisir dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen. Hal tersebut bertujuan agar dapat melakukan konservasi energi, sehingga anggaran energi sebagai salah satu elemen anggaran produksi dan operasi dapat di minimalisir.

Manajemen energi yang efektif dapat memberikan pengaruh yang berantai pada keuntungan perusahaan. Hal ini disebabkan karena manajemen energi yang berhasil dapat menekan anggaran energi dalam mengoperasikan peralatan dan fasilitas, meminimalisir anggaran produksi, dan menekan anggaran maintenance.

Terdapat standar internasional mengenai manajemen energi yang disebut dengan ISO 50001 Energy Management System. ISO merupakan kepanjangan dari International Standard Organization atau organisasi internasional yang didesain menjadi standar. 

ISO menjadi organisasi yang tidak berdiri sendiri sebab merupakan gabungan dari sistem manajemen energi yang sebelumnya sudah diimplementasikan oleh beberapa negara kawasan Uni Eropa. Bahkan negara lain memiliki national energy management standards sendiri seperti negara Denmark, Ireland, Sweden, US, Thailand, dan Korea.

Sejarah Manajemen Energi

Periode yang dimulai dari tahun 1980 hingga 1990 masehi, masyarakat mulai menyadari kemutlakan dari permasalahan mengenai krisis energi. Periode ini juga menjadi pertanda bahwa dunia mulai memasuki era industri yang berdampak besar terhadap permasalahan lingkungan dan peningkatan terhadap harga energi di dunia.

Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh manusia untuk penghematan energi. Penghematan tersebut menjadi salah satu faktor yang penting dalam pembuatan pabrik dan peralatannya. Pengelola industri mulai mempertimbangkan eksistensi energi seiring dengan pengembalian modal.

Sejak tahun 1970 an, manajemen industri telah mendorong manajemen energi sebagai salah satu fungsi industri utama. Sejak saat itu faktor yang menentukan tingkat kualitas manajemen energi melingkupi keberlanjutan lingkungan produksi, kualitas energi, biaya produksi, dan rantai pasok. 

Adapun perkembangan standar untuk aplikasi sistem manajemen energi di Eropa. Dimulai dengan negara pelopor sistem manajemen energi yaitu Demark. 

Kemudian pada tahun 2000, Konfederasi Industri Denmark, Federasi Usaha Kecil dan Menengah Denmark, Danish Energy Agency, dan beberapa perusahaan lain memprakarsai perancangan standar nasional pertama di Denmark.

Selanjutnya pada tahun 2003 di Swedia dan diikuti oleh banyak negara-negara Eropa lainnya untuk merilis suatu standar nasional. Berikutnya pada tahun 2005 di Irlandia, dan pada tahun 2007 diikuti oleh Spanyol.

Keberhasilan dalam menyusun standar nasional ditentukan oleh beberapa hal seperti, partisipasi yang tinggi, konsensus, dan persetujuan semua pihak yang terkait. Hal tersebut diperlukan guna mengembangkan standar yang telah dirancang sebelumnya.

Jenis Manajemen Energi

Dalam bangunan gedung modern terdapat sistem manajemen energi yang dapat menentukan ketersediaan pelayanan di dalam gedung. Terdapat sejumlah fasilitas gedung yang menggunakan konsep energi dalam perancangannya diantaranya seperti keamanan, transportasi, hiburan, pencahayaan, ventilasi, dan pendingin ruangan.

Sistem elektronik dimanfaatkan dalam pengelolaan energi di dalam gedung modern yang dikendalikan secara terpusat. Adapun tujuan dari pemusatan energi yaitu guna menekan penggunaan energi oleh konsumsi gedung namun dengan kualitas kerja yang tetap optimal.

Dalam menetapkan strategi operasional pemeliharaan bangunan gedung dibutuhkan data penggunaan energi. Informasi setiap peralatan yang menggunakan energi dikumpulkan dengan spesifik, khususnya dalam waktu pemakaian dan jumlah energi yang dikonsumsi setiap kali penggunaan.

Manajemen energi yang baik dapat mendukung penghematan penggunaan energi. Begitu pula sebaliknya, manajemen energi yang buruk dapat berdampak pada penurunan produktivitas energi, peningkatan biaya maintenance, serta penurunan kualitas lingkungan dalam gedung.

Integrasi dibutuhkan dalam manajemen energi pada bangunan gedung untuk menyatukan seperti sistem, pengaturan, dan pengawasan. Integrasi sistem terhubung antara sistem pembangkit energi, sistem baterai pusat, sistem penyejuk udara, sistem pencahayaan, serta sistem eskalator dan lift.

Integrasi peraturan terhubung antara pengaturan pencahayaan, sistem kontrol akses, sistem alarm kebakaran, serta sistem pengawasan aktivitas manusia dan keamanan. Selain itu, ada juga suatu sistem pengukuran yang khusus untuk mengumpulkan data penggunaan energi, listrik, dan air.

Adapun hal-hal yang harus tersedia dalam manajemen energi pada bangunan gedung meliputi layanan peringatan, kecenderungan pemakaian energi, catatan, serta profil pengguna dan peran manajemen energi.

Bidang Ilmu Manajemen Energi

Bidang keilmuan dalam manajemen energi merujuk pada beberapa bidang keilmuan yaitu akuntansi, desain, riset operasional, teknologi sistem informasi manajemen, ekonomi dan teknik. Kedua bidang keilmuan tersebut mempengaruhi pengembangan strategi industri di dalam pabrik dan bangunan besar.

Manajemen energi yang terlingkupi dalam pendidikan tradisional mengkaji mengenai termodinamika dan mekanika. Setelah elektronika daya dan teknologi informasi berkembang signifikan, kemudian kajian mengenai manajemen energi dialihkan pada ilmu mengenai termodinamika dan kelistrikan.

Setiap pekerja yang menjadi bagian dari pengelolaan energi akan mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan bidang manajemen energi. Perlu digaris bawahi bahwa manajemen energi bukan merupakan bagian dari kajian ilmu manajemen, melainkan ilmu teknik energi.

Dalam kajian manajemen energi membahas mengenai pengelolaan peralatan atau fasilitas yang membutuhkan penggunaan energi. Selain itu, dalam manajemen energi membahas mengenai dampak ekonomi yang ditimbulkan terhadap perusahaan, organisasi, dan bisnis.

Keberadaan manajemen energi dipengaruhi oleh peningkatan pemakaian energi pada fasilitas-fasilitas yang digunakan selama proses produksi terutama pada bahan bakar dan energi listrik. Selain itu, eksistensi manajemen energi menunjukkan angka peningkatan seiring dengan peningkatan efisiensi dalam penggunaan sistem produksi dan mesin.

Manajemen energi dapat diimplementasikan dalam perusahaan yang bergerak di segala bidang seperti industri, bandara, material, perguruan tinggi, manufaktur, perusahaan transportasi, retail, rumah sakit, hotel, hingga organisasi yang hanya menggunakan gedung komersial untuk menjalankan kegiatannya.

Kegiatan perusahaan atau organisasi menggunakan banyak energi, karena energi yang ada terbatas sehingga perlu untuk melakukan monitoring untuk menekan penggunaan energi dengan cara yang ringkas dan sederhana melalui pelaksanaan manajemen energi.

Menurut Barney (2012) terdapat beberapa tujuan dalam manajemen energi, diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengurangi dampak interupsi dalam persediaan energi.
  2. Membangun komunikasi yang baik mengenai persoalan energi.
  3. Meminimalisir emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas udara.
  4. Meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan pemakaian sehingga dapat menghemat biaya energi.
  5. Maintenance pemantauan yang efektif, pelaporan dan strategi manajemen energi yang bijaksana.
  6. Semua karyawan dapat mengembangkan minat terhadap melalui program manajemen energi.
  7. Membuat penemuan inovasi terbaru yang lebih baik guna meningkatkan output dari investasi energi melalui riset dan pengembangan.

Prosedur Manajemen Energi

Terdapat beberapa prosedur dalam manajemen energi, berikut diantaranya:

1. Pengaliran Energi

Tahap pertama dalam manajemen energi adalah pengaliran energi yang dilalui oleh setiap jenis energi yang telah melalui tahap transformasi energi. Energi memiliki beberapa macam jenis yang digunakan dalam bentuk bahan bakar dan ada pula yang disimpan untuk digunakan dalam kebutuhan dan waktu tertentu.

Sebagian jenis energi lain telah diubah pada saat penyaluran energi berlangsung. Terdapat beberapa jenis perlengkapan dalam tahap pengaliran energi antara lain transformator pada gardu listrik, boiler pada pabrik, serta trigenerasi dan kogenerasi pada pembangkit listrik.

Pengubahan energi tersebut bertujuan untuk menyimpan energi sebelum digunakan oleh pengguna energi. Sebaliknya, ada pula energi yang diubah setelah langsung digunakan. Energi tersebut biasanya didapat dari sumber energi terbarukan misalnya energi angin dan energi surya.

Pengubahan energi juga terjadi pada fasilitas pabrik yang dilakukan untuk mendapatkan bermacam bentuk energi turunan yang sesuai dengan keperluan pengguna akhir. Pemeliharaan dan pemeriksaan efisiensi seluruh instalasi transformasi menjadi aktivitas energi yang paling diutamakan.

Sebagian pengaliran energi juga diberikan untuk memproses dan memfasilitasi pengguna akhir yang terletak dekat dengan lokasi transformasi energi. Selama proses pengaliran energi juga harus mengantisipasi kehilangan energi. Sistem distribusi energi merupakan pihak yang bertanggungjawab dalam tahap pengaliran energi.

2. Penyimpanan Energi

Penyimpanan energi merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh setiap energi yang diubah ke bentuk energi lain sebelum digunakan oleh konsumen energi. Dalam manajemen energi, penyimpanan energi dapat menjadi pendekatan metode untuk menekan anggaran energi dan menyukseskan rantai pasok energi kepada konsumen.

Bagi produsen energi harus melaksanakan eksploitasi peluang pembelian energi dalam jenjang rendah dan mengumpulkan profil permintaan energi. Penyimpanan energi ini biasanya menggunakan pendekatan termal, mekanik, hidro, dan listrik.

3. Audit Energi

Audit energi adalah serangkaian proses untuk mendapatkan dan menganalisis data yang digabungkan dengan kegiatan konservasi energi. Pedoman pengadaan audit energi yaitu harus memiliki tujuan dalam melakukan manajemen energi yang efektif dengan uraian tindakan yang dijelaskan secara detail.

Audit energi meliputi jumlah energi yang digunakan dan aktivitas pencatatan jenis energi di setiap proses manufaktur. Pencatatan jenis energi tersebut dilakukan secara terstruktur dan kontinu. Selama proses menghimpun data energi, pendefinisian dan analisa aktivitas konservasi energi juga dilakukan secara bersamaan.

Dalam pengadaan efisiensi energi langkah pertama yang harus dilakukan adalah kegiatan audit energi. Audit energi dibutuhkan dalam peningkatan efisiensi energi di berbagai industri dan proses teknologi dalam rangka menekan kerugian energi dan penggunaan cadangan energi.

Auditor energi merupakan pelaku audit energi. Beberapa aktivitas yang ada dalam audit energi meliputi survei data sederhana hingga pengujian data yang sudah ada secara detail. Output dari analisa data tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh data baru dengan menggabungkan data lama.

Setelah itu secara khusus melakukan uji coba pabrik. Durasi waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan suatu audit dipengaruhi dari ukuran dan jenis fasilitas pabrik, selain itu dalam pelaksanaannya juga ditentukan berdasarkan tujuannya.

4. Audit Energi Awal

Audit energi awal memiliki beberapa aktivitas diantaranya yaitu survei manajemen energi dan survei energi. Jenis pabrik dan fasilitas merupakan penentu waktu pelaksanaan audit energi awal. Dalam waktu sehari atau beberapa hari, pabrik yang sederhana dapat menyelenggarakan dan menyelesaikan audit energi awal.

Sedangkan, pabrik yang memiliki fasilitas lebih banyak membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pabrik yang sederhana. Dalam survei manajemen energi memiliki beberapa aktivitas.

Aktivitas tersebut antara lain meliputi pengambilan keputusan dalam investasi proyek konservasi energi dan aktivitas dalam memahami manajemen energi yang sedang berlangsung. Sedangkan aktivitas yang ada pada survei energi yaitu pembuatan ulasan mengenai kondisi peralatan dan fasilitas yang telah digunakan oleh pemakai energi.

Hambatan Manajemen Energi

Apabila manajemen energi di maintenance dengan cara yang buruk maka besar kemungkinan disebabkan karena pengelola energi memiliki pengetahuan yang kurang tentang teknik manajemen energi.

Selain itu, hal yang yang dapat memperburuk manajemen energi adalah tradisi yang kurang kuat dalam investasi modal sehingga berdampak pada pemborosan energi. Sementara itu di lain sisi, pabrik dengan fasilitas yang komplek justri menggunakan energi dalam jumlah besar.

Pabrik-pabrik yang besar tersebut kemudian mengadakan penguatan pabrik dengan cara meningkatkan fasilitas proses produksi. Sedangkan, pabrik yang sederhana hanya mengadakan investasi dengan pengembalian modal sesingkat-singkatnya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn