Permintaan Agregat: Pengertian – Faktor yang Mempengaruhi dan Contoh Soalnya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Selain penawaran agregat, ada juga yang disebut dengan permintaan agregat. Sebagaimana telah diketahui bahwa permintaan adalah jumlah barang dan jasa yang diminta atau diinginkan oleh pasar pada tingkat harga dan waktu tertentu. Lantas apakah yang dimaksud dengan permintaan agregat?.

Berikut akan dibahas lebih lengkap mengenai pengertian dan juga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan agregat.

Pengertian Permintaan Agregat

Permintaan agregat atau Aggregate demand adalah jumlah seluruh permintaan barang dan jasa dalam perekonomian suatu negara pada tingkat harga tertentu. Dalam ekonomi terbuka, permintaan agregat terdiri dari permintaan dari empat sektor ekonomi makro, yaitu rumah tangga, bisnis, pemerintah, dan sektor eksternal.

Permintaan agregat juga bisa didefinisikan sebagai jumlah kuantitas barang dan jasa yang ingin dibeli rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah pada tingkat inflasi yang ada. Dengan kata lain, permintaan yang terjadi secara keseluruhan pada suatu negara.

Rumus Permintaan Agregat

Rumus permintaan agregat adalah dengan menggunakan rumus GDP

GDP = Y = AD = C + I + G + NX

C = Konsumsi

I = Investasi

G = Pengeluaran Pemerintah

NX = Ekspor Bersih yaitu Ekspor – Impor (X-M)

Ada 3 alasan mengapa kurva permintaan agregat berbentuk downward sloping atau dari kiri atas ke kanan bawah, yaitu:

  • Efek Pigou atau Wealth Effect
    Dimana ketika tingkat iflasi turun maka nilai uang akan naik, sehingga daya beli mata uang akan naik. Yang terjadi kemudian, konsumen akan merasa “lebih kaya” dan mereka akan menambah pengeluarannya. Sebaliknya, ketika inflasi naik, maka nilai uang akan turun sehingga daya beli konsumen turun dan permintaan pun akan turun.
  • Efek Keynes atau Efek Suku Bunga
    Saat inflasi turun, maka Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga untuk meningkatkan tingkat investasi agar perekonomian lebih berkembang. Peningkatan investasi selanjutnya akan meningkatkan kuantitas dari permintaan agregat.
  • Efek Mundel dan Fleming atau Nilai Tukar Mata Uang (Exchange Rate Effect)
    Ketika inflasi turun, maka Bank Indonesia akan menurunkan Over Night Rate atau suku bunga peminjaman uang antar bank per hari untuk menutupi kekurangan likuiditas di hari itu. Yang terjadi kemudian suku bunga keseluruhan akan ikut turun juga. Ketika suku bunga turun maka suku bunga domestik akan nampak lebih rendah daripada suku bunga di luar negeri. Hal itu akan memicu Net Foreign Investment (NFI) atau invetasi dari luar negeri yang kemudian menyebabkan suplai rupiah akan naik juga dalam pasar nilai tukar mata uang. Ketika suplai naik, maka nilai rupiah akan turun atau terjadi depresiasi rupiah. Akibatnya nilai harga barang dalam negeri akan turun bagi konsumen luar negeri sehingga akan meningkatkan ekspor yang dengan kata lain kuantitas permintaan agregat akan meningkat.

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Agregat

Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan agregat yaitu:

  • Ekspektasi konsumen terhadap pendapatannya di masa depan
    Pada saat konsumen berekspektasi bahwa pendapatannya akan meningkat di masa depan, mereka akan cenderung meningkatkan jumlah konsumsinya. Akibatnya tingkat konsumsi akan meningkat dan kurva AD akan bergeser ke kanan
  • Kekayaan Konsumen
    Ketika nilai kekayaan berupa aset naik, konsumen akan cenderung meningkatkan pengeluaran mereka. Hal ini akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan.
  • Ekspektasi Bisnis
    Pada masa resesi, dunia bisnis akan menunda investasi modal mereka karena ekspektasi yang rendah terhadap profitabilitas di masa depan. Akibatnya permitaan akan menurun. Sebaliknya, saat kondisi ekonomi mengalami ekspansi maka permintaan akan meningkat.
  • Pemanfaatan kapasitas
    Ketika produksi perusahaan mendekati kapasitas penuh, mereka perlu untuk memperluas produksinya. Oleh karena itu, mereka akan berinvestasi dalam modal fisik baru. Peningkatan investasi menggeser kurva ke kanan. Sebaliknya, saat terjadi kelebihan kapasitas produksi maka  perusahaan memiliki sedikit insentif untuk berinvestasi di properti, pabrik, atau peralatan baru.
  • Kebijakan moneter seperti suku bunga dan operasi pasar terbuka
    Kebijakan moneter ekspansif atau longgar akan menyebabkan peningkatan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian yang kemudian akan mendorong turunnya suku bunga. Turunnya suku bunga pada gilirannya akan menaikkan tingkat konsumsi (terutama konsumsi barang kredit) dan tingkat investasi, sehingga akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan.
  • Kebijakan fiskal seperti pengeluaran pemerintah dan pajak
    Pemerintah mampu untuk mempengaruhi permintaan agregat dengan cara mengubah pengeluaran pemerintah dan pajak. Misalnya dengan memotong tarif pajak, maka pengeluaran masyarakat untuk membayar pajak akan berkurang. Akibatnya, uang yang tadinya akan dialokasikan untuk membayar pajak kemungkinan bisa digunakan untuk pembelian barang dan jasa.
  • Kurs
    Depresiasi nilai mata uang domestik akan menyebabkan peningkatan permintaan dari luar negeri sehingga mamicu naiknya nilai ekspor dan sebaliknya akan menurunkan nilai impor. Sedangkan ketikai kurs domestik meningkat, maka akan terjadi penurunan ekspor dan peningkatan impor.
  • Pertumbuhan ekonomi global
    Pertumbuhan ekonomi global akan mendorong lebih banyak permintaan barang dan jasa dari dalam negeri sehingga akan meningkatkan ekspor. Sebaliknya, ketika ekonomi global melemah, ekspor juga akan cenderung tertekan.

Contoh Permintaan Agregat

Diantara contoh permintaan agregat adalah:

  • Total impor kendaraan bermotor Indonesia sepanjang tahun 2019 menunjukkan permintaan agregat akan kendaraan bermotor dari dalam negeri
  • Total ekspor udang Indonesia ke Jepang pada tahun 2020 menunjukkan permintaan agregat akan komoditas udang dari Jepang.

Contoh Kasus Permintaan Agregat

Terjadinya pandemi covid 19 menyebabkan guncangan permintaan dan penawaran bagi perekonomian pada skala global. Pada saat covid mulai merebak di Indonesia, pemerintah mencanangkan PPKM untuk menekan angka penularan covid 19.

Dampak perekonomian karena kebijakan ini sangat besar di rasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pembatasan kegiatan ekonomi, seperti tutupnya pusat perbelanjaan, aktivitas kantor yang  tidak berjalan penuh dan semisalnya tentu saja akan menyebabkan penurunan angka permintaan agregat pada berbagai sektor ekonomi nasional.

Contoh Soal Permintaan Agregat

1. Diketahui disposable income atau tingkat konsumsi dalam suatu negara dalam satu tahun tercatat sebesar 20 Triliun, nilai investasi yang masuk adalah 35 triliun. Adapun pengeluaran yang dibuat oleh pemerintah adalah sebesar 50 triliun. Apabila pendapatan luar negeri negara tersebut adalah sebesar 15 triliun sementara nilai impornya adalah 20 triliun. Maka dengan mengabaikan faktor lainnya, hitunglah total permintaan agregat negara tersebut!

Jawab:

AD atau Y = DI + I + G + (X-M) = 20 + 35 + 50 + (15-20) = 105 – 5 = 100 T

2. Apa pengaruh perubahan pajak penghasilan bagi kurva permintaan agregat suatu negara?

Jawab:

Ketika pajak dikurangi, maka income atau penghasilan masyarakat akan bertambah. Akibatnya tingkat konsumsi akan naik dan kurva bergeser ke kanan.

Sebaliknya, ketika pajak dinaikkan, maka pendapatan akan turun yang menyebabkan turunnya nilai konsumsi. Akibatnya permintaan agregat akan turun dan menggeser kurva AD ke kiri.

3. Jelaskan pengaruh kenaikan tarif impor yang dilakukan pemerintah untuk menekan impor terhadap kurva permintaan agregat!

Jawab:

Kenaikan tarif impor akan menyebabkan harga barang impor meningkat sehingga akan memicu turunnya nilai impor. Akibatnya nilai ekspor bersih negara tersebut akan meningkat sehingga akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn